Archive | EVENT

Catatan Hari II:  Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari II: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 19 June 2013 by jarakpandang

photo H2

Ada dua acara yang dijadwalkan untuk hari ke-2 workshop ini: mengunjungi pameran seni rupa dan penyampaian materi oleh pembicara. Pameran yang dikunjungi adalah pameran “Jalan Gambar” S. Teddy Darmawan di Galeri Salihara, Pasar Minggu.  Pameran ini cukup menarik, karena sang seniman menawarkan eksplorasi lain dari drawing. Pada acara kedua, Agung Hujatnikajennong berhalangan hadir sehingga materi “Penulisan Kritik Seni Rupa” diganti oleh presentasi dari ruangrupa.

Diwakili oleh Reza Afisina, biasa disapa Asung, ruangrupa menceritakan perjalanan mereka yang dimulai sejak tahun 2000 di Jakarta. Dengan dokumentasi yang memadai dan runut serta penuturan Asung yang bersemangat, presentasi sejarah ruangrupa menjadi menarik dan memancing pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta. Acara-acara yang digiatkan oleh ruangrupa cakupannya luas, seperti pameran, festival, laboraturium seni rupa, penelitian dan penerbitan jurnal. Kolaborasi dan saling membuka kesempatan tampaknya membuat ruangrupa dapat bertahan dan aktual. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki jaringan di dalam dan di luar negeri.

Banyak yang bisa dicatat dari perjalanan ruangrupa selama sepuluh tahun lebih. Saya jadi teringat betapa bahasan mengenai alternative space selalu seru diperbincangkan melalui kuliah sosiologi seni di kampus, namun mendengar langsung dari para penggeraknya, ternyata lebih seru lagi. Kepedulian ruangrupa pada permasalahan ‘ruang’ dan ‘urban’ mungkin menjadikannya berbeda dengan alternative space lain yang ada. Isu-isu yang direalisasikan dalam program ruangrupa mungkin bisa ditemukan kemiripannya dengan program dari art space atau komunitas lain, namun intensitas masing-masing art space dalam mengusung misi merekalah yang memberikan variasi.

Isu dan program tersebut bertujuan untuk berkomunikasi dengan publik dan mengintervensinya. Misal dalam proyek mural yang digarap ruangrupa pada era 2000-an awal di bawah layang-layang jalan, bukan hanya elemen estetis saja, tetapi memiliki pesan. Intervensi ruang publik melalui mural ini tidak hanya menyentil publik, tapi juga menyentil aparatur keamanan, yang saat itu masih belum jelas regulasinya mengenai seni di ruang publik.

Program-program yang mereka garap bahkan lebih kompleks dan bergaung dari program yang ada di galeri atau museum. ruangrupa dapat sangat kontemporer- kekinian-nyeleneh dengan gagasan dan visual mereka; namun juga menjadi anti thesis terhadap infrastruktur seni rupa yang baku; sekaligus berinisiatif fluxus sebagai alternative space. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki karakter yang organik.

ruangrupa pun secara diplomatis menempatkan dirinya pada medan sosial seni rupa, melalui ruru gallery yang dihadirkan untuk menjawab tantangan art market. Menarik akan apa yang disampaikan Asung, bahwa galeri adalah ruang presentasi, tak sebatas ruang pamer saja.

Diskusi pun makin memanas ketika hari bertambah sore dan piring-piring berisi kudapan disajikan. Sebelum acara hari itu usai, para peserta dibagikan salinan bahasan mengenai ruangrupa yang dimuat dalam jurnal luar negeri.

*) Maria Josephina

Comments (0)

Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 18 June 2013 by jarakpandang

photo

Determinasi lingkungan boleh jadi yang menyebabkan sebagian besar kemalasan dan sikap santai masyarakat Indonesia yang berada dibawah iklim tropis. Seperti yang ‘sudah biasa’ terjadi pada acara-acara yang dilaksanakan di Indonesia, begitu pula pertemuan pertama Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual  2013 yang diadakan ruangrupa, di kota Jakarta yang nampaknya sudah sangat overload, keterlambatan menjadi hal yang dimaklumi. Waktu yang sudah ditentukan pada jam 10.00 WIB mundur hingga hampir satu setengah jam.

Tahun 2013 adalah tahun ke-6 diselenggarakannya workshop penulisan yang selalu diikuti dari berbagai penjuru Indonesia, tahun ini sendiri terdapat tiga pendaftar dari luar Jakarta yang diterima; Saya (Ahadi Bintang) dari Yogyakarta, Anggraini Herman dari Makassar, dan Ryan Sheehan Nababan dari Sukoharjo yang mengabarkan tidak bisa mengikuti workshop karena berhalangan. Dua di antara sepuluh peserta lainnya juga tidak datang, sehingga hari pertama hanya dihadiri delapan orang. Waktu yang mundur dari jadwal kami manfaatkan untuk  berkenalan dan ngobrol.

Terdapat hal yang cukup unik dari komposisi peserta workshop ini, ternyata ada dua peserta yang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup kontras dengan seni rupa, yaitu Anggraini Herman yang baru saja lulus dari Jurusan Fisika, dan Hardiat Dani Satria, seorang mahasiswa Jurusan Kriminologi. Dengan latar belakang pendidikan yang beragam, hampir semuanya memiliki ekspektasi yang berbeda juga ketika mengikuti workshop ini, ada yang memang ingin menjadi jurnalis, membantu penulisan skripsi, atau ingin mencari pengalaman tentang seni (rupa) dan penulisannya lebih jauh.

Acara dimulai dengan perkenalan (kembali) secara formal yang dibuka oleh koordinator workshop yaitu Mirwan Andan dan Asep Topan yang juga alumni workshop penulisan tahun 2011. Setelah makan siang, kami disuguhkan dengan presentasi kegiatan-kegiatan ruangrupa yang sudah berdiri sejak tahun 2000, tentunya juga tentang Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual. Mirwan Andan menceritakan baik-buruk serta lebih-kurang dari workshop ini, setelah enam kali diadakan. Kebanyakan memang alumninya menjadi intens menulis.

*) Ahadi Bintang Mulyawan

Comments Off on Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Pengumuman Peserta Terpilih “Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual” Ruangrupa 2013

Tags: ,

Pengumuman Peserta Terpilih “Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual” Ruangrupa 2013

Posted on 11 June 2013 by jarakpandang

tulis

Berikut adalah nama-nama peserta yang terpilih untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2013:

  1. Ahadi Bintang Mulyawan (Yogyakarta)
  2. Anggraini Herman (Makassar)
  3. Annissa Ayu Maharani (Tangerang)
  4. Bellina Rosellini (Jakarta)
  5. Hardiat Dani Satria (Depok)
  6. Isyana Artharini (Jakarta)
  7. Jenni Anggita (Tangerang)
  8. Maria Josephina Bengan Making (Jakarta)
  9. Mochamad Fendy Alwi (Jakarta)
  10. Prathita Sedyapramana Putra (Jakarta)
  11. Ryan Sheehan Nababan (Sukoharjo)

Bagi yang namanya tercantum akan mendapat email dari ruangrupa, yang berisi detail mengenai workshop ini. Diharapkan untuk segera merespon email tersebut, sebagai konfirmasi bahwa Anda bersedia mengikuti workshop, sesuai dengan hal-hal yang telah disebutkan di dalamnya.

Comments (0)

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2013

Tags:

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2013

Posted on 27 May 2013 by jarakpandang

dibuka-portrait

Ruangrupa kembali membuka pendaftaran untuk mengikuti Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual, setelah sebelumnya diadakan sejak 2008. Workshop ini ditujukan kepada penulis muda yang memiliki minat terhadap penulisan kritik seni rupa dan budaya visual secara umum. Peserta workshop akan diseleksi berdasarkan tulisan-tulisan awal yang dikirimkan serta proposal proyek penulisan kritik seni rupa dan budaya visual yang akan dilaksanakan setelah selesai mengikuti workshop ini, beserta syarat pendaftaran lainnya. Hasil akhir dari workshop ini berupa pengelolaan situs jarakpandang.net oleh para peserta workshop, sebagai situs berisikan tulisan-tulisan kritik seni rupa dan budaya visual. Para peserta akan dilibatkan dalam proyek penulisan kritik seni rupa dan budaya visual di jarakpandang.net secara berkala. Selain itu, tulisan-tulisan tersebut akan dimasukan ke dalam proyek buku jarakpandang.net yang berisi tulisan-tulisan kritik seni rupa dan budaya visual dari para penulis muda, yang dihasilkan dari workshop penulisan ini sejak pertama kali diselenggarakan.

Workshop ini akan dilaksanakan di ruangrupa, Jakarta, 17-28 Juni 2013.

Persyaratan pendaftaran:

  1. Usia peserta antara 19 – 30 tahun
  2. Mengisi formulir pendaftaran online di bawah ini.
  3. Mengirimkan 1 buah proyek penulisan dalam bentuk proposal (lihat formulir pendaftaran)
  4. Pendaftar yang terpilih membayar biaya workshop sebesar Rp. 500.000,-
  5. Biaya perjalanan peserta (travel/kereta/pesawat) dari luar Jakarta, ditanggung oleh masing-masing peserta.

Catatan:

  • Pengisian formulir pendaftaran online selambat-lambatnya pada tanggal 9 Juni 2013.
  • Peserta terpilih akan diumumkan pada tanggal 13 Juni 2013, melalui website ruangrupa dan jarakpandang.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi ruangrupa di:

Telepon : (021) 830 4220
Situs : ruangrupa.org | jarakpandang.net
E-mail: jarak_pandang@yahoo.com
Facebook : Jarak Pandang
Twitter : @jarakpandang

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2008-2012:

Agung Hujatnikajennong, Kritikus Seni dan Kurator, mengajar Seni Rupa di Institut Tekhnologi Bandung.

Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajarsSeni rupa di Institut Tekhnologi Bandung.

Antariksa, Peneliti dan Program Manager Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta.

Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon ruangrupa.

Aryo Danusiri, Pembuat film dokumenter dan kandidat PhD bidang antropologi visual di Harvard University.

Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan Bandung.

Bambang Sulistyo, Jurnalis Desk Seni dan Budaya Majalah GATRA.

Eric Sasono, Kritikus film, pendiri dan pengelola rumahfilm.org.

Farah Wardani, Kritikus Seni, Kurator dan Direktur Indonesian Visual Art Archive.

Hilmar Farid, Pengajar Kajian Budaya di Universitas Indonesia dan kandidat PhD di National University of Singapore.

Hikmat Darmawan, Pengamat Budaya Visual dan Redaktur rumahfilm.org.

Ika Vantiani, Penulis dan banyak terlibat dalam pembuatan media massa non-mainstream.

Irwan Ahmett, Seniman dan Graphic Designer.

Iswanto Hartono, Seniman dan Arsitek.

JJ. Rizal, Sejarawan dan direktur penerbit Komunitas Bambu.

Prof. Dr. Melani Budianta, MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Prof. Dr. PM. Laksono, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada.

Prima Rusdi, Penulis Skenario dan Penggiat Film Indonesia.

Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.

Ugoran Prasad, Penulis prosa dan kritik seni pertunjukan, aktif di Teater Garasi dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Dr. Yasraf Amir Piliang, Pengamat budaya massa dan pengajar di Institut Teknologi Bandung.

Testimoni Peserta Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual 2008-2012:

“Dua minggu ikut workshop ini serasa habis kuliah 6 tahun. Materi, pengajar, makanan, dan suasananya yang benar-benar mantap!”

Leonhard Bartholomeus (Depok), Juru ketik dan penyiar amatiran. Peserta Angkatan 2012.

“Tadinya ikut workshop sekalian ngisi liburan, ternyata workshopnya bisa buat ngisi kehidupan. Materi, mentor, dan temen-temen workshopnya super menyenangkan. Dua minggu yang membuat saya (lumayan) tambah pinter memandang dan menulis perkara visual. Insightful.”

– Ellena Ekarahendy (Jakarta), mahasiswi Desain Komunikasi Visual, School of Design, Binus, Jakarta. Aktif berkegiatan bersama Titik Dua dan Teach For Indonesia. Peserta Angkatan 2012.

“Tiga hal yang saya dapat dari workshop ini: peluang mencintai seni rupa seperti saya mencintai Fisika dan Ilmu Politik, penghargaan pada rasa, dan sentuhan paling romantis dari segala jenis pendidikan: kekeluargaan.”

– Arys Aditya (Jember), Penulis lepas dan pengelola studi politik Rumah Baca Tikungan, Peserta Angkatan 2011.

“Pembicaranya berasal dari berbagai macam bidang dan berpengalaman. Yang paling penting, saya berkesempatan terhubung dengan banyak orang unik dari beragam latar belakang. Jadi bersiaplah untuk dua minggu yang penuh gizi.”

– Ibnu Nadzir (Jakarta), Peneliti PMB-LIPI, Jakarta, Peserta Angkatan 2011.

“Kalau ada lagu yang cocok untuk momen workshop ruru, kayaknya “Lihat Kebunku”. Soalnya penuh dengan bunga, setiap hari kusiram semua, dan semuanya indah. Orang-orang di Ruru baik-baik dan lucu-lucu, lagi. Jadinya senang.”

– Ardea Rhema Sikah (Bandung), Penulis dan pengasuh blog www.salamatahari.com, Peserta Angkatan 2011

“Dua minggu yang paling solid dalam hidup gue. Pulang-pulang, IQ dan berat badan gue meningkat dari sebelumnya.”

– Nastasha Abigail (Jakarta), Penyiar Trax FM Jakarta, Peserta Angkatan 2010.

“Ada tiga hal yang membuat kita pintar menulis artikel senirupa dan budaya visual yaitu: rajin bertanya, banyak membaca dan tidur-tiduran di workshop ini.”

– Christine Franciska (Jakarta), Jurnalis Bisnis Indonesia, Peserta Angkatan 2010.

“Mengikuti workshop ini adalah pengalaman lintas disiplin yang mendebarkan tapi asyik. Saya menjadi berani menjelajahi tema-tema baru dalam menulis.”

– Haris Firdaus (Solo), Jurnalis Majalah Gatra, Peserta Angkatan 2009.

“Seni rupa dan budaya visual adalah ranah yang menjanjikan untuk dikaji lebih jauh oleh intelektual muda Indonesia. Workshop ini adalah salah satu kesempatan yang sangat langka karena tidak banyak diadakan.”

– Ibnu Rizal (Depok), Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009.

“Saya merasa sebagai salah satu kelinci yang lolos dari percobaan workshop ini. Sekarang saya punya jarak yang cukup untuk memandang dunia seni rupa dan budaya visual kita.”

– Grace Samboh (Yogyakarta), Penulis dan kurator seni rupa. Peserta Angkatan 2008.

“Menyenangkan bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang pengalaman kesenian dan profesi untuk berbagi kegilaan.”

– Mansyur Rahim (Makassar), Field Facilitator JICA Prima Kesehatan, aktif di Tanahindie dan Kampung Buku Makassar sebagai penulis dan peneliti. Peserta Angkatan 2008

Formulir Pendaftaran

(Harap tunggu sebentar untuk formulir terbuka…)

Comments (0)

Insting Perupa Muda

Tags: , ,

Insting Perupa Muda

Posted on 07 January 2013 by jarakpandang

 Insting : daya dorong utama pd manusia bagi kelangsungan hidupnya (seperti nafsu berahi, rasa takut, dorongan untuk berkompetisi); dorongan untuk secara tidak sadar bertindak yang tepat    -Kamus Besar Bahasa Indonesia-

10 perupa muda sedang berpameran di Taman Ismail Marzuki dari tanggal 5-13 Januari 2013. Mereka memang muda, statusnya masih mahasiswa. namun jangan meremehkan kemampuan berkaryanya. Dikuratori Angga Wijaya, juga masih mahasiswa, pameran bertajuk Animal Instinct ini mengetengahkan beragam karya dan gaya. Karya lukis, grafis, ilustrasi, instalasi, performance, serta video yang mengetengahkan konsep-objek dalam kaitannya dengan hewan.

Insting dalam pengertian ini dapat terkait dengan niat mereka untuk mengadakan pameran bersama ini. Menurut Angga, pameran ini dilakukan dengan ‘diam-diam’ tanpa bantuan dari pihak kampus maupun dosen. hal ini tentu saja dapat dilihat sebagai bentuk positif. semangat dan kemandirian mereka dalam menghelat sebuah pameran patut diacungi jempol. dipersiapkan sejak satu tahun sebelumnya, memperlihatkan kesungguhan mereka dalam pameran ini.

Sejatinya mereka adalah calon tenaga pendidik seni rupa. Dipersiapkan dengan sangat matang untuk menjadi pengajar. Oleh karena itu, fokus utama bukan pada penciptaan karya. Stigma menjadi guru ini rupanya terlalu melekat, sehingga nampak tidak ada kemungkinan untuk memilih jalur lain. Menjadi seniman profesional misalnya. Lewat pameran ini, mereka ingin menunjukkan kemampuan mereka sekaligus membuktikan eksistensi mereka sebelum nantinya masuk ke dalam dunia seni rupa yang lebih luas.

Secara teknis, karya-karya yang tampil dalam pameran ini tersaji dengan baik dan layak. Menurut sang kurator, setiap pameris diberikan kesempatan untuk menampilkan karya sesuai dengan ketertarikan mereka. Maka jangan heran, anda akan banyak menemukan gaya yang lazim berada di tembok jalanan sebagi karya street art semacam mural atau wheatpaste. Tengok karya Dhado Wacky Human Wild, berupa lukisan cat acrylic di atas permukaan kayu. Tiga sosok serupa manusia, memiliki tangan dan kaki namun berkepala seperti binatang dengan tengkorak di wajahnya. Mereka saling bergulat, seperti berkelahi, ingin saling serang, saling bunuh.

Human Wild - Dhado Wacky

Karya ini jelas-jelas menggunakan pekerti karya street art. Warna-warna kontras, karakter, serta pesan yang lugas. Dalam sekali lihat kita dapat mengerti bahwa Dhado berupaya menerjemahkan sifat liar manusia terhadap sesamanya, mungkin lebih liar dari binatang itu sendiri.

Dalam karya HOPE, Muchlas ‘Daftpig’ menampilkan tiga buah panel berukuran 90 x 120 cm. diletakkan dalam posisi berurutan, portrait-landscape-portrait. Ketiga panel itu menarasikan cerita tentang seekor babi dan (laki-laki?) pemiliknya. Babi ini —berwarna pink dan hanya punya ekspresi melotot— bermandikan cokelat, boncengan di sepeda dengan pemiliknya, dan terakhir menggunakan baju terusan; bergandengan tangan. Kita boleh berkhayal bahwa ini adalah harapan si babi, dari binatang yang haram dan selalu menjadi objek konsumsi, menjadi hewan yang dipelihara dan disayang. Atau sebaliknya, ini merupakan harapan dari Muchlas tentang hubungan antara manusia dengan hewan yang selama ini hanya bersifat memakan-dimakan?

HOPE

Kerja keras lebah dalam membangun koloninya, menjadi inspirasi bagi Moch. Hasrul untuk menciptakan karya instalasi-interaktif LED EAT BEE. kata LED memang menunjuk pada lampu kecil yang bercahaya terang itu. Hasrul membuat rangkaian listrik dari sepeda statis menuju susunan lampu LED yang dipasang di tembok. Pengunjung harus mengayuh pedal sepeda dengan cukup cepat agar bisa melihat lampu LED itu bersinar-sinar. Cahaya yang dihasilkan akan membentuk stilasi siluet dua ekot lebah yang sedang terbang. Karya ini cukup unik dan berbeda dari karya lain yang ada disini.

Namun sayang, proses eksekusi terutama pada bentuk stilasi lebah terbang kurang digarap dengan baik. Jika tidak melihat judul, pengunjung sulit menerka-nerka bentuk yang dihasilkan oleh cahaya tersebut. jarak pandang dari tempat sepeda ke dinding juga sepertinya perlu pertimbangan lagi.

Bentuk-bentuk imajinatif juga muncul dalam karya. M. Haryo Utomo, dalam THE P.O.P ia menghadirkan lukisan serupa unta dengan pemiuhan disana sini. Kita hanya bisa mengenali bentuk unta dari punuk yang terdapat di satu dua lukisan. Hewan imajiner itu punya dua kepala. Ada pula yang punya 5 kepala dengan leher berbentuk lambang peace kaum hippies. Haryo juga menggambar di banyak kanvas. 6 kanvas dengan ukuran berbeda-beda digunakan sebagai tempat berdiam, hewan imajinernya itu.

THE P.O.P

Rishma Riyasa, nampak juga tertarik dengan bentukan fantasi. Ia —dengan kemampuan menggambar yang baik— menggabungkan bagian-bagian antara hewan dengan manusia. SIMBIOSIS judul karyanya. Rishma seolah ingin membicarakan tentang hubungan (saling menguntungkan) antara manusia dan hewan di sekitarnya.

SIMBIOSIS

Terkait dengan hubungan manusia dan lingkungan sekitarnya, Adi Dhigel memberikan perlambangannya dalam Hujan di Kampung Semut. Menggunakan teknik cukil kayu dan hand colouring, karya berukuran besar ini menggambarkan suasana kegiatan kerja bakti di sebuah perkampungan. Tokoh-tokoh dalam karya ini, mirip-mirip dengan karakter Petruk buatan Tatang S. Dhigel dengan cerdik menyindir pola hubungan manusia dengan sesamanya, yang semakin sulit untuk berinteraksi.

Hujan di Kampung Semut.

Teknik pewarnaan dikerjakan dengan rapi dan telaten. Kita bisa merasakan keriuhan kerja bakti lewat berbagai macam gestur yang ditampilkan. Dhigel tentu saja ingin menyandingkan sifat manusia dengan semut yang selalu bekerja keras. Atau bisa jadi ini adalah harapan Dhigel, agar manusia bekerja lebih giat daripada semut yang bahkan masih bekerja saat hujan.

Beberapa karya jenaka ditampilan oleh Amy ‘simonyetbali’ dan Anita Bonit. Ami dengan ciri khas gambar komikalnya, sedang mempermainkan lukisan Michaelangelo ‘The Creation of Adam’. Lukisan di langit-langit Chapel Sistine yang menggambarkan kisah penciptaan manusia pertama di dunia itu diparodikan oleh Amy. Ia mengganti posisi Adam, yang sedang duduk bersandar dengan seekor kera. Kemudian, posisi ‘Tuhan’ digantikan oleh seorang laki-laki berkacamata hitam, bertelanjang dada, ditemani beberapa hewan bermata satu. Laki-laki itu sedang menyuapi si kera dengan pisang.

The Creation of Adam

Sementara ketertarikan Anita Bonit pada anjing nampak dalam karya DOGGIE STYLE. judul yang ambigu, apalgi jika tidak melihat karyanya secara langsung. Bonit menyajikan tujuh buah lingkaran kain dengan ukuran bervariasi. Setiap bagian tengah kain tersebut Bonit menampilkan cetak saring berbentuk anjing dengan pose akrobatik. Dari sini kita baru benar-benar paham Bonit memang menampilkan anjing yang bergaya.

DOGGIE STYLE

Daniel Ferryansyah memberikan instingnya sebagai perupa dalam melukis karya INSTING dan NEGATIVE INSTINCT. Daniel mungkin satu-satunya perupa yang tidak menggambarkan objek binatang maupun judul yang berkaitan dengan binatang. bagi Daniel, insting yang ia maksud adalah sesuatu yang sifatnya spontan dan tidak direncanakan. Maka tidak heran jika kemudian ia menmapilkan karya yang murni lahir dari instingnya untuk berkarya.

INSTING dan NEGATIVE INSTINCT.

Satu-satunya karya non-dua dimensi yang hadir dalam pameran ini adalah aksi performans dari Riezky Ponga. Karya berjudul INTERAKSI ini menceritakan tentang proses percampuran yang saling melengkapi. Ponga melambangkannya dengan menggunakan es campur. Susunan mangkuk berbentuk segitiga dilengkapi dengan lilin di tengahnya. Tiap mangkuk itu dihubungkan dengan seutas tali, yang berujung pada mesin serutan es. Ponga memulai aksinya dengan menyerut batu es; menaruh ke dalam mangkuk; mencampurkan sirup di atasnya; menyalakan lilin. Proses itu dia lakukan berulang-ulang hingga seluruh mangkuk terisi es, dan lilinnya menyala. Ponga seolah sedang meniru pola interaksi dalam hidup manusia. Kita bertemu, bercampur, saling berinteraksi dan berhubungan.

INTERAKSI

Proses kerja kurator juga terbilang cukup baik. Tata letak karya, cahaya, serta pemanfaatan ruang pameran dilakukan dengan maksimal. Hanya saja sedikit kelemahan pameran ini ada pada penerjemahan tema yang seakan-akan menjadi terlalu eksplisit. Tema yang disuguhkan seolah ditelan dan diterjemahkan begitu saja; tidak ada konteks yang lebih luas yang disinggung dalam karya. Kurator nampaknya mempunyai pekerjaan yang mesti dibereskan untuk mendorong teman-temannya menciptakan karya yang lebih berani masuk ke dalam konsep pemikiran dan diolah secara matang.

Insting mendorong manusia untuk secara tidak sadar melakukan hal yang dianggap benar. Maka kita boleh berharap lewat pameran ini mereka tidak lagi sekedar mengikuti insting. Namun mampu berperan secara sadar dan aktif sebagai perupa yang tajam untuk dapat mengenali masalah di lingkungan sekitar, tajam untuk menyampaikan konsep-konsep dengan lugas ke dalam tiap karya mereka dan tajam untuk menciptakan perubahan dalam seni rupa Indonesia. Sekali lagi, selamat!

* tulisan oleh Leonhard Bartolomeus foto oleh Angga Wijaya

*)Keduanya adalah kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

Comments (0)

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Tags: , , ,

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Posted on 18 November 2012 by jarakpandang

Oleh: Asep Topan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti pada Jakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread, dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih kecil, jarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

Comments (0)

Berjejaring, Berbagi, Berdaya

Tags: , , ,

Berjejaring, Berbagi, Berdaya

Posted on 16 November 2012 by jarakpandang

 

Suasana Diskusi INF2012

Dalam salah satu karya kanonik dari Chuck Palahnuik, Fight Club. Ada sepotong momen yang bagi saya sangat komikal tapi juga sangat menarik untuk dicermati. Adegan ketika Tyler Durden berdebat dengan belahan kepribadiannya yang lain. “The house had become a living thing.” Kata Tyler. “Wet inside from so many people sweating and breathing. So many people moving, the house moved.” Fragmen kalimat So many people moving, the house moved barangkali sebuah representasi paling menarik untuk bisa menggambarkan kemunculan kebudayaan yang lahir bersama Internet.

Jum’at sore menjelang hujan deras di salah satu sudut Tirtodipuran. Sekumpulan anak muda larut dalam diskusi mengenai kebudayaan kolektif. Setidaknya itu yang saya maknai ketika hadir pada gelaran Indonesian Neaudio Festival I 2012 (INF2012). Bertempat di Kedai Kebun, Jogjakarta, sebuah festival off-line digelar untuk sarana tatap muka para pelaku, pemerhati, dan penikmat netaudio di Indonesia.

 

oleh Ivan Lanin perwakilan dari Creative Commons Indonesia

Apakah Netaudio itu? Dalam situs resmi Indonesian Net Label Union, net audio adalah aktivitas berbasis audio yang bergerak di dunia virtual, bagian dari kehidupan nyata kita, Internet. Keberadaan net audio sedemikian melekat sehingga ia menjadi keseharian. Tak terbilang data yang kita bagi setiap hari namun hanya sedikit yang memahami jika aktifitas itu adalah sebuah proses kebudayaan. Dalam lingkup yang lebih khusus hal tersebut bisa menjadi sebuah subculture baru yang oleh Antariksa, peneliti di KUNCI Cultural Studies Center, disebut sebuah aktifitas ‘kebanggaan berbagi tanpa sebab’.

Wok The Rock, dedengkot musik Jogja yang juga pendiri netlabel Yes No Wave, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi sudah sangat gegas. Sementara dunia semakin sesak dengan keberadaan individu yang terus berebut ruang eksistensi. Sehingga perubahan strategi dalam pengembangan karya mesti berubah pula. “Saya pernah bikin label rekaman fisik. Produk utama yang laku malah merchandise, kasetnya gak. Sempat hampir bubar sebelum akhirnya beralih pada produk online,” kata Wowok.

INF yang diselenggarakan selama dua hari pada 16-17 Nopember ini melibatkan banyak kegiatan. Seperti diskusi perihal kebudayaan net audio, loka karya streaming radio, dan aktifitas file sharing musik rilisan dari Yes No Wave. Menjadi menarik adalah aktifitas berbagi ini merupakan sebuah anti tesis bagi mereka yang mengagungkan hak cipta. Dengan semangat Gift Economy, para pegiat Net Label ingin melawan stigma bahwa memiliki musik harus dengan membeli menggunakan uang.

 

Berbagai Produk Hasil Kreasi Net Label

“Tapi apakah dengan berbagi kita bisa sejahtera?” pertanyaan yang menjadi perdebatan hebat dalam diskusi sore itu. Masing-masing pihak memiliki pembelaannya sendiri. Nuraini Juiastuti pembicara utama yang juga peneliti dari KUNCI Cultural Studies Center, menyatakan bahwa kemungkinan kesejahteraan bisa terjadi dengan adanya distribusi pengetahuan. Pertanyaan yang sama juga disampaikan oleh Ivan Lanin perwakilan dari Creative Commons Indonesia. “Dalam teori kebutuhan Maslow, seseorang akan berbagi. Tapi apakah hanya itu saja? Saya kira berbagi juga perihal sikap dermawan dan memberi hadiah,” katanya.

Acara yang juga dihadiri berbagai netlabel dari berbagai kota di Indonesia ini berlangsung meriah. Jarak bukan halangan bagi beberapa netlabel yang berasal dari luar kota Jogja seperti Inmyroom Records (Jakarta), Hujan! Rekords (Bogor), StoneAge Records Depok, Mindblasting (Jember), Tsefula / Tseuelha Records (Jatinangor), Kanal 30 (Malang), Lemari Kota (Depok), Experia (Bandung), Deat Tiwikrama (Australia), Megavoid (Malang), Flynt Records, Valetna Records (Semarang) dan dari lokal Jogja sendiri seperti Yes No Wave, Soundrespect, Ear Alert Records dan Pati Rasa Records.

Hari berikutnya bertempat di LAF Garden, Jl. Suryodiningratan No. 37, Yogyakarta INF 2012 akan diramaikan dengan Pertunjukkan Musik yang dimulai dari pukul 16.00 sampai dengan 23.00 WIB. Barisan pengisi acara hari itu adalah Seek Six Sick, Frau, Bottlesmoker, Belkastrelka, Sangkakala, Serigala Jahanam, Sodadosa, Terapi Urine, Creo Nova dan Dream Society. Menjelang malam harinya INF2012 akan melakoni Gig ke II yang bertajuk Mashup Party di Oxen Free, Jl. Sosrowijayan No. 2, Yogyakarta. Tentu dengan para musisi yang terdiri dari TerbujurKaku, Umaguma + Lintang dan Fyahman.

Gelaran acara ini boleh jadi yang pertama mengusung usaha untuk memanfaatkan jaringan net label sebagai basis pergerakan. Melalui berjejaring dan berbagi para pejuang virtual ini berusaha membangun subkultur yang sangat dekat dengan inti gerakan filantropis, berbagi adalah untuk berdaya.

 

Oleh: Arman Dhani

Perhatian: Untuk kalian yang ingin mengetahui lebih banyak perihal acara ini sila ikuti laman twitter: @idnetlabelunion.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement