Categorized | EVENT

Catatan Hari VI: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

antariksa

Lebih dari sekadar berbagi soal penulisan kritik seni rupa, Antariksa membahas lebih dalam tentang proses penelitian yang terjadi di balik menulis kritik. Kelas workshop yang ia berikan Senin (24/6) lalu menjadi cerita panjang soal kemungkinan karier dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang penulis kritik seni rupa untuk menjadi seorang peneliti.

Dalam kritik seni rupa, awalnya adalah mata. Struktur karya, bentuknya, garis, warna, komposisi, perspektif–semua adalah hal yang harus diamati sebelum melakukan kritik seni rupa. Proses ini juga penting karena dalam penulisan kritik seni rupa, seseorang harus mampu mendeskripsikan karya tersebut pada khalayak yang mungkin tak punya akses sendiri untuk melihatnya secara langsung.

Dari deskripsi ini juga kedalaman dan kepakaran pengetahuan si kritikus terlihat. Saat menggambarkan teknik lukisan, misalnya, seorang kritikus seni rupa harus mempunyai pengetahuan cukup untuk menilai bedanya antara cat air di kertas dan cat minyak di kanvas untuk menghasilkan sebuah warna tertentu.

Antariksa memperlihatkan tulisannya soal karya pelukis Spanyol yang pernah melakukan residensi di Yogyakarta, David Pedraza, “Apollo in the Forge of Vulcan” atau Apollo di bengkel kerja Vulcan. Karya berjudul dan bertema sama pernah muncul sebagai lukisan cat minyak oleh Diego Velazquez pada 1629-1630 dan sebuah etsa pada periode yang sama. Dari perbandingan itu saja, Antariksa sudah bisa menulis kesamaan dan perbedaan pada ketiga karya untuk kemudian membubuhi makna pada lukisan Pedraza yang dibuat pada 2011.

Tak ada yang sepenuhnya benar atau salah dari asumsi seorang kritikus terhadap sebuah karya seni rupa. Yang ada hanyalah tebakan akademis, yaitu proses mengumpulkan fakta-fakta kecil dan menyusun argumen untuk memahami bagaimana sebuah karya dibuat.

Tentu penting untuk melihat serinci mungkin apa yang bisa dikatakan oleh suatu karya atau bentuk visual, namun penting juga untuk melakukan riset historis akan biografi dan gagasan seniman untuk mencari konteks yang bisa mendukung argumen si kritikus.

Baru setelah pemahaman dan deskripsi sebuah karya ini selesai dituliskan, kritikus bisa bergerak ke pembahasan lain yang melibatkan teori. Namun, buat pemula, teori-teori ini tak terlalu perlu. “Kalau sudah 10 tahun menulis deh, baru pakai teori-teori. Kalau masih awal, deskripsi dulu saja deh.”

Melihat langsung atau tidak sebuah karya akan mengubah persepsi si kritikus secara total akan apa yang ia lihat. Proses melihat langsung inilah yang terus dikejar Antariksa dalam pekerjaannya sebagai seorang peneliti dan penulis seni rupa. Ia menceritakan bagaimana dalam proses pengerjaan penelitiannya sekarang tentang guru teknik menggambar asal Jepang, Ono Saseo, Antariksa harus meneliti setiap edisi sekitar 36 koran dan majalah yang terbit pada era 1943-1946.

Proses melihat juga yang membawa penelitian Antariksa ke Ono Saseo. Dari sebuah poster perjuangan karya Affandi dengan teks “Boeng, Ajo Boeng” yang ditulis oleh Chairil Anwar, Antariksa melihat adanya hubungan antara tarikan garis dan bentuk wajah sosok dalam poster tersebut dengan cara Ono Saseo menggambar dalam sebuah dokumentasi newsreel atau berita sebelum film mulai diputar di bioskop pada era pendudukan Jepang di Indonesia.

Sebuah karya seni rupa tak lepas dari konteks historis, politis, dan teoritis yang terjadi di sekitar si seniman. Maka penting untuk memahami atau mencari dasar dari konteks-konteks tersebut untuk benar-benar ‘melihat’ suatu karya.

Lalu di mana fungsi artist talk dalam sebuah pameran?

Ada sebabnya seniman adalah seniman, dan bukan politisi. Maka ekspresi pertama seniman adalah karyanya, bukan kata-kata. Menurut Antariksa, jangan menggunakan artist talk sebagai kebenaran, namun hanya untuk memperkaya pemahaman akan sebuah karya berdasarkan proses melihat dan pemahaman konteks karya yang sudah kita lakukan sendiri. Meski begitu, kritikus juga bisa menjadi penggugat ketika ada inkonsistensi antara apa yang dikatakan si seniman dan yang muncul di karyanya. “Sebagai kritikus, kita bukan juru bicara si seniman.”

*) Isyana Artharini

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement