Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 23 July 2013 by jarakpandang

P1190626sTidak ada alasan untuk berkata bosan dalam pengulangan-pengulangan pertemuan secara rutin hingga hari kedelapan  pun terus berlangsung. Dengan orang-orang yang sama, suasana yang sama, waktu yang sama dan yah… pemateri yang sama seperti hari ketiga,  bahkan menjadikan hari ini hari paling Istimewa untuk kami peserta. Tetap tidak ada alasan untuk berkata bosan bertemu Bapak Bambang Bujono, seorang dosen di Institut Kesenian Jakarta sekaligus salah satu jurnalis senior di Majalah Tempo ini masih terus bersahaja di hadapan kami. Kematangan ilmu karena usia membuat kami terus antusias mendengarkan setiap sajian materi yang Pak Bambang bahas.

Hari ini kami membahas hal yang sangat penting dalam Workshop Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013: Sejarah Seni Rupa Indonesia. Pernyataan pertama yang dilontarkan Pak Bambang adalah: hingga saat ini belum ada orang yang mampu menulis mengenai sejarah seni rupa. Sambil menanti alasan mengapa tidak ada yang mampu menulis sejarah seni rupa, Ia menjelaskan bahwa sejarah seni rupa bukanlah kritik seni rupa, bukan kuratorial seni rupa, bukan pula biografi seniman, melainkan suatu peristiwa-peristiwa runut yang pernah terjadi dengan antropologi, sosiologi dan psikologis menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Lalu, apa alasan belum ada yang dapat menulis sejarah seni rupa? Alasan paling utama adalah karena kita tidak dapat melihat karya asli seniman-seniman tersebut. Sekedar gambar (foto) ataupun karya reproduksi tidak mampu menjelaskan sejarah yang konkrit. Ketidakmampuan menjelaskan sejarah seni rupa secara runut ini membuat tak satu pun sekolah seni membuka jurusan Sejarah Seni Rupa. Alasan yang kuat namun kemungkinan-kemungkinan tersusunnya sejarah seni rupa ini masih tetap akan ada, namun sangat riskan untuk membuat kesalahan, begitu tanggapan Pak Bambang.

Ada yang istimewa pada hari ini. Bapak Bambang Bujono datang dengan membawa buku penting setebal 5 cm berisi naskah-naskah dari sejumlah penulis, yang kemudian dikumpulkan dan diedit oleh beliau dan Adi Wicaksoo, berjudul Seni Rupa Indonesia, dalam Kritik dan Esai terbitan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Buku ini sangat penting untuk membantu pengaplikasian ilmu kami selama workshop. Sayangnya kami tidak tahu cara mendapatkan buku itu, adapun caranya tentu sangat merepotkan. Lalu apa yang istimewa jika tidak dapat memiliki bukunya? Seketika suasana makan siang menjadi penuh sorak senang ketika mendengar Pak Bambang tiba-tiba menelepon salah satu pengurus DKJ, Alex Sihar, untuk meminta delapan buah buku tersebut untuk dibagikan kepada kami satu persatu. Sorak sorai kami semakin ramai ketika pihak DKJ menanggapi permintaan itu dengan senang hati. Cihuiyyyy…. hanya dengan hitungan menit empat judul buku keren mendarat di tangan kami masing-masing. Pihak DKJ memberi kami bonus tiga buah buku lagi. Tentu hari yang istimewa akibat kemurahan hari Bapak Bambang Bujono dan Dewan Kesenian Jakarta.

Hampir obrolan mengenai Sejarah Seni Rupa terabaikan. Tapi tentu kami akan rugi jika tidak terus menyimak materi ini, semua kembali fokus pada materi bahasan. Bercerita tentang kisah Affandi, membahas kisah Sudjojono, keturunan Basuki Abdullah, karya-karya Hendra Gunawan, kehebatan Raden Saleh dan masih banyak lagi kisah-kisah perupa dalam sejarahnya masing-masing. Materi hari ini ditutup oleh Pak Bambang dengan ucapan yang membuat kami sedikit tersenyum, menjadi seorang kritikus tidak akan membuat kalian kaya, jika ingin berduit, lebih baik membuat karya seni rupa dari pada mengkritik.

*)Anggriani Herman

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement