Archive | EVENT

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Tags: , ,

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Posted on 13 August 2012 by jarakpandang

Saya menikmati pameran Top Collection #3 tidak dari permukaan. Melainkan melihatnya secara subtil sebagai alegori, juga refleksi atas perilaku sehari-hari.

Oleh: Natasha Gabriella Tontey*

21 Juli 2012 lalu saya menyempatkan diri hadir di pembukaan pameran fotografi yang diselenggarakan oleh ruangrupa. Ketika memarkir mobil di depan rumah di jalan Tebet Timur Dalam Raya No. 6 itu, alangkah terkejutnya saya disambut mahkluk gaib yang bergelantungan bawah pohon. Mahluk itu seperti mengajak saya menerka-nerka niat apa yang kali ini ingin disuguhkan ruangrupa. Makhluk yang menjadi ‘tambatan hati’ bagi mereka yang ada di malam pembukaan pameran itu hadir sebagai salah satu karya.

Top Collection adalah proyek fotografi yang mewadahi berbagai eksperimentasi dan pewacanaan terhadap praktik fotografi. Sebagaimana dikatakan oleh kurator pameran, Julia Sarisetiati, fotografi kali ini ditinjau sebagai medium penghasil citra yang semakin masif digunakan dalam keseharian untuk berbagai kepentingan. Apapun peristiwanya, dari yang penting hingga yang paling remeh, kini bisa dikonsumsi publik. Kali ini Top Collection masuk pada kali ketiga.

Sejujurnya cukup sulit memahami pameran ini dilihat dari kaca mata penikmat fotografi murni. Yang ingin disampaikan oleh ruangrupa melalui pameran kali ini adalah peranan fotografi yang kian berkembang sebegitu demokratisnya. Ketika kamera yang disebut Oscar Motuloh sebagai ‘jendela pengintai’ (hanya merekam sejauh mata kita memandang dan sejauh mana kita mau memandang) kini tidak berfungsi hanya sebatas itu. Aktivitas fotografi tidak hanya terjadi ketika rana terbuka, film atau sensor menangkap cahaya selama sepersekian detik, kemudian diikuti oleh proses pengolahan gambar. Lebih jauh, aktivitas fotografi juga hadir melalui pengumpulan foto-foto temuan yang diarsipkan, diberi pembacaan, kemudian diperkenalkan kembali sebagai suatu karya. Jelas, tidak ada praktik fotografi konvensional di sini. Alih-alih, inilah metode untuk melihat gejala-gejala fotografis yang berlaku di masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah hilangnya kaidah-kaidah tradisional dari sebuah pameran foto membuat para peserta pameran ini menjadi juru foto? Apakah karya-karya yang ditampilkan di sini adalah karya fotografi?

Fotografi sendiri adalah penemuan penting setelah mesin cetak. Ia adalah salah satu revolusi dalam peradaban. Ia lahir sebagai teknologi yang diciptakan secara jenius untuk memproduksi realitas. Fotografi membekukan dunia secara singkat. Potongan-potongan peristiwa dalam sebuah gambar menjadi bukti atas terjadinya sesuatu. Sekejap fotografi masuk ke media massa. Kehadirannya disambut sebagai inspirasi besar. Sebagai perangkat dokumentasi. Tetapi medium ini terus berkembang lebih dari itu.

Mereka yang hadir di malam pembukaan mungkin ketakutan melihat foto kuntilanak yang dicetak di atas banner berukuran 250 x 80 cm yang digantung di bawah pohon di seberang RURU Gallery itu. Tetapi di saat yang sama kita menikmati rasa kaget itu. Di dalam galeri, karya ini dilanjutkan dengan kumpulan foto yang menangkap sosok hantu secara tak sengaja. Foto-foto mistis yang ditampilkan dalam format slide show pada layar LCD TV ini dilengkapi suara wawancara dengan orang-orang yang pernah terfoto dengan hantu. Inilah karya Reza Mustar berjudul Tampaknya Penampakan. Hantu, sebagai sosok yang dianggap membawa ancaman dan sumber kengerian, menjadi seperti buruan ketika orang berbondong-bondong heboh membicarakannya, bahkan mendokumentasikannya.

Seri Teman-teman Selebriti menceritakan pertemuan Agan Harahap dengan segelintir teman-teman ternamanya yang datang dari berbagai profesi. Di sini Agan memamerkan ‘realitas’ dirinya; mulai dari keakrabannya dengan 50 Cents, Muammar Qadhafi, Hassan Nasrallah, kisah cintanya dengan Sophie Ellis Bextor, Megan Fox, Stoya, hingga kolaborasi musiknya bersama Megawati Soekarnoputri. Foto-foto tersebut tampak nyata dan sangat bagus dari aspek pencahayaan. Mereka yang tidak mengetahui bahwa foto ini adalah karya Agan Harahap tidak akan mengira jika foto ini adalah hasil digital imaging. Di sini Agan secara satir melihat euforia masyarakat yang senang berfoto dengan artis-artis idola dan memamerkannya di linimasa media sosial. Hal ini terlihat dari ‘kesetaraan’ subjek, frame, dan sudut pandang dalam foto-fotonya.

Sejak adanya Facebook sifat kepemilikan foto semakin tidak terkontrol. Siapa saja dapat mengakses foto-foto yang sudah diunggah dan di-tag. Tidak ada larangan karena semua foto yang sudah masuk ke internet adalah milik publik. Reza Afisina mengumpulkan foto-foto performance dirinya serta foto bersama anaknya yang di-tag oleh kerabatnya. Asung menyusun kembali foto-foto itu seperti kolase dan mencetaknya di atas neon box. Terlihat secara sentimentil bahwa Reza Afisina tengah meng-highlight kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, seperti kita meng-highlight posting-an yang ada di Facebook kita masing-masing untuk mendokumentasikan hal-hal kecil yang mungkin mudah terlupakan.

Nissal Nur Afryansyah menyediakan photobooth yang melibatkan pengunjung dalam memproduksi karyanya. Suatu interaksi yang mewadahi kebutuhan beropini dan berekspresi. Dengan webcam kita dapat melihat rekaman diri sendiri. Kita juga dapat menentukan bagaimana kita ingin direkam, kapanpun, di manapun. Terlihat jelas bahwa hadirnya photobooth di tengah ruang pamer secara tidak langsung memancing perilaku asli pengunjung. Di dalam galeri atau ruang pamer, tempat di mana tidak lazim bagi orang untuk berperilaku seenaknya, kebanyakan orang menjaga citra dengan “behave”. Tapi tidak di RURU Gallery di mana pengunjung pameran seketika antusias dan terpancing untuk berfoto-foto seorang diri maupun dengan teman di depan photobooth milik Nissal. Inilah satu-satunya karya dalam pameran ini yang paling erat unsur fotografinya karena masih melibatkan interaksi langsung dengan subjek terfoto (dalam hal ini membuat potret diri sendiri) dan masih memperlihatkan adanya aktivitas memencet tombol shutter.

ruangrupa, dengan segala kebrengsekannya, membawa kita untuk memaknai sebuah dunia baru melalui medium ini. Saya setuju dengan apa yang pernah dikatakan Firman Ichsan dalam suatu bengkel kerja fotografi; bahwa fotografi mempengaruhi pandangan seseorang, mengajak kita masuk ke dalam pemikiran si juru foto, tetapi kita memiliki keterbatasan sekaligus keleluasaan untuk membacanya, baik secara estetis, psikologis, maupun ideologis. Para seniman dalam proyek ini menawarkan pengertian fotografi yang tidak lagi terbatas pada hubungan antara juru foto dan subjek terfoto, bukan pula sekadar apa yang disebut dengan “melukis dengan cahaya”. Top Collection #3 memberikan sebuah definisi baru tentang fotografi. Sebuah pengalaman lain dalam menjelajahi ruang-ruang visual tercetak.

*) Natasha Gabriella Tontey lahir pada 1989. Belajar fotografi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (2007) dan menyelesaikan pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (2007-2011). Berpartisipasi dalam workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual di ruangrupa (2012). Ia pernah terlibat sebagai partisipan di pameran Mata Perempuan (Jakarta Biennale 2011).

Comments (1)

Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

Posted on 04 July 2012 by jarakpandang

Menutup bulan Juni 2012, ruangrupa mengadakan pre-event (showcase) Jakarta 32°C 2012 di RURU Gallery. Jakarta 32°C adalah pameran dua tahunan (bienalle) karya visual mahasiswa Jakarta yang akan memasuki kali kelima pada tahun ini sejak diselenggarakan pertama kali pada 2004. Sebelum memasuki acara utama, ruangrupa bersama Komplotan Jakarta 32°C, selaku pengawas dan penanggungjawab acara ini, memutuskan akan mengadakan beberapa kegiatan ‘pemanasan’ yang salah satunya adalah pameran showcase ini.

Pameran yang akan diadakan hingga tanggal 6 juli 2012 ini menampilkan 10 karya terbaik dari dua penyelenggaraan Pameran Jakarta 32°C sebelumnya, yaitu karya yang berasal dari penyelenggaraan tahun 2008 dan 2010. Syahrul Amami, Daniel R.K. Kampua, Carterpaper, Gilang Merdeka, dan Tigersprong 3 adalah lima terbaik dari tahun 2008. Sedangkan dari tahun 2010 diwakili oleh Dhemas Reviyanto Atmodjo, Ficky Fahreza, Syaiful Ardianto, Angga Cipta, dan Komunitas Pencinta Kertas.

Menurut Indra Ameng, Koordinator Dukungan dan Promosi ruangrupa, bahwa tujuan diadakannya pameran showcase ini adalah sebagai pengingat akan adanya pencapaian estetik yang khas dan kemunculan gagasan-gagasan segar dalam perkembangan terakhir karya-karya visual dari mahasiswa Jakarta. Selain itu acara ini memang sepertinya bertujuan untuk memprovokasi semangat berkarya mahasiswa di Jakarta. Lagi, menurut Ameng, secara pribadi Ia mengharapkan karya-karya baru yang lebih segar dan lebih baik lagi. Karya yang lebih bandel dan lebih eksperimental.[i]

Dari karya yang dipamerkan pada showcase Jakarta 32C kali ini dapat terlihat keberagaman karya yang selalu tampil setiap tahunnya. Mereka, para peserta, selalu menawarkan sebuah sudut pandang baru mengenai kota Jakarta ini. Walaupun kadang ada kesamaan material dan medium yang digunakan, tetap saja memiliki pesan yang jelas berbeda satu sama lain. Hal ini dapat disimak pada dua karya fotografi. Daniel Kampua mengangkat isu mengenai identitas kebudayaan dan pluralisme (‘Petjes’ Identitas Hidupku,2008) sedang Dhemas Reviyanto mengangkat persoalan ironi kehidupan di Jakarta (The Wall, 2010). Kedua karya ini, cukup berhasil untuk menyampaikan pesan yang ingin diangkat, yakni tentang budaya dan kehidupan di Jakarta.

Adapula mereka yang bergelut dengan masalah transportasi. Kemacetan, kurangnya armada transportasi serta semrawutnya pengorganisasian kendaraan umum di Jakarta adalah isu yang masih tetap hangat untuk diangkat dan diketengahkan di dalam ruang pameran. Ficky Fahreza, menanggapi persoalan berlarut – larut yang terjadi pada moda transportasi paling murah di negeri ini, Kereta api. Dalam karyanya (Thousand Talk, 2010) ada sebuah ironi keadaan mengenai buruknya manajemen transportasi kereta api, namun di satu sisi masih merupakan satu – satunya moda angkutan yang paling terjangkau kaum menengah ke bawah.

Dicaci dan Dicari, 2010

Lain halnya dengan Komunitas Pencinta Kertas (KPK), lewat karya bajaj kertasnya (Dicaci dan Dicari, 2010).  KPK seolah ingin mempersoalkan ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan armada transportasi yang layak. Bajaj, di satu sisi kerap dikeluhkan orang sebagai sumber polusi dan macet, belum lagi dengan tingkah laku pengemudi yang suka ‘nyelonong tanpa permisi’. Akan tetapi di sisi lain, kehadiran bajaj masih diperlukan sebagai angkutan umum yang terjangkau dan tersedia 24 jam.

Karya Syahrul Amami (Tambalan, 2008) sedikit banyak mengingatkan pada karya ruang publik dari Handy Hermasyah (Loebang Loebang Djalanan, 2003)[ii]. Pada karya ini Syahrul menggambar bentuk – bentuk seperti tambalan/jahitan pada jalan – jalan aspal ibukota. Persoalan buruknya kualitas jalan yang terjadi di Jakarta, rasanya sudah menjadi makanan sehari – hari warganya. Jalan yang bolong acapkali hanya ditambal seadanya. Asal tertutup. padahal jalan yang tidak rata, terutama pada jalan – jalan protokol bisa menimbulkan bahaya bagi kendaraan yang melintas di atasnya. Syahrul, sama seperti yang dilakukan oleh Handy di Bandung pada 2003, mencoba meningkatkan ‘kesadaran’ para pengendara yang melintas, untuk berhati – hati dan mengurangi kecepatan saat melihat bagian jalan yang ada ‘jahitannya’. Karya ini juga merupakan kritik sosial bagi pemerintah yang dianggap lalai dalam memperhatikan urusan keselamatan warganya. Sedang pada karya Carterpaper (Resign System, 2008), lagi – lagi kurangnya tanggapan pemerintah pada sistem transportasi menjadi sebuah tema yang menarik. Mereka ‘merancang’ ulang serta dengan ‘sukarela’ membuat sign system untuk warga Jakarta: sebuah hal kecil dan sepele yang mungkin terluputkan dari mata pemerintah.

Persoalan budaya Jakarta juga menjadi isu yang banyak diangkat dalam pameran Jakarta 32°C. Karya Tigersprong 3 (Benyamin S: Muke Gile…!,2008) merupakan sebuah karya video selama 15 menit yang membicarakan soal Benyamin Sueb. Seorang seniman multi bakat berdarah Betawi asli. Ada video – video film Benyamin, lagu -lagu yang pernah ia buat dan nyanyikan, serta tanggapan dari beberapa warga Jakarta mengenai sosoknya. Berbeda lagi kasusnya pada Syaiful Ardianto, atau biasa dikenal Jah Ipul. Dia mengangkat sisi negatif dan budaya kriminalitas yang marak terjadi di Jakarta (Welcome to The Trap City, 2010). Sebuah kanvas besar dengan elemen grafis tengkorak berwarna merah, seolah siap menerkam warga Jakarta. Rasa-rasanya karya ini perlu dipasang sebagai banner di samping tugu – tugu selamat datang di seantero Jakarta sebagai pengingat akan bahaya yang selalu mengintai di setiap sudut kota ‘penjebak’ ini.

Karya Angga Cipta (24 Jam Sibuk Jakarta, 2010) tampil seperti sebuah brand kebudayaan urban yang lumrah di Jakarta. Sebagai kota sibuk, pusat perputaran bisnis dan ibu kota negara yang rumit, Jakarta (dan warganya) seolah tidak pernah punya waktu istirahat, sehingga selalu sibuk selama 24 jam. Angga menciptakan beberapa objek dari ‘proyek’ tersebut: ada stiker, wallpaper handphone, wallpaper komputer, dan lainnya. Jenis karya yang sama dapat ditemui pada karya Gilang Merdeka (Magrudergrind, 2008) yang seperti menciptakan sebuah proyek factory outlet (distro) lewat karya-karya ilustrasinya. Budaya distro sendiri sudah menjadi bagian tersendiri dari perkembangan gaya hidup anak muda di Jakarta. Aplikasi yang dibuat oleh Deka, demikian ia biasa disapa, di atas kaos, poster, serta beberapa bentuk interaktif lainnya.

Sepuluh karya tersebut tentunya belum mencerminkan seluruh pandangan mahasiswa Jakarta dalam memandang kota ini. Namun, setidaknya karya-karya ini dapat menjadi tolak ukur mengenai keberagaman berkarya para mahasiswa di Jakarta. Masih ada beberapa event lagi, yang akan diselenggarakan sebagai pra-kondisi Pameran Jakarta 32°C yang kelima. Yang jelas, kegiatan Jakarta 32C ini akan terus berjalan sebagai ajang untuk memperluas jaringan antar satu kampus dengan kampus yang lain, dengan harapan kegiatan kolaborasi antar mahasiswa dapat terus terjadi.[iii]

Selamat Mengapresiasi!

Leonhard Bartolomeus*

*) Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

 


[i]    Katalog Pre-Event Jakarta 32°C 2012, Indra Ameng, 2012.

[ii]   Informasi lebih lanjut mengenai Handy dan karyanya dapat dilihat di http://archive.ivaa-online.org/archive/artworks/detail/4178/Artist/231

[iii]   Katalog Pre-Event Jakarta 32°C 2012,  M. Sigit Budi S. 2012

Comments Off on Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

PENGUMUMAN PESERTA TERPILIH “WORKSHOP PENULISAN SENI RUPA DAN BUDAYA VISUAL” RUANGRUPA 2012

Tags: , ,

PENGUMUMAN PESERTA TERPILIH “WORKSHOP PENULISAN SENI RUPA DAN BUDAYA VISUAL” RUANGRUPA 2012

Posted on 16 June 2012 by jarakpandang

Berikut adalah nama-nama peserta yang terpilih untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2012.

  1. Robin Hartanto (JKT)
  2. Kadek Susanta (DPS)
  3. Michan Lestari (YK)
  4. Ayomi Amindoni (JKT)
  5. Angga Wijaya (JKT)
  6. Okky Madasari (JKT)
  7. Desy Budi Utami (JKT)
  8. Insan Praditya (JKT)
  9. Erry Araham (KL)
  10. Ellena Ekarehendy (JKT)
  11. Dhani Adisiwoyo (JMR)
  12. Natasha Gabriella Tontey (JKT)
  13. Tasya Anindita (JKT)

Comments (0)

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa 2012

Tags: , , ,

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa 2012

Posted on 15 May 2012 by jarakpandang

ruangrupa kembali membuka pendaftaran untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual, setelah sebelumnya diadakan sejak tahun 2008. Workshop ini ditujukan kepada penulis muda yang memiliki minat terhadap seni rupa maupun budaya visual secara umum. Peserta workshop akan diseleksi berdasarkan tulisan-tulisan awal yang dikirimkan ke ruangrupa beserta syarat pendaftaran lainnya. Hasil akhir workshop ini berupa tulisan masing-masing peserta akan dimuat di sebuah situs berisikan tulisan-tulisan tentang seni rupa dan budaya visual, jarakpandang.net. Situs tersebut adalah media berkelanjutan dan dapat berkembang terus dimana para peserta workshop menjadi kontributor.

Workshop ini akan diisi dengan materi-materi yang berkaitan dengan seni rupa dan budaya visual secara umum serta kaitannya dengan isu-isu sosial dan politik, antara lain: Pengantar Penulisan Kritik Seni Rupa Kontemporer, Budaya Visual Kota dan Seni Rupa Publik, Penulisan Kritik Video dan Film, Pendekatan Referensial dalam Penelitian dan Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Kontemporer, Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual di Media Massa Umum dan Media Alternatif, Artist Talk, Konteks Sosial dan Politik dalam Penulisan Budaya Visual, dan Kuliah Umum.

Workshop ini akan diadakan di ruangrupa, Jakarta, 18 Juni – 29 Juni 2012.

 

Persyaratan pendaftaran:
1. Usia peserta antara 19 – 30 tahun
2. Mengirimkan contoh tulisan (minimal 2 karya tulisan, bisa berupa esai, reportase, ulasan, laporan perjalanan dan lain-lain)
3. Mengirimkan CV
4. Pendaftar memiliki minat terhadap seni rupa atau budaya visual dan kaitannya dengan isu-isu sosial atau politik
5. Pendaftar yang terpilih membayar biaya workshop sebesar Rp. 300.000,-

Kirimkan data-data persyaratan di atas ke: info@ruangrupa.org atau via pos ke ruangrupa, Jl. Tebet Timur Dalam Raya no.6, Jakarta 12820 selambat-lambatnya 10 Juni 2012.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi ruangrupa di:
Telepon : (021) 830 4220
Situs : www.ruangrupa.org
Facebook : Jarak Pandang
Twitter : @jarakpandang

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2012:
Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajar Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung.
Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon dan Pemimpin Umum Majalah Bung! ruangrupa.
Hafiz, Koordinator Pengembangan Seni Video ruangrupa dan Direktur Forum Lenteng.
Jemi Irwansyah, Pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia dan Peneliti di Pusat Kajian Politik UI.
Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.
Hilmar Farid, Pengajar Kajian Budaya di Universitas Indonesia dan kandidat PhD di National University of Singapore.

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2008-2011:
Agung Hujatnikajennong, Kritikus Seni dan Kurator, mengajar Seni Rupa di Institut Tekhnologi Bandung.
Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajarsSeni rupa di Institut Tekhnologi Bandung.
Antariksa, Peneliti dan Program Manager Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta.
Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon ruangrupa.
Aryo Danusiri, Pembuat film dokumenter dan kandidat PhD bidang antropologi visual di Harvard University.
Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan Bandung.
Bambang Sulistyo, Jurnalis Desk Seni dan Budaya Majalah GATRA.
Eric Sasono, Kritikus film, pendiri dan pengelola rumahfilm.org.
Farah Wardani, Kritikus Seni, Kurator dan Direktur Indonesian Visual Art Archive.
Hikmat Darmawan, Pengamat Budaya Visual dan Redaktur rumahfilm.org.
Ika Vantiani, Penulis dan banyak terlibat dalam pembuatan media massa non-mainstream.
Irwan Ahmett, Seniman dan Graphic Designer.
Iswanto Hartono, Seniman dan Arsitek.
JJ. Rizal, Sejarawan dan direktur penerbit Komunitas Bambu.
Prof. Dr. Melani Budianta, MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Prof. Dr. PM. Laksono, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada.
Prima Rusdi, Penulis Skenario dan Penggiat Film Indonesia.
Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.
Ugoran Prasad, Penulis prosa dan kritik seni pertunjukan, aktif di Teater Garasi dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Dr. Yasraf Amir Piliang, Pengamat budaya massa dan pengajar di Institut Tekhnologi Bandung.

Testimoni Peserta Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual 2008-2011:

Tiga hal yang saya dapat dari workshop ini: peluang mencintai seni rupa seperti saya mencintai Fisika dan Ilmu Politik, penghargaan pada rasa, dan sentuhan paling romantis dari segala jenis pendidikan: kekeluargaan.
– Arys Aditya, (Jember), Penulis lepas dan pengelola studi politik Rumah Baca Tikungan, Peserta Angkatan 2011.

Pembicaranya berasal dari berbagai macam bidang dan berpengalaman. Yang paling penting, saya berkesempatan terhubung dengan banyak orang unik dari beragam latar belakang. Jadi bersiaplah untuk dua minggu yang penuh gizi.
– Ibnu Nadzir (Jakarta), Peneliti PMB-LIPI, Jakarta, Peserta Angkatan 2011.

Kalau ada lagu yang cocok untuk momen workshop ruru, kayaknya “Lihat Kebunku”. Soalnya penuh dengan bunga, setiap hari kusiram semua, dan semuanya indah. Orang-orang di Ruru baik-baik dan lucu-lucu, lagi. Jadinya senang.
– Ardea Rhema Sikah (Bandung), Penulis dan pengasuh blog www.salamatahari.com, Peserta Angkatan 2011.

Saya merasa sebagai salah satu kelinci yang lolos dari percobaan workshop ini. Sekarang saya punya jarak yang cukup untuk memandang dunia seni rupa dan budaya visual kita.
– Grace Samboh (Yogyakarta), Penulis dan kurator seni rupa. Peserta Angkatan 2008.

Menyenangkan bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang pengalaman kesenian dan profesi untuk berbagi kegilaan.
– Mansyur Rahim (Makassar), Field Facilitator JICA Prima Kesehatan, aktif di Tanahindie dan Kampung Buku Makassar sebagai penulis dan peneliti. Peserta Angkatan 2008

Mengikuti workshop ini adalah pengalaman lintas disiplin yang mendebarkan tapi asyik. Saya menjadi berani menjelajahi tema-tema baru dalam menulis.
– Haris Firdaus (Solo), Jurnalis Majalah Gatra, Peserta Angkatan 2009.

Seni rupa dan budaya visual adalah ranah yang menjanjikan untuk dikaji lebih jauh oleh intelektual muda Indonesia. Workshop ini adalah salah satu kesempatan yang sangat langka karena tidak banyak diadakan.
– Ibnu Rizal (Depok), Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009.

Dua minggu yang paling solid dalam hidup gue. Pulang-pulang, IQ dan berat badan gue meningkat dari sebelumnya.
– Nastasha Abigail (Jakarta), Penyiar Trax FM Jakarta, Peserta Angkatan 2010.

Ada tiga hal yang membuat kita pintar menulis artikel senirupa dan budaya visual yaitu: rajin bertanya, banyak membaca dan tidur-tiduran di workshop ini.
– Christine Franciska (Jakarta), Jurnalis Bisnis Indonesia, Peserta Angkatan 2010.

Comments (0)

Seni Grafis Yang Demokratis

Tags: , ,

Seni Grafis Yang Demokratis

Posted on 15 May 2012 by jarakpandang

Seorang ibu membawa anak dalam pangkuan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain memegang tangan anak lainnya. Ibu itu menuju sebuah gerbang. Tepat di depan gerbang, belasan orang berkumpul, ada yang mengacungkan tangan, mebawa batu. Sebagian lagi menggenggam jeruji pagar tepat di depannya. Itulah sedikit gambaran mengenai karya Käthe Kollwitz dengan judul Storming the Gates, dibuat dengan teknik intaglio pada tahun 1897. Karya ini merupakan salah satu dari beberapa karya-karya klasik seniman grafis koleksi sang kurator, Tony Godfrey, dalam pameran seni grafis bertajuk Here and There, Now and Then yang terselenggara di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, 15 Maret – 15 April 2012 silam.  Karya-karya old master prints –dalam kalimat Godfrey– seperti Los Chinchillas, seri ke 50 dari karya berseri Francisco Goya yang sangat termasyur, Los Caprichos [1] ditampikan dalam pameran ini beserta karya-karya dari perupa Yogyakarta. Serta seniman di luar kota ini seperti Tisna Sanjaya –karena komitmennya yang kuat kepada Seni Grafis– serta FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini.

Hampir semua karya yang dipamerkan Here and There, Now and Then dicetak di atas kertas, dengan teknik dasar Intaglio. [2] Sedikit diantaranya menggunakan taknik cetak tinggi. Dalam catatan kuratorialnya, sebelum pameran ini diselenggarakan, Tony Godfrey sempat bertanya kepada beberapa seniman yang ia kenal di Jogja: apakah mereka pernah melihat karya-karya old master prints selain di dalam buku? Jawaban mereka adalah “tidak”. Setelahnya, ia membawa 180 karya-karya tersebut untuk mereka lihat secara langsung. Ia juga mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini berawal dari ketertarikannya melihat fakta bahwa: diatara seniman-seniman Jogja terdapat banyak diantaranya menempuh pendidikan dalam bidang seni grafis. Meskipun, kemudian beberapa diantaranya tidak kita kenal sebagai seniman yang intens berkarya dengan teknik cetak seni grafis.

Bisa diambil contoh ialah Ade Darmawan, saat ini ia lebih dikenal sebagai seniman conceptual art, karya-karyanya meliputi video dan obyek temuan. Bagaimana Menjadi Kaya, ialah judul karya Ade Darmawan dalam pameran ini. Dengan teknik cetak dalam (Intaglio), yaitu Etsa dan Aquatint, karya ini menampilkan gambaran tangan-tangan yang saling terhubung satu sama lain, dicetak dengan tinta hitam di atas kertas berwarna putih. Sebagian gambaran tangan dalam karya ini memegang kain yang juga mengeluarkan tangan. Lainnya memegang buku bahkan menjadi pijakan obyek orang pada dua telapak tangan. Ada keterkaitan diantara tangan-tangan tersebut. Bagaimana Menjadi Kaya dengan jelas menggambarkan prosesnya. Proses menjadi kaya, terkadang bisa didapatkan dengan instan, seperti tangan pesulap yang mengeluarkan benda dibalik kain penutup.

Selain itu, hasil cetakan yang gagal, yang dianggap tidak maksimal oleh pencetaknya, juga ditampilkan pada salah satu bagian tembok, tanpa bingkai. Hal ini memperlihatkan proses cetak setiap karya yang ditampilkan, bagaimana sebuah karya seni grafis tidak terhindar dari keterikatan teknik cetak itu sendiri. Hasil cetakan yang gagal biasanya berupa tinta yang tidak tercetak maksimal atau bergesernya bidang pelat yang menjadi matrix, sehingga imaji yang tercetak di kertas juga ikut bergeser.

***

Pada umumnya, karya-karya old master prints dicetak dengan jumlah edisi yang sangat banyak, bisa mencapai ratusan. Hal sedikit berbeda dengan di Indonesia dewasa ini. Dalam ketiadaan pasar seni grafis yang kuat di Indonesia, banyak diantara seniman grafis di Indonesia membuat karya grafis dengan meminimalisir jumlah edisi yang mereka cetak. Bahkan, banyak diataranya dicetak dalam jumlah satu edisi, di atas kain kanvas, dengan ukuran yang relatif besar untuk ukuran sebuah karya cetak seni grafis. Untuk orang-orang yang telah terbiasa mengamati karya-karya old master prints, ini merupakan hal yang samasekali absurd. Karena biasanya mereka melihat sebuah karya grafis dicetak dalam kisaran jumlah ratusan edisi. Bahkan para seniman grafis di Eropa dewasa ini, normalnya mencetak sebuah karya dengan jumlah edisi yang melebihi angka 50. Karena karya seni grafis secara spesifik diciptakan untuk menghasilkan karya dengan jumlah banyak.

Asumsi saya ialah, sedikit banyak hal ini memang berkaitan dengan kondisi pasar seperti yang telah disebutkan sebelumya. Sebuah karya seni grafis, jika semakin banyak memiliki edisi, tentu memiliki harga yang relatif lebih rendah sesuai dengan semakin banyaknya jumlah karya tersebut. Sangat wajar jika seseorang dengan pendapatan kelas menengah seperti Godfrey memiliki uang yang cukup untuk membeli karya-karya dari Francisco Goya dan Tiepolo, tapi tidak untuk karya Agus Suwage.[3]

Memang, hal ini adalah masalah klasik dalam seni grafis di Indonesia –selain kekhawatiran daya tahan kualitas kertas di Indonesia, yang telah menjadi rahasia umum. Untuk masalah terakhir, beberapa seniman mulai mengatasinya dengan menggunakan material kertas impor dengan kualitas tinggi. Seperti Tisna Sanjaya yang kerap menggunakan kertas Hahnemühle untuk setiap karya intaglio-nya. Kertas asal Jerman ini, selain memiliki kualitas sangat baik, dilengkapi dengan sertifikat keotentikannya pada setiap lembar kertas, serta ketahanan yang bisa mencapai lebih dari 100 tahun. [4] Selain itu, seniman asal Yogyakarta Bayu Widodo baru-baru ini menggunakan kertas Fabriano buatan Italia untuk beberapa karya screen printing, dalam pameran tunggalnya di Galeri ber.seni, Jakarta, 22 April hingga 20 Mei 2012. [5]

Masih menyoal kertas, sebenarnya di Indonesia sendiri terdapat beberapa kertas dengan kualitas cukup baik. Tinggal bagaimana kita memastikan perawatan terhadap kualitas kertas itu tetap diperhatikan. Karena, selain karya dengan material kanvas, di Indonesia sendiri terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa restorasi kertas. [6] Dalam perbincangan dengan Bambang Budjono beberapa waktu lalu di Fakultas Seni Rupa Insitiut Kesenian Jakarta, saya mendapatkan informasi jika di Balai Konservasi Jakarta terdapat tempat restorasi karya seni, termasuk kertas. Selain juga terdapat di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).[7] Tempat lain yang menyediakan jasa ini, ialah juga terdapat di Perpustakaan Nasional Indonesia, serta beberapa galeri swasta di Jakarta. Sangat menarik jika para seniman di Indonesia mulai memikirkan bagaimana mencari penyelesaian-penyelesain masalah seperti ini, bukan hanya seniman grafis, tapi seniman pengguna material kertas lainnya. Seperti seniman yang intens dengan teknik drawing di atas kertas.

Jika kita melihat jauh ke belakang, seni grafis sejak awal kemunculannya memang identik dengan jumlah karya yang relatif banyak, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan edisi. Karya-karya dengan menggunakan teknik seni grafis kerap ditemukan dalam ilustrasi buku-buku, dengan teknik cetak Intaglio; serta pada poster-poster dengan dominasi teknik Litografi. Sifatnya yang bisa digandakan seharusnya dapat dilihat sebagai kelebihan, bukan sebaliknya. Sifat reproduktifitas seni grafis ini tidak bisa disamakan dengan reproduksi. Resolusi International Congress of Plactic 1960 yang masih dipakai sampai sekarang, menerangkan bahwa karya seni grafis pada prinsipnya adalah karya orisinal dengan pertimbangan kerja tangan seniman berlaku di atas pelat cetak dan hasil cetakannya disetujui oleh seniman. Dalam seni grafis, setiap edisi memiliki nilai orisinal yang dijamin melalui pembubuhan tanda tangan seniman pada setiap hasil cetakan serta nomor urut cetakan. [8] Dengan ini, semestinya permasalahan mengenai orisinalitas karya sudah selayaknya ditinggalkan. Para pelaku ataupun penikmat karya seni grafis sudah seharusnya memahami bahwa ada prosedur dan standar konvensi dalam seni grafis seperti pencantuman nomor edisi termasuk artist proof dan test print, yang berlaku global dan tidak mengurangi nilai orisinalitasnya. Barangkali, dalam hemat saya, semangat yang harus dikedepankan dalam hal ini ialah, meminjam kalimat Luis Camnitzer –seorang professor dan seniman grafis kelahiran uruguay­: ini adalah bagian dari upaya demokratisasi seni.

Dalam pameran ini, upaya bermain-main dengan konvensi seni grafis, keliru kiranya jika dilihat sebagai sebuah rigiditas dalam berkarya dengan teknik cetak seni grafis. Sebaliknya, adanya penyegaran ketika kita diperlihatkan kepada karya seni grafis yang tidak berusaha mendekati pendekatan seni lukis pada umumnya –seperti kerap kali terlihat dalam karya-karya seni grafis di Indonesia dewasa ini: berukuran besar, dengan media kanvas dan dicetak dalam satu edisi. Dalam Here and There, Now and Then, ada semacam penolakan halus melalui bisikan yang riuh rendah, terhadap komodifikasi seni –utamanya dalam seni grafis– yang perlahan mengikis kedemokratisan pada setiap karyanya.

–Asep Topan, Mei 2012.

 

__________________

Catatan Kaki:

[1]Los Caprichos adalah 80 seri karya cetak aquatint dibuat oleh seniman asal Spanyol Francisco Jose de Goya yang dibuat pada kurun waktu 1797 sampai 1798. Karya-karya ini mengkritisi kondisi sosial masyarakat spanyol waktu itu, meliputi dominasi takhayul, ketidakmampuan penguasa, penurunan rasionalitas, dll.

[2] Intaglio adalah teknik cetak dalam seni grafis yang biasa juga disebut sebagai Cetak Dalam. Biasanya pelat tembaga atau seng digunakan sebagai bahan acuan utama, dan permukaan cetak dibentuk dengan teknik etsa, aquatint, engraving, drypoint, atau mezzotint.

[3] Godfrey, Here and There, Now and Then (2012) hlm. 1

[4] Lebih lengkap, bisa dilihat dalam situs resminya: http://www.hahnemuehle.com/site/en/169/home.html

[5] Lihat: http://www.berseni.com/event/bayu-widodo/

[6] Berasal dari istilah dalam bahasa Inggris: restoration. Untuk proses perbaikan sebuah karya seni. (restoration: the process of repairing or renovating a building, work of art, vehicle, etc., so as to restore it to its original condition, New Oxford American Dictionary, 2009)

[7] Bambang Budjono, pembicaraan pribadi, 2012. (Lebih lengkap mengenai restorasi di ANRI dapat dilihat dalam tautan ini: http://www.anri.go.id/4dm1n/data/artikel_data/0405279a865230ac0d51cc8c62a2d9d4.pdf

[8] Aminudin TH Siregar, Catatan Dewan Juri Trienal Seni Grafis II – 2009,  Menuju Perspektif Baru Seni Grafis Kita (Jakarta: Bentara Budaya Jakarta, 2009) hlm. 8.

Comments (0)

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Tags: , , ,

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Posted on 12 April 2012 by jarakpandang

RURU Gallery mengawali rangkaian pameran reguler di tahun 2012 dengan mengundang sejumlah seniman muda, baik kolektif maupun individual, yang intens menggunakan merchandise sebagai medium. Dikuratori oleh Popo, street artist yang juga banyak memproduksi merchandise, didampingi Sigit Budi selaku kordinator program, TANDA MATA merayakan ekspresi artistik lewat benda yang dapat digunakan dalam keseharian.

Merchandise dipahami sebagai produk massal yang digunakan dalam aktivitas komersial. Google translate mengartikannya dengan “barang dagangan”. Kita ingat bagaimana NBA pernah mengeluarkan gantungan kunci dan seri kartu, paket mainan Happy Meal dari McDonald’s, payung-payung berlogo perusahaan, produk-produk resmi perhelatan olahraga seperti Piala Dunia dan Olimpiade, partai-partai politik dengan segala atributnya, hingga Majelis Rasulullah yang mencetak jaket bagi anggotanya.

Merchandise digunakan oleh berbagai institusi dan kelompok sebagai sarana promosi, distribusi identitas, sekaligus pernyataan eksistensi. Di sisi lain ia juga dilihat sebagai cinderamata, karena pada dirinya tersimpan identitas atas sesuatu. Katakanlah sebuah tempat; sajadah atau tasbih dari tanah suci, kaos I Love NY dari New York, talas dari Bogor, atau penanda sebuah peristiwa; pertunjukan, konser, dan sebagainya.

Pameran ini memperlihatkan aspek ekonomi dari sebuah benda seni. Bahkan lebih luas lagi, dalam aktivitas produksi seni rupa. TANDA MATA menggarisbawahi kenyataan bahwa produk seni rupa adalah barang dagangan (merchandise) itu sendiri. Ia diperjual-belikan, dikoleksi, seperti seorang fanatik mengoleksi kaos Hard Rock Cafe dari berbagai kota di dunia. Sebagai produk, benda-benda seni adalah investasi dan komoditas. Pada karyanya, seniman memberi nilai (signature) sehingga jadi berharga. Dalam konteks transaksi, maka sebuah lukisan tidak lagi berbeda dari kaos bersablon grup Kangen Band. Atau sebuah karya video tidak jauh berbeda dari VCD bajakan di pedagang kaki lima. Project ini mengundang para seniman yang berkarya dengan kesadaran tersebut.

Seluruh karya dalam pameran ini adalah objek-objek yang dapat digunakan dalam keseharian. Mulai dari kaos, singlet, gantungan kunci, mainan, pajangan, tas, bingkai, kartu pos, jam, toples obat, hingga poster. Ika Vantiani memperlihatkan konsistensinya dalam mengusung teknik kolase yang hadir lewat berbagai benda bermotif cantik. Jah Ipul aka Syaiful Ardianto juga menggunakan kolase pada karya cetaknya. Ipul memungut berbagai rujukan grafis, mulai dari ilustrasi buku tafsir mimpi, drawing pada sampul majalah Hidayah, hingga potongan komik Siksa Neraka.

Kiswinar bersama KPK (Komunitas Pecinta Kertas) menyulap kertas-kertas bekas menjadi berbagai benda menarik. Mulai dari kursi, topeng harimau, hingga sosok kuntilanak Jepang yang keluar dari layar televisi. Pemanfaatan benda-benda yang tidak terpakai juga dilakukan oleh Recycle Experience. Di tangan mereka, berbagai benda sehari-hari menjadi sesuatu yang lain dan menawarkan makna visual baru.

Cubatees menarik perhatian dengan visual yang sangat menggelitik pada kaos-kaosnya. Dengan melakukan jukstaposisi kata dan visual, karya-karya mereka menyodorkan humor yang ganjil. Gardu House menyediakan pakaian bersablon khusus bagi para peminat dan pelaku street art. PALU (Paguyuban Lapak Urban) menampilkan berbagai karya grafis dengan kualitas teknik cetak manual yang sangat baik. Sementara Kamengski hadir dengan kontur visual berdarah-darah dalam warna yang terang. Label desain ini juga menawarkan seri kartu pos, komik, buku saku, dan tempat kapsul.

Cubatees mencuri perhatian dengan strategi presentasi yang menarik. Lewat instalasi berupa sofa, kulkas, dan televisi, mereka menghadirkan sebuah kamar di mana terserak keping-keping VCD karaoke dangdut bajakan. Kaos-kaos tergeletak pada sofa atau digantung di dinding, bersama foto-foto wajah orang tak dikenal. Instalasi ruang menyatu dengan gagasan pada kaos-kaos Cubatees, yang memang menyuguhkan humor mentah dan berbahaya. Mengingatkan kita pada logika humor dalam seri komik oomleo.

TANDA MATA: Jakarta Merchandise Project berlangsung hingga 14 April 2012. Pada hari penutupan, akan diselenggarakan bazaar di mana para seniman dan pembeli saling bermain harga.

Ibnu Rizal

Comments (0)

Rupa Belanja, Rupa Kota: Sebuah Cerminan

Tags: , ,

Rupa Belanja, Rupa Kota: Sebuah Cerminan

Posted on 05 February 2012 by jarakpandang


Rupa Belanja, Rupa Kota, merupakan pameran seni rupa yang di ikuti oleh seniman dari tiga kota berbeda: Jakarta, Bandung serta Yogyakarta. Irwan Ahmett mewakili Ibu kota dalam pameran ini, sedangkan indieguerillas adalah kelompok seniman yang terdiri dari Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Lancur Bawono, berasal dari Yogyakarta juga memamerkan karyanya bersama satu lainnya, Wiyoga Muhardanto yang berasal dari kota Bandung. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement