Archive | EVENT

Catatan Hari II Workshop Penulisan dan Kuratorial 2014: Memahami Sedikit tentang Seni Media dan Ruang Rupa

Catatan Hari II Workshop Penulisan dan Kuratorial 2014: Memahami Sedikit tentang Seni Media dan Ruang Rupa

Posted on 12 November 2014 by jarakpandang

Istilah “seni media” sering muncul dalam tulisan-tulisan tentang seni rupa. Sayangnya, penggunaannya sering keliru dan salah tempat. Apa sebenarnya seni media itu?

Ini pertanyaan yang muncul dalam Lokakarya Kurator dan Penulisan Kritik Seni Rupa 2014 yang diadakan oleh ruangrupa bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di hari kedua. Pelontarnya adalah Hafiz Rancajale, pendiri Ruang Rupa. Alasannya, “penulis sering salah menggunakan istilah ini. Kalian harus tahu apa artinya,” katanya.

Hafiz wajar kesal. ruangrupa, sebuah komunitas seniman muda Jakarta, yang Hafiz dirikan hampir 15 tahun lalu adalah salah satu pelaku seni media. Sehingga, ia tahu benar seni seperti apa yang bisa disebut seni media dan seni mana yang bukan. Jadi, ia kesal ketika penulis sering salah menggunakan istilah seni media. Maka dari itu, dalam kesempatan lokakarya hari itu, Hafiz berusaha sedikit menceritakan tentang seni media agar penulis-penulis dan kurator-kurator muda tak salah kira.

Menurut Hafiz, seni media lahir pada tahun 1960-an di masa meledaknya gerakan Situationist International (SI). Sebuah gerakan avant-garde internasional yang dipimpin oleh Guy Debord, penulis, pembuat film, dan teoretikus Marxis asal Perancis. Apa yang dilawan oleh gerakan ini adalah kebenaran tunggal yang disebarkan oleh media massa lewat televisi, koran, radio, terkhusus lagi, iklan. Debord, dalam bukunya yang berjudul The Society of Spectacle (1967), percaya bahwa kebenaran-kebenaran palsu telah dikonsumsi oleh masyarakat penonton dari media massa, hingga membuat mereka menjadi “accumulation of spectacles”.

Ini yang ditentang Debord. Ia, mengikuti keyakinan Sartre, percaya bahwa individu berhak bebas memilih dan bertanggungjawab atas pilihannya. Bahwa individu, alih-alih menjadi konsumsi pasif dari apa yang terjadi di dunia, bisa memiliki peran aktif dalam memahami dunia dengan caranya sendiri. Berdasar pada kepercayaan inilah, Debord menggerakan SI lewat taktik-taktik gerilya, berusaha menjatuhkan kebenaran tunggal yang sebelumnya diserakkan lewat media massa.

Inilah yang lalu mengilhami munculnya seni media. Gerakan SI, yang juga terpengaruh besar oleh Dadaisme dan Surealisme, membuat seni media yang muncul kala itu memiliki karakter yang dekat dengan aksi-aksi politik dan propaganda. Seni jadi tak lagi dilihat agung, tetapi dilihat sebagai bagian dari perlawanan masyarakat. Lebih jauh lagi, seni menjadi media yang menciptakan situasi alternatif (yang tentu saja lebih otentik dari yang tercermin di media massa) dari kehidupan individu manusia, hingga mencapai apa yang Debord sebut sebagai “human journey through authentic life”.

Ruang Rupa sebagai salah satu pelaku seni media di Indonesia memiliki pemikiran yang serupa. Maka dari itu, jika dilihat dari program-program yang dijalankan ruangrupa selama ini, dapat dirasakan bagaimana ruru (begitu ia biasa disebut) ingin mewujudkan kebebasan berpikir di masyarakat. Ia juga ingin memberikan tempat bagi fenomena-fenomena sosial yang selama ini tak pernah didistribusikan oleh media massa konvensional kepada masyarakat dengan alasan “kurang laku” atau “kurang menjual”. Intinya, ruru ingin mencegah masyarakat tenggelam dalam spektakel-spektakel yang membuai.

Tengok saja agenda-agendanya di website ruangrupa.org. Program yang sedang berjalan sekarang adalah Lokakarya Kurator dan Penulisan Kritik Seni Rupa juga Jakarta Tiga Dua Derajat. Dua acara yang sama-sama berisi workshop dan diskusi tentang seni rupa untuk memfasilitasi gagasan-gagasan segar dari anak-anak muda. Belum lagi program lainnya. Pada 2011, ruru pernah menerbitkan majalah Bung!, majalah kehidupan pria dewasa. Majalah ini memang hanya terbit sebanyak empat edisi (berhenti di tahun 2014), namun ia telah berhasil mewadahi opini pria dewasa Indonesia yang penuh dengan canda tawa pula pahit getir.

Cuma itu? Tentu tidak. ruru pun memiliki RURU Shop Radio. Sebuah radio kontemporer tanpa gelombang yang diisi oleh seniman-seniman muda Jakarta untuk membincangkan hal-hal kekinian, mulai dari yang remeh temeh sampai konseptual, hingga absurd cenderung vulgar.

Radio ini akan mengudara setiap harinya lewat jaringan internet, yang dipandu oleh barisan penyiar-penyiar paling skoy dengan memutarkan lagu-lagu yang juga paling skoy untuk menghibur sekaligus menggugah jiwa dan raga kaum urban kontemporer,” tulis mereka di situs resminya. Sangat situasionis sekali bukan?

Sebenarnya, di kelas lokakarya hari kedua itu tidak saja dibahas tentang seni media, tetapi juga perbedaannya dengan dua istilah lain yang pula sering salah tempat, yaitu seni multimedia dan seni media baru.

Sederhananya, seni multimedia adalah seni yang menggunakan lebih dari satu media, dimana media yang dimaksud disini seperti gerak, visual, sastra, bunyi, konstruksi bangunan, dan film. Jadi, ketika sebuah karya seni memiliki lebih dari satu media atau elemen, maka ia disebut sebagai karya seni multimedia. Sedangkan, seni media baru adalah seni yang lahir di era internet. Artinya, ia adalah karya seni yang punya sifat melintasi ruang, jarak, dan waktu, juga lekat dengan koding-koding program komputer. Jadi, sebuah karya seni yang memenuhi sifat-sifat ini, bisa disebut sebagai seni media baru. Sesimpel itu. Tapi, ini bisa jadi lebih kompleks tergantung kasusnya. Jadi, pemahamannya bisa lebih luas. Ini menarik, karena masalah keliru penggunaan ini sering terjadi di kalangan penulis-penulis, bahkan penulis senior sekalipun.

Sayangnya, karena keterbatasan waktu, bahasan tentang perbedaan ini agak tak rampung. Namun, Hafiz memberi pelipur lara sebagai penutup kelasnya hari itu: pemutaran film pendek dari kumpulan video Festival OK Video. Diantaranya, ada dari Tintin Wulia, Yusuf Ismail, dan Anggun Priambodo.

Ni Nyoman Nanda Putri Lestari, 2014

Comments (0)

Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 23 July 2013 by jarakpandang

P1190626sTidak ada alasan untuk berkata bosan dalam pengulangan-pengulangan pertemuan secara rutin hingga hari kedelapan  pun terus berlangsung. Dengan orang-orang yang sama, suasana yang sama, waktu yang sama dan yah… pemateri yang sama seperti hari ketiga,  bahkan menjadikan hari ini hari paling Istimewa untuk kami peserta. Tetap tidak ada alasan untuk berkata bosan bertemu Bapak Bambang Bujono, seorang dosen di Institut Kesenian Jakarta sekaligus salah satu jurnalis senior di Majalah Tempo ini masih terus bersahaja di hadapan kami. Kematangan ilmu karena usia membuat kami terus antusias mendengarkan setiap sajian materi yang Pak Bambang bahas.

Hari ini kami membahas hal yang sangat penting dalam Workshop Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013: Sejarah Seni Rupa Indonesia. Pernyataan pertama yang dilontarkan Pak Bambang adalah: hingga saat ini belum ada orang yang mampu menulis mengenai sejarah seni rupa. Sambil menanti alasan mengapa tidak ada yang mampu menulis sejarah seni rupa, Ia menjelaskan bahwa sejarah seni rupa bukanlah kritik seni rupa, bukan kuratorial seni rupa, bukan pula biografi seniman, melainkan suatu peristiwa-peristiwa runut yang pernah terjadi dengan antropologi, sosiologi dan psikologis menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Lalu, apa alasan belum ada yang dapat menulis sejarah seni rupa? Alasan paling utama adalah karena kita tidak dapat melihat karya asli seniman-seniman tersebut. Sekedar gambar (foto) ataupun karya reproduksi tidak mampu menjelaskan sejarah yang konkrit. Ketidakmampuan menjelaskan sejarah seni rupa secara runut ini membuat tak satu pun sekolah seni membuka jurusan Sejarah Seni Rupa. Alasan yang kuat namun kemungkinan-kemungkinan tersusunnya sejarah seni rupa ini masih tetap akan ada, namun sangat riskan untuk membuat kesalahan, begitu tanggapan Pak Bambang.

Ada yang istimewa pada hari ini. Bapak Bambang Bujono datang dengan membawa buku penting setebal 5 cm berisi naskah-naskah dari sejumlah penulis, yang kemudian dikumpulkan dan diedit oleh beliau dan Adi Wicaksoo, berjudul Seni Rupa Indonesia, dalam Kritik dan Esai terbitan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Buku ini sangat penting untuk membantu pengaplikasian ilmu kami selama workshop. Sayangnya kami tidak tahu cara mendapatkan buku itu, adapun caranya tentu sangat merepotkan. Lalu apa yang istimewa jika tidak dapat memiliki bukunya? Seketika suasana makan siang menjadi penuh sorak senang ketika mendengar Pak Bambang tiba-tiba menelepon salah satu pengurus DKJ, Alex Sihar, untuk meminta delapan buah buku tersebut untuk dibagikan kepada kami satu persatu. Sorak sorai kami semakin ramai ketika pihak DKJ menanggapi permintaan itu dengan senang hati. Cihuiyyyy…. hanya dengan hitungan menit empat judul buku keren mendarat di tangan kami masing-masing. Pihak DKJ memberi kami bonus tiga buah buku lagi. Tentu hari yang istimewa akibat kemurahan hari Bapak Bambang Bujono dan Dewan Kesenian Jakarta.

Hampir obrolan mengenai Sejarah Seni Rupa terabaikan. Tapi tentu kami akan rugi jika tidak terus menyimak materi ini, semua kembali fokus pada materi bahasan. Bercerita tentang kisah Affandi, membahas kisah Sudjojono, keturunan Basuki Abdullah, karya-karya Hendra Gunawan, kehebatan Raden Saleh dan masih banyak lagi kisah-kisah perupa dalam sejarahnya masing-masing. Materi hari ini ditutup oleh Pak Bambang dengan ucapan yang membuat kami sedikit tersenyum, menjadi seorang kritikus tidak akan membuat kalian kaya, jika ingin berduit, lebih baik membuat karya seni rupa dari pada mengkritik.

*)Anggriani Herman

Comments (0)

Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 26 June 2013 by jarakpandang

fay

Workshop penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013  sudah menginjak hari ke tujuh, dan di hari ini kami, peserta workshop, bersepakat bahwa kami baru saja tertampar intelektualitas. Bagaimana tidak,  di hari ke tujuh ini kelas workshop kehadiran seorang  Hilmar Farid.Hilmar Farid adalah Dosen Cultural Studies di Universitas Indonesia dan kandidat Phd diNational University of Singapore. Dan mari kita lihat apa yang dia bicarakan di kelas. Pengantar kelas diisi dengan mengenal apakah itu Cultural Studies. Fay begitu Hilmar Farid biasa disapa, mengatakan, banyak hal di dunia ini yang sudah dianggap baku dan tiba-tiba tembokkebakuan itu runtuh, cultural studies adalah upaya menganalisis keruntuhan-keruntuhan itu.

Cultural Studies, Ia melanjutkan, selalu berusaha menginterogasi  hal- hal yang sangat fundamental  “apa itu ilmu  dan apa itu seniman“ adalah contoh-contoh pertanyaan fundamental yang coba dilontarkan oleh cultural studies  di hadapan kita. Kajian ini selalu membuat subjek-subjek  goyah dan mempertanyakan kembali hal-hal yang paling dasar.

Dalam seni rupa,cultural studies tidak hanya menganalisis objek seni rupa  tapi juga hubungan objek dan subjek  entah subjek pembuatnya atau subjek penikmatnya. Dalam praktek kesenian cultural studies punya upaya  menginterogasi untuk mencari kedalaman  makna. Tapi sayangnya, Fay melanjutkan, makna itu tidak pernah hadir. Yang hadir hanyalah sekedar impresi.

Menurut Fay, dari 1940-an sampai 1970-an kritik seni rupa modern cukup mapan membentuk sudut pandang, tapi semakin kesini jumlah kritik tidak saja makin sedikit tapi banyak penulis kritik yang melakukan banyak cara untuk membuat sebuah tulisan terlihat cerdas namun ternyata gagal mendapat perhatian dan bahkan tidak signifikan. Hal ini karena permasalahan yang diangkat tidak jelas. “Kita sudah panjang lebar bicara teori memasukan kutipan-kutipan pemikiran filsuf tapi akhirnya kita tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat tulisan itu,” ucap Fay.  Jumlah kritikus di Indonesia sekarang jauh berkurang  karena pengaruh internet. Semua orang bisa mengakses karya seni  dan pengetahuan tentang seni dengancepat. Pandangan tentang kritikus yang tadinya dinilai paling tahu tentang seni rupa dan sering datang ke pameran seketika rontok .

Setelah menjelaskan tentang kritik dan cultural studies dengan sangat jelas dan menarik, Fay  memberikan kesempatan kepada tujuh peserta workshop (Ahadi Bintang kali ini absen, lagi-lagi dia selalu kurang beruntung mendapatkan kelas yang menggugah selera intelektual) menampilkan proyek-proyek tulisannya, dari masalah  gambar di perangko yang mengandung identitas bangsa, video yang memengaruhi motif melakukan tindak kriminal, merubah pola pikir berkesenian di daerah, urusan pameran seni rupa yang penting dan dibuat seakan-akan penting, sampai masalah pendangkalan makna subjek pada  sirkulasi pasar seni rupa di  Indonesia.

Masing-masing rencana penulisan itu diinterograsi oleh Fay untuk mengangkat permasalahan yang jelas di dalamnya . Ada yang akhirnya merubah arah tulisannya tapi ada juga yang semakin yakin tancap gas dengan tema tulisan yang diusung. Setelah diinterograsi, Fay memberikan saran dan menggarisbawahi permasalahan dalam rencana-rencana tulisan peserta workshop sehingga kami lebih terarah untuk menulis. Begitulah Fay, dengan cultural studies dia membuat sebuah keyakinan jadi tidak stabil. Yang paling stabil adalah keyakinan kami bahwa apa yang diungkapkan Fay kali ini berhasil memacu adrenalin untuk meneliti dan menulis, baik dalam rangka workshop ini, maupun setelah workshop ini selesai.

*) Bellina Rosellini

Comments (0)

Catatan Hari VI: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Catatan Hari VI: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

antariksa

Lebih dari sekadar berbagi soal penulisan kritik seni rupa, Antariksa membahas lebih dalam tentang proses penelitian yang terjadi di balik menulis kritik. Kelas workshop yang ia berikan Senin (24/6) lalu menjadi cerita panjang soal kemungkinan karier dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang penulis kritik seni rupa untuk menjadi seorang peneliti.

Dalam kritik seni rupa, awalnya adalah mata. Struktur karya, bentuknya, garis, warna, komposisi, perspektif–semua adalah hal yang harus diamati sebelum melakukan kritik seni rupa. Proses ini juga penting karena dalam penulisan kritik seni rupa, seseorang harus mampu mendeskripsikan karya tersebut pada khalayak yang mungkin tak punya akses sendiri untuk melihatnya secara langsung.

Dari deskripsi ini juga kedalaman dan kepakaran pengetahuan si kritikus terlihat. Saat menggambarkan teknik lukisan, misalnya, seorang kritikus seni rupa harus mempunyai pengetahuan cukup untuk menilai bedanya antara cat air di kertas dan cat minyak di kanvas untuk menghasilkan sebuah warna tertentu.

Antariksa memperlihatkan tulisannya soal karya pelukis Spanyol yang pernah melakukan residensi di Yogyakarta, David Pedraza, “Apollo in the Forge of Vulcan” atau Apollo di bengkel kerja Vulcan. Karya berjudul dan bertema sama pernah muncul sebagai lukisan cat minyak oleh Diego Velazquez pada 1629-1630 dan sebuah etsa pada periode yang sama. Dari perbandingan itu saja, Antariksa sudah bisa menulis kesamaan dan perbedaan pada ketiga karya untuk kemudian membubuhi makna pada lukisan Pedraza yang dibuat pada 2011.

Tak ada yang sepenuhnya benar atau salah dari asumsi seorang kritikus terhadap sebuah karya seni rupa. Yang ada hanyalah tebakan akademis, yaitu proses mengumpulkan fakta-fakta kecil dan menyusun argumen untuk memahami bagaimana sebuah karya dibuat.

Tentu penting untuk melihat serinci mungkin apa yang bisa dikatakan oleh suatu karya atau bentuk visual, namun penting juga untuk melakukan riset historis akan biografi dan gagasan seniman untuk mencari konteks yang bisa mendukung argumen si kritikus.

Baru setelah pemahaman dan deskripsi sebuah karya ini selesai dituliskan, kritikus bisa bergerak ke pembahasan lain yang melibatkan teori. Namun, buat pemula, teori-teori ini tak terlalu perlu. “Kalau sudah 10 tahun menulis deh, baru pakai teori-teori. Kalau masih awal, deskripsi dulu saja deh.”

Melihat langsung atau tidak sebuah karya akan mengubah persepsi si kritikus secara total akan apa yang ia lihat. Proses melihat langsung inilah yang terus dikejar Antariksa dalam pekerjaannya sebagai seorang peneliti dan penulis seni rupa. Ia menceritakan bagaimana dalam proses pengerjaan penelitiannya sekarang tentang guru teknik menggambar asal Jepang, Ono Saseo, Antariksa harus meneliti setiap edisi sekitar 36 koran dan majalah yang terbit pada era 1943-1946.

Proses melihat juga yang membawa penelitian Antariksa ke Ono Saseo. Dari sebuah poster perjuangan karya Affandi dengan teks “Boeng, Ajo Boeng” yang ditulis oleh Chairil Anwar, Antariksa melihat adanya hubungan antara tarikan garis dan bentuk wajah sosok dalam poster tersebut dengan cara Ono Saseo menggambar dalam sebuah dokumentasi newsreel atau berita sebelum film mulai diputar di bioskop pada era pendudukan Jepang di Indonesia.

Sebuah karya seni rupa tak lepas dari konteks historis, politis, dan teoritis yang terjadi di sekitar si seniman. Maka penting untuk memahami atau mencari dasar dari konteks-konteks tersebut untuk benar-benar ‘melihat’ suatu karya.

Lalu di mana fungsi artist talk dalam sebuah pameran?

Ada sebabnya seniman adalah seniman, dan bukan politisi. Maka ekspresi pertama seniman adalah karyanya, bukan kata-kata. Menurut Antariksa, jangan menggunakan artist talk sebagai kebenaran, namun hanya untuk memperkaya pemahaman akan sebuah karya berdasarkan proses melihat dan pemahaman konteks karya yang sudah kita lakukan sendiri. Meski begitu, kritikus juga bisa menjadi penggugat ketika ada inkonsistensi antara apa yang dikatakan si seniman dan yang muncul di karyanya. “Sebagai kritikus, kita bukan juru bicara si seniman.”

*) Isyana Artharini

 

Comments (0)

Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7466

Sementara di luar kisruh dan pikuk akibat gentingnya kenaikan BBM, sekelompok penggiat seni rupa yang tergabung dalam peserta Penulisan Kritik Seni Rupa bergerumul di Ruang Rupa, Tebet, untuk menjalani hari kelima workshop, Jumat 21 Juni 2013.

Kali ini materi yang diberikan adalah mengenai Seni Rupa Publik dan Estetika Gambar Bergerak.

Ardi Yunanto, selaku mentor dari Seni Rupa Publik membuka sesi pagi workshop. Peserta diperkenalkan lebih jauh mengenai apa itu Seni Rupa Publik atau Public Art, yaitu seni yang dieksekusi di ruang publik dan dapat diakses setiap orang. Orang di balik majalah Bung! dan KarbonJournal ini menerangkan di mana posisi public art di antara kehadiran galeri, museum, sekolah seni, dan hubungannya dengan ruang-ruang kota. Dengan karakteristik yang menegaskan antara cara berekspresi  dan pemilihan lokasi, public art memperlihatkan kepada kita bagaimana ruang diperlakukan dan memainkan peran dengan menciptakan dialog dua arah antara publik dan seniman.

Kenyataannya, di Indonesia tidak ada pemetaan sejarah yang jelas mengenai public art. Hal ini disebabkan karena tidak adanya dokumentasi dan gerakannya yang cenderung sporadis. Menurut Ardi, public art pertama di Indonesia dilakukan oleh seorang seniman bernama Haris Poernomo di Yogyakarta tahun ’70-an  yang melakukan performing art membukus dirinya dengan perban –layaknya mummy—berkeliling kota sambil mengendarai sepeda motor.

Beberapa contoh dokumentasi public art yang dipresentasikan kepada peserta  berasal dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung di tahun ’90-an. Bentuk ekspresinya pun macam-macam, seperti membuat rambu jalan “Tambal Ban” yang ditempel menebeng pada tiang jalan, melingkari lubang-lubang jalanan dengan cat putih alih-alih menulis papan peringatan Awas Ada Lubang, dan pameran hasil jepret kamera berbagai tukang foto keliling di Monas.

Untuk menulis mengenai Seni Rupa Publik, Ardi memberi rumus tersendiri yaitu dengan pengamatan langsung ke lokasi dan mewawancarai publik dan seniman. Tulisan mengenai public art sebaiknya dapat mengungkapkan posisi karya dengan persoalan sosial yang lebih luas kepada pembaca, dengan tidak melupakan penggambaran akan keterlibatan publik dengan karya.

Siang menjelang sore, workshop diteruskan oleh Hafiz Rancajale, founder ruangrupa dan Forum Lenteng yang membahas tentang Estetika Gambar Bergerak. Untuk memberi pemahaman, diputarlah film-film Avant Garde di tahun 1920-an dan 1930-an yang menampilkan gambar-gambar unik dalam diorama hitam-putih.

“Apa itu Video Art?”, Hafiz melempar pertanyaan.

Agaknya peserta cukup kesulitan untuk mendefinisikan karya tersebut, begitu juga dengan kemunculan jenis seni ini yang baru muncul pada 1970-an dan menimbulkan fenomena tersendiri di kalangan seniman. Video Art tidak lepas dari kultur video yang mulai diadaptasi oleh masyarakat ketika media massa dan broadcasting menjadi alat penunjang atau medium dalam mempresentasikan video. Elemen komplementernya berupa kaset video,TV, kabel, bahkan sofa sekalipun.

Dengan menggunakan medium frame video,  Video Art memungkinkan senimannya untuk mengeksplorasi jauh dan menghidupkan ‘gambar’ dengan polesan audio maupun narasi visual yang menyegarkan. Kumpulan video art dari Jean Gabriel Periot menjadi sebuah contoh unik kepada peserta bagaimana foto-foto dipindahkan secara dramatik maupun tumpang tindih yang membentuk rangkaian ekspresi artistik.

*) Annayu Maharani

Comments (0)

Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7458

Bingung, adalah kata yang terlontar saat saya disuruh membuat review workshop hari ini. Kegamangan saya antara lain karena pemampatan materi filsafat dari jaman Plato sampai Gilles Deleuze yang bagi saya sangat asing. Kalau dihitung-hitung, dengan pengurangan rata-rata asumsi waktu hidup Deleuze dikurangi dengan rata-rata asumsi waktu hidup Plato sekitar 2340-an tahun. Dan pada hari ini, materi yang berkembang selama 2000-an tahun itu dimampatkan dalam waktu bersih workshop 4,5 jam. Antara terkesima, senang, apaan dah ini?, sampai berkali-kali mengalami goncangan psikis yang berakhir dengan bengong, semua terasa dalam paparan kurang dari 5 jam ini.

***

Hari keempat Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa ini terlihat berbeda semenjak saya bangun pagi. Gara-gara workshop ini, saya jadi menemukan pola gaya hidup yang lain. Biasanya saya memang bangun tidur pukul 11 siang, dan itupun belum 100 persen sadarkan diri. Hari pertama workshop pun saya juga begitu, susahnya bangun pagi menjadi problem utama dan banyak keluhan di sana-sini, seolah tubuh menolak aktivitas baru ini. Namun pada hari keempat ini, seakan tiada keluhan diri atas permasalahan sebelumnya. Saya naik kereta dengan senang, menyebrang jalan dengan santai, sarapan juga enak, dan jalan kaki dari Stasiun Tebet-ruangrupa yang katanya sekitar 15 menit bisa terasa hanya 5 menit saja.

Sesampainya di ruangrupa, seperti biasa suasana chaos tempat worksop menjadi sapaan pagi paling wajib. Saya melihat ada kudapan sayur-sayuran di mangkuk sisa semalam, piring dan nampan yang masih berserakan. Dan entah kenapa semuanya terlihat memiliki nilai estetis yang sayang untuk dibereskan. Suasana seperti inilah yang menemani saya dan rekan-rekan workshop hari ini dengan pembahasan mengenai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Seni Rupa Kontemporer” yang sering saya plesetkan sebagai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Diri Sendiri”. Berat.

Seperti biasa, worksop yang telah dijadwalkan pada pukul 10:00 pagi dimulai pukul 11:00. Dalam hal ini terasa sekali bahwa hukum relativitas Einstein berlaku sekali. Dilatasi waktu sangat terasa, seakan-akan waktu di-rundown dan di kehidupan nyata selisih 1 jam. Dan peserta worksop pun baru berkumpul 3 orang saja plus pemateri. Mbak Mitha Budhyarto sudah datang sebelum jam 10 bahkan, sedangkan peserta mulai berdatangan ketika pukul setengah 12 siang.

Pada workshop kali ini, peserta yang hadir berjumlah 7 orang dari 8 yang menyatakan ikut. Yang berhalangan hadir kali ini adalah TjaTja, mahasiswi dari Sastra Belanda yang masih (sepertinya) berkutat dengan bimbingan skripsi.

***

Terdapat dua sesi dalam penyampaian materi, pertama terkait dengan pemikiran filsafat Yunani Kuno sampai pada Nietzsche. Sesi kedua adalah estetika di awal abad 20 sampai pada wacana-wacana seni rupa yang melampaui kritik.

Sesi pertama, pemaparan mbak Mitha Budhyarto yang juga berprofesi dosen dan kurator ini yang paling asyik untuk disimak. Pada dasarnya saya suka diceritakan sejarah, apalagi dengan visualisasi gambar-gambar membuat pemaparan semakin menarik. Pemahaman yang saya dapatkan pada korelasi antara seni rupa dan filsafat adalah “tanpa filsafat seni rupa kering, begitu sebaliknya”. Penjelasan yang runut dengan visualisasi-visualisasi di layar, ditambah lagi Mbak Mitha juga menarik secara visual membuat sesi pertama seperti diceritakan dongeng dengan mengendarai mesin waktu. Intinya, sesi pertama sangat sayang sekali untuk dilewatkan.

Inti pemikiran Ancient Greek, Abad Pertengahan, Renaisans, Pencerahan dan Era Romantik merupakan pokok-pokok yang dibahas pada sesi pertama ini. Saya tidak memaparkan satu persatu pemikiran filusuf dari jaman Yunani Purba sampai Nietzsche ini karena kapasitas saya yang masih belum mumpuni untuk menjelaskannya. Mungkin info lebih lengkapnya bisa dikonsultasikan langsung kepada pakar yang lebih kredibel seperti Mbak Mitha ini.

Pada sesi kedua, semuanya terasa berbeda setelah makan siang. Menu makan siang tiap hari di RuangRupa bervariasi. Hari ini menyajikan sambel goreng ati dengan pencuci mulut sepotong melon. Meskipun menu makanannya sambel goreng ati, namun worksop hari keempat tidak makan ati.

Dampak kenyang-kenyang bego melanda saya. Kopi yang telah dibuat tidak mempan untuk menahan rasa bengong. Apalagi setelah dijelaskan mengenai estetika di awal abad 20. Gagasan-gagasan nyeleneh muncul. Kemunculan Gerakan Dada merupakan pengaruh yang sangat besar terhadap gagasan yang melebihi kritik setelahnya. Pokok-pokok pembahasan pada estetika di abad 20 meliputi formalisme, Teori Kritis & Frankfurt School, Poststrukturalis, Dekonstruksi, potensi kreatif dan materialis dan lain-lain.

Sesi kedua seakan ingin memuntahkan keasyikan-keasyikan paparan sesi pertama tadi. Sebagai orang yang awam filsafat, saya baru tahu jika ada gagasan-gagasan seperti itu. Layaknya minum air garam, semakin banyak minum semakin haus. Sama seperti gagasan-gagasan ini, semakin saya tidak tahu. Maka dari itu tidak jadi saya pikirkan. Susah bagi saya untuk menjelaskannya. Info lebih lengkap mengenai bahan bisa diakses di ruangrupa. Layaknya orang norak saya baru berpikir: kok ada ya orang mikirnya sampai kayak gini. Dan ternyata memang ada, dan saya baru tahu di 21 tahun usia saya.

Gagasan-gagasan tentang potensi kreatif dari materialitas yang dijelaskan dalam karya Superlight oleh Ardi Gunawan. Bagaimana karya seni tergantung dari bagaimana kemampuan materialnya. Pergeseran definisi dan kompleksitas pemahaman tentang seni memang tidak terlepas dari perkembangan pemikiran filsafatnya. Yang lebih gila lagi tentang wacana melampaui kritik. Hal ini dikarenakan terdapat potensi-potensi yang bisa lebih dieksplorasi daripada sekedar kritik. Maka dari itu muncullah konsep wacana seni rupa yang bertugas memobilisasi dan mengaktivasi gagasan-gagasan baru. Yang lebih menarik lagi adalah pertanyaan-pertanaan di kepala: kalau sudah begini, apa lagi selanjutnya? ini yang membuat penasaran. Saya bukan filusuf, saya hanya penasaran saja.

Penjelasan materi selesai setengah jam lebih awal dari rundown. Saya bersyukur kelas ini selesai lebih awal. Di luar ruangan suasana sedang hujan dan menimbulkan efek lembab di dalam ruangan. Di luar, selesai pemaparan Mbak Mitha, Erbi dan Maria masih asyik berdiskusi tentang filsafat. Terdengar samar-sama di kuping saya mereka membahas Nietzsche, dipikiran saya: ya ampun, masih aja dibahas. Dan dengan semena-mena Andan menunjuk saya menulis review workshop hari ini.

Kudapan kembali disajikan dengan menu mutakhir, aneka jajanan pasar mulai dari kue pie, semangka, kue sus, bolu-boluan, dan lain-lain diatas nampan. Saya melihat bahwa filsafat postmodern ini mirip seperti jajanan pasar ini. Saya tidak tahu alasannya apa mengatakan ini, tapi entah mengapa hanya ingin mengatakannya saja. Setelah hujan reda, saya kembali ke stasiun Tebet bersama Erby dan Jenni yang searah jalan pulangnya. Saat sampai di stasiun, untungnya saya dan Erby langsung mendapatkan kereta yang berdesak-desakan penuh. Kami paksakan saja masuk kereta, toh kalo dipaksakan masih muat. Saya jadi teringat karya Superlight yang dipresentasikan tadi, kayaknya mirip juga. Jangan-jangan gerbong kereta dan orang-orang didalamnya ini merupakan salah satu karya seni Deleuzian. Ah sudahlah….

 *) Hardiat Dani Satria

Comments (0)

Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 21 June 2013 by jarakpandang

photott

Juni yang melekat dalam ingatan saya adalah Juni yang kering. Kering karena kemarau biasanya terjadi di Juni. Namun, Juni 2013 kali ini berbeda. Hujan telah turun berkali-kali membasahi. Saya jadi berpikir, jangan-jangan kering yang seharusnya dibawa Juni pindah ke keringnya kritik seni rupa sekarang ini.

Diskusi dalam workshop kali ini yang membahas soal sejarah kritik seni rupa oleh Pak Bambang Budjono begitu menarik. Sayang, Bintang, salah satu peserta workshop tidak datang. Berbagai pertanyaan pun meluncur dan menjadikan kelas hari ini menjadi begitu hidup dan asyik.

Ada dua poin besar yang saya catat dalam pertemuan ketiga workshop yang dibawa oleh Bambang Budjono. Pertama, soal kritik seni rupa hari ini. Kedua, terkait modal dalam menulis kritik seni rupa.

Ternyata kekeringan kritik seni rupa sekarang ini terjadi sepanjang perjalanan perkembangan seni rupa itu sendiri. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain. Kemudian, yang menjadi pertanyaan, mengapa kekeringan itu terjadi? Padahal, di Indonesia, kita memiliki berbagai macam yang diperlukan dalam menulis kritik seni rupa. Kita memiliki seniman, kurator, galeri, pendidikan seni rupa yang dapat dikatakan memadai, pameran pun seringkali diselenggarakan. Walaupun, kalau melihat keadaan museum kita yang masih jauh dari kata baik.

Permasalahannya, terletak pada sulitnya mengumpulkan dokumentasi pameran-pameran dan karya atau tulisan mengenai perjalanan sejarah seni rupa, serta sedikitnya penulis kritik seni rupa. Jika ditilik, sekarang ini, media untuk menulis kritik seni rupa itu sendiri pun begitu terbatas. Terbatas di katalog atau surat kabar.

Pembahasan yang menarik bagi saya adalah ketika Pak Bambang mengungkapkan bahwa sejak semula, kritik seni rupa di Indonesia menumpang perkembangan di dalam kritik jurnalistik. Kritik jurnalistik tersebut, dapat dikatakan yang telah menghidupi kritik seni rupa dari awal sampai sekarang ini. Namun, sayangnya, kritik seni rupa yang hidup dalam surat kabar dan menghiasi rubrik seni dan budaya hanyalah permukaan saja. Tentunya, itu juga berarti bahwa tidak semua peristiwa seni, pameran seni rupa, terekam di dalamnya.

Dalam perjalanannya, orang Indonesia yang menjadi pelopor penulisan kritik seni rupa di Indonesia adalah Sutan Takdir Alisjahbana (1908—1994), seorang sastrawan besar dan ahli tata bahasa Indonesia, yang terdapat di dalam Majalah Poedjangga Baroe. Saya pun jadi teringat, bahwa sekarang ini bukan hanya kritik seni rupa saja yang kering, kritik sastra pun berada dalam fase kritis karena selesai pada tugas-tugas kuliah anak sastra. Sementara itu, majalah seni dan kebudayaan tidak dapat bertahan lama.

Pernah juga kritik itu berjamur pada era 1950-an ketika majalah kebudayaan banyak memuat kritik seni rupa. Sayangnya, majalah-majalah tersebut tidak berlangsung lama karena mentok pada soal pendanaan.  Hal itu tentu dipengaruhi pada masa Orde Baru yang membuat semua orang kemudian memikirkan untung rugi.

Dalam kesempatan ini, Pak Bambang juga berbagi soal modal apa saja yang diperlukan dalam menulis kritik sastra. Beliau berulang kali menyebutkan pengalaman estetika merupakan hal pertama dan utama dalam menulis kritik seni rupa. Pengalaman estetika dalam melihat karya tersebut kemudian dipadukan dengan kemampuan menulis yang mumpuni. Juga terkait dengan elemen-elemen lain seperti kepekaan visual, sejarah seni rupa, komposisi warna, perbandingan dengan seniman lain, latar belakang seniman, atau dengan memakai pemikiran filsuf tertentu untuk memaknai suatu karya.

Pada akhirnya, gambaran besar soal kritik, bukanlah soal sesuatu yang membangun. Akan tetapi, bagaimana dapat menimbang suatu karya baik dan buruknya. Dengan demikian kritik itu dapat menjadi jembatan antara seniman dengan publik, sehingga publik juga dapat mengapresiasi karya si seniman. Subjektifitas menjadi penting, sekalipun tetap ada nilai-nilai universal yang dapat diacu.

Meminjam kata Pak Bambang, bahwa awalnya berangkat dari pengalaman estetika dan berakhir dengan pengalaman estetika. Workshop kali ini pun menjadi semacam candu yang (semoga) membuat kami ketagihan untuk terus menulis kritik seni rupa.

*) Jenni Anggita

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement