Archive | EVENT

Ameng

Tags: , , , , , ,

Videotalk Pameran Video Musik Eksperimental Jerman-Indonesia: Catatan Diskusi

Posted on 09 August 2010 by jarakpandang

gambar – Anggun Priambodo, Veronika Kusumaryati dan Indra Ameng: Videotalk, Agustus 2010

Oleh : Ibnu Rizal

Pada hari pembukaan pameran Video Musik Eksperimental Jerman-Indonesia (Ausstellung Experimentelle Deutsch-Indonesische Musivideos) di Goethe Institut Jakarta, 6 Agustus 2010 lalu, sebuah diskusi hangat digelar sebagai pembuka pameran. Videotalk itu berlangsung di tengah sore yang kuyup basah, hujan mengguyur Jakarta dan kemacetan di mana-mana. Tetapi forum kecil dan sederhana di tengah galeri Goethe Institut itu terasa begitu hangat. Seniman video musik Anggun Priambodo serta kurator dan manager kelompok musik White Shoes & The Couples Company, Indra Ameng, hadir sebagai pembicara. Veronika Kusumaryati yang merupakan kurator pameran ini bersama Rizki Lazuardi, ambil bagian selaku moderator. Tulisan ini ingin membagi pembicaraan dan ingatan yang berkembang di sore itu, tentang video musik, tentang industri televisi di Indonesia yang menjadi bebal pasca Reformasi, juga tentang Presiden SBY dan Tante Dian Nitami.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Ilustrasi Sinetron

Tags: , , , ,

OK. Video 2009 : Komedi yang Tidak Lucu

Posted on 28 July 2010 by jarakpandang

Oleh : Ibnu Rizal

“Dengan semangat Ok. Video Comedy, mari kita tertawakan hidup ini… apalagi seni rupa!!”. Begitu judul pernyataan kuratorial festival video biennale Ok. Video tahun ini. Kalimat yang diakhiri dengan dua tanda seru ini bisa saja dilanjutkan dengan tawa terbahak-bahak, dengan diameter mulut selebar telapak tangan, air liur yang muncrat, air mata yang rembes, gigi taring yang meruncing dan gema yang kemudian menjadi bunyi diftong yang parau. Atau bisa juga senyap.

Terlalu banyak hal yang harus ditertawakan dalam hidup ini. Ketika segala hal telah menjadi begitu irasional, kita pun semakin diizinkan untuk segera terpingkal-pingkal. Lantas apalagi yang masih sakral? Jika jawabannya adalah seni rupa maka kita mesti melihat kembali bagaimana cara kita memperlakukan seni rupa. Ketika sebuah galeri tidak ada bedanya dengan bangsal lelang di sebuah pasar ikan yang becek dan amis. Ketika kolom-kolom seni tidak ada bedanya dengan brosur promosi bisnis properti dan otomotif. Dan semua ini masih juga dibikin berbudaya melalui rekayasa perdebatan dan arus wacana yang itu-itu juga. Barangkali berangkat dari keprihatinan ini tema komedi dipilih oleh ruangrupa, selaku penyelenggara, sebagai tema besar penyelenggaraan Ok. Video 2009 yang diselenggarakan dari 28 Juli hingga 9 Agustus di Galeri Nasional Indonesia. Tentu saja banyak pertimbangan lain yang mendasari pemilihan tema ini. Keadaan politik, sosial dan ekonomi dalam negeri tentu saja bisa menjadi alasan yang paling masuk akal.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Morten Dysgaard – The Door of The Law

Tags: , , , , , ,

Ok. Video 2009 : Bukan Pentas Srimulat

Posted on 28 July 2010 by jarakpandang

Oleh : Muhammad Husnil

Menggali komedi melalui video. 86 seniman dari dalam dan luar negeri ikut andil. Tapi, tak ada Tukul Arwana di sana.

Mengenakan kaca mata hitam, seorang seniman menyibakkan celananya hingga betisnya terbuka. Temannya muncul lalu melumuri betis seniman itu dengan gel wax (gel yang digunakan untuk mencabut bulu). Sang seniman meringis; senyumnya tanggung: antara rida dan tidak. Sebentar kemudian ia melepas kacamatanya. Selesai dilumuri gel muncul kertas bertuliskan “Semangat Avant Garde” yang ditempel ke betisnya. Otot lehernya menegang; sedikit menahan nafas. “Aaawww!” teriak si seniman saat temannya mencabut tulisan itu. Tangannya refleks menyeka air mata yang keluar.

Itulah adegan pertama video karya Yusuf Ismail berjudul Natural Born Contemporary Moron (18, 46 menit; 2009). Video itu merupakan satu dari 95 video yang diputar di Galeri Nasional Indonesia untuk perhelatan Ok. Video Jakarta International Video Festival keempat pada 28 Juli -9 Agustus 2009. Dengan mengambil tema Comedy Ruang Rupa selaku penyelenggara membuka pendaftaran dan mengundang sejumlah seniman di dalam dan luar negeri untuk berpartisipasi. Hasilnya, OK. Video 2009 menampilkan 95 karya video dari 31 negara ditambah presentasi khusus dari 3 lembaga, yaitu Goethe Institute, Centre Cultural Français, dan Cologne Off.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Tags: , , , , ,

Toko Keperluan

Posted on 08 June 2010 by jarakpandang

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Oleh : Haris Firdaus*

Dari luar, toko seluas 5 x 4 meter itu tampak sederhana. Dindingnya yang terbuat dari triplek berlapis potongan kayu itu dibiarkan polos, tanpa cat sama sekali. Pintu kaca di depan toko itu terlihat kurang serasi dengan tubuh bangunan. Di samping kanan toko tersebut, tergantung sebuah neon box yang memancarkan cahaya putih.

Berlainan dengan suasana di luar yang kelihatan sederhana, kondisi di dalam toko terasa meriah. Deretan barang aneka macam dipajang dengan warna-warna mencolok. Ada sebuah bola sepak dan lampu badai tergantung di langit-langit, seikat bibit singkong tergeletak di samping pintu masuk, dan sejumlah kaos dan tas tergantung di dinding bagian belakang.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

grid cell topology

Tags: , , , ,

Crash! : Image Factory

Posted on 01 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Ibnu Rizal

Kota dan ruang yang kita tinggali ini, menyuguhkan begitu banyak kegaduhan, kebisingan. Segala gambar dan segala getar terpapar dalam hiruk-pikuk yang begitu cepat.

Setiap hari, imaji-imaji berbenturan di kepala, menari-nari, membelah diri, juga suara dan segala bunyi, meledak, beranak-pinak. Kita saksikan dalam sekotak televisi sebuah acara pidato presiden dapat segera tergantikan dengan jerit-tangis acara reality show, kemudian gelak tawa para penonton menyaksikan acara komedi murahan, kemudian suara ledakan dari sebuah liang kubur yang menganga dan pocong yang bangkit dari dalamnya, kemudian iklan operator selular lokal yang menampilkan band-band yang tengah digandrungi, kemudian pekik khotbah sebuah acara tabligh akbar yang disiarkan secara langsung, kemudian isak tangis para jamaah dalam alunan muhasabah, kemudian iklan kontrasepsi rasa stroberi, kemudian kita mendapati betapa segala imaji, segala bunyi begitu kehilangan kendali.

Crash Project : Image Factory, pameran kolektif 20 seniman muda yang dikuratori oleh Asmudjo Jono Irianto (berlangsung di Galeri SIGIarts, 13-28 Maret 2010), dengan segenap kesadaran para senimannya, memang hendak mereproduksi dan meredefinisi imaji-imaji yang berserakan di ruang-ruang yang kita akrabi.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

DSC01646

Tags: , ,

Dicari (Segera): Kurator Seni Serat

Posted on 30 March 2010 by jarakpandang

“Indonesia belum memiliki kurator seni serat yang kredibel. Perkembangan seni serat lokal masih dinilai stagnan, benarkah pencarian seorang kurator seni serat adalah sebuah urgensi?”

Pada acara pembukaan pameran “Indonesia Contemporary Art” di Galeri Nasional (16 Juni 200) saya berjumpa dengan beberapa teman kuliah dari kampus, salah satunya yaitu Aul. Aul adalah junior saya di program studi kriya tekstil. Pada kesempatan itu kami sempat membicarakan beberapa hal sampai akhirnya ia mengutarakan idenya mengadakan pameran seni serat dengan skala sedang di Bandung. Tentu saja saya cukup antusias mendengar idenya tersebut.

“Ya, ayo lah, Ul! Adain aja kalo gitu.”

“Tapi belum ada kurator yang pas, Mi.”

Belum ada kurator yang pas. Hm…, rasanya jadi ikut bingung.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement