Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 26 June 2013 by jarakpandang

fay

Workshop penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013  sudah menginjak hari ke tujuh, dan di hari ini kami, peserta workshop, bersepakat bahwa kami baru saja tertampar intelektualitas. Bagaimana tidak,  di hari ke tujuh ini kelas workshop kehadiran seorang  Hilmar Farid.Hilmar Farid adalah Dosen Cultural Studies di Universitas Indonesia dan kandidat Phd diNational University of Singapore. Dan mari kita lihat apa yang dia bicarakan di kelas. Pengantar kelas diisi dengan mengenal apakah itu Cultural Studies. Fay begitu Hilmar Farid biasa disapa, mengatakan, banyak hal di dunia ini yang sudah dianggap baku dan tiba-tiba tembokkebakuan itu runtuh, cultural studies adalah upaya menganalisis keruntuhan-keruntuhan itu.

Cultural Studies, Ia melanjutkan, selalu berusaha menginterogasi  hal- hal yang sangat fundamental  “apa itu ilmu  dan apa itu seniman“ adalah contoh-contoh pertanyaan fundamental yang coba dilontarkan oleh cultural studies  di hadapan kita. Kajian ini selalu membuat subjek-subjek  goyah dan mempertanyakan kembali hal-hal yang paling dasar.

Dalam seni rupa,cultural studies tidak hanya menganalisis objek seni rupa  tapi juga hubungan objek dan subjek  entah subjek pembuatnya atau subjek penikmatnya. Dalam praktek kesenian cultural studies punya upaya  menginterogasi untuk mencari kedalaman  makna. Tapi sayangnya, Fay melanjutkan, makna itu tidak pernah hadir. Yang hadir hanyalah sekedar impresi.

Menurut Fay, dari 1940-an sampai 1970-an kritik seni rupa modern cukup mapan membentuk sudut pandang, tapi semakin kesini jumlah kritik tidak saja makin sedikit tapi banyak penulis kritik yang melakukan banyak cara untuk membuat sebuah tulisan terlihat cerdas namun ternyata gagal mendapat perhatian dan bahkan tidak signifikan. Hal ini karena permasalahan yang diangkat tidak jelas. “Kita sudah panjang lebar bicara teori memasukan kutipan-kutipan pemikiran filsuf tapi akhirnya kita tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat tulisan itu,” ucap Fay.  Jumlah kritikus di Indonesia sekarang jauh berkurang  karena pengaruh internet. Semua orang bisa mengakses karya seni  dan pengetahuan tentang seni dengancepat. Pandangan tentang kritikus yang tadinya dinilai paling tahu tentang seni rupa dan sering datang ke pameran seketika rontok .

Setelah menjelaskan tentang kritik dan cultural studies dengan sangat jelas dan menarik, Fay  memberikan kesempatan kepada tujuh peserta workshop (Ahadi Bintang kali ini absen, lagi-lagi dia selalu kurang beruntung mendapatkan kelas yang menggugah selera intelektual) menampilkan proyek-proyek tulisannya, dari masalah  gambar di perangko yang mengandung identitas bangsa, video yang memengaruhi motif melakukan tindak kriminal, merubah pola pikir berkesenian di daerah, urusan pameran seni rupa yang penting dan dibuat seakan-akan penting, sampai masalah pendangkalan makna subjek pada  sirkulasi pasar seni rupa di  Indonesia.

Masing-masing rencana penulisan itu diinterograsi oleh Fay untuk mengangkat permasalahan yang jelas di dalamnya . Ada yang akhirnya merubah arah tulisannya tapi ada juga yang semakin yakin tancap gas dengan tema tulisan yang diusung. Setelah diinterograsi, Fay memberikan saran dan menggarisbawahi permasalahan dalam rencana-rencana tulisan peserta workshop sehingga kami lebih terarah untuk menulis. Begitulah Fay, dengan cultural studies dia membuat sebuah keyakinan jadi tidak stabil. Yang paling stabil adalah keyakinan kami bahwa apa yang diungkapkan Fay kali ini berhasil memacu adrenalin untuk meneliti dan menulis, baik dalam rangka workshop ini, maupun setelah workshop ini selesai.

*) Bellina Rosellini

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement