Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7466

Sementara di luar kisruh dan pikuk akibat gentingnya kenaikan BBM, sekelompok penggiat seni rupa yang tergabung dalam peserta Penulisan Kritik Seni Rupa bergerumul di Ruang Rupa, Tebet, untuk menjalani hari kelima workshop, Jumat 21 Juni 2013.

Kali ini materi yang diberikan adalah mengenai Seni Rupa Publik dan Estetika Gambar Bergerak.

Ardi Yunanto, selaku mentor dari Seni Rupa Publik membuka sesi pagi workshop. Peserta diperkenalkan lebih jauh mengenai apa itu Seni Rupa Publik atau Public Art, yaitu seni yang dieksekusi di ruang publik dan dapat diakses setiap orang. Orang di balik majalah Bung! dan KarbonJournal ini menerangkan di mana posisi public art di antara kehadiran galeri, museum, sekolah seni, dan hubungannya dengan ruang-ruang kota. Dengan karakteristik yang menegaskan antara cara berekspresi  dan pemilihan lokasi, public art memperlihatkan kepada kita bagaimana ruang diperlakukan dan memainkan peran dengan menciptakan dialog dua arah antara publik dan seniman.

Kenyataannya, di Indonesia tidak ada pemetaan sejarah yang jelas mengenai public art. Hal ini disebabkan karena tidak adanya dokumentasi dan gerakannya yang cenderung sporadis. Menurut Ardi, public art pertama di Indonesia dilakukan oleh seorang seniman bernama Haris Poernomo di Yogyakarta tahun ’70-an  yang melakukan performing art membukus dirinya dengan perban –layaknya mummy—berkeliling kota sambil mengendarai sepeda motor.

Beberapa contoh dokumentasi public art yang dipresentasikan kepada peserta  berasal dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung di tahun ’90-an. Bentuk ekspresinya pun macam-macam, seperti membuat rambu jalan “Tambal Ban” yang ditempel menebeng pada tiang jalan, melingkari lubang-lubang jalanan dengan cat putih alih-alih menulis papan peringatan Awas Ada Lubang, dan pameran hasil jepret kamera berbagai tukang foto keliling di Monas.

Untuk menulis mengenai Seni Rupa Publik, Ardi memberi rumus tersendiri yaitu dengan pengamatan langsung ke lokasi dan mewawancarai publik dan seniman. Tulisan mengenai public art sebaiknya dapat mengungkapkan posisi karya dengan persoalan sosial yang lebih luas kepada pembaca, dengan tidak melupakan penggambaran akan keterlibatan publik dengan karya.

Siang menjelang sore, workshop diteruskan oleh Hafiz Rancajale, founder ruangrupa dan Forum Lenteng yang membahas tentang Estetika Gambar Bergerak. Untuk memberi pemahaman, diputarlah film-film Avant Garde di tahun 1920-an dan 1930-an yang menampilkan gambar-gambar unik dalam diorama hitam-putih.

“Apa itu Video Art?”, Hafiz melempar pertanyaan.

Agaknya peserta cukup kesulitan untuk mendefinisikan karya tersebut, begitu juga dengan kemunculan jenis seni ini yang baru muncul pada 1970-an dan menimbulkan fenomena tersendiri di kalangan seniman. Video Art tidak lepas dari kultur video yang mulai diadaptasi oleh masyarakat ketika media massa dan broadcasting menjadi alat penunjang atau medium dalam mempresentasikan video. Elemen komplementernya berupa kaset video,TV, kabel, bahkan sofa sekalipun.

Dengan menggunakan medium frame video,  Video Art memungkinkan senimannya untuk mengeksplorasi jauh dan menghidupkan ‘gambar’ dengan polesan audio maupun narasi visual yang menyegarkan. Kumpulan video art dari Jean Gabriel Periot menjadi sebuah contoh unik kepada peserta bagaimana foto-foto dipindahkan secara dramatik maupun tumpang tindih yang membentuk rangkaian ekspresi artistik.

*) Annayu Maharani

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement