Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7458

Bingung, adalah kata yang terlontar saat saya disuruh membuat review workshop hari ini. Kegamangan saya antara lain karena pemampatan materi filsafat dari jaman Plato sampai Gilles Deleuze yang bagi saya sangat asing. Kalau dihitung-hitung, dengan pengurangan rata-rata asumsi waktu hidup Deleuze dikurangi dengan rata-rata asumsi waktu hidup Plato sekitar 2340-an tahun. Dan pada hari ini, materi yang berkembang selama 2000-an tahun itu dimampatkan dalam waktu bersih workshop 4,5 jam. Antara terkesima, senang, apaan dah ini?, sampai berkali-kali mengalami goncangan psikis yang berakhir dengan bengong, semua terasa dalam paparan kurang dari 5 jam ini.

***

Hari keempat Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa ini terlihat berbeda semenjak saya bangun pagi. Gara-gara workshop ini, saya jadi menemukan pola gaya hidup yang lain. Biasanya saya memang bangun tidur pukul 11 siang, dan itupun belum 100 persen sadarkan diri. Hari pertama workshop pun saya juga begitu, susahnya bangun pagi menjadi problem utama dan banyak keluhan di sana-sini, seolah tubuh menolak aktivitas baru ini. Namun pada hari keempat ini, seakan tiada keluhan diri atas permasalahan sebelumnya. Saya naik kereta dengan senang, menyebrang jalan dengan santai, sarapan juga enak, dan jalan kaki dari Stasiun Tebet-ruangrupa yang katanya sekitar 15 menit bisa terasa hanya 5 menit saja.

Sesampainya di ruangrupa, seperti biasa suasana chaos tempat worksop menjadi sapaan pagi paling wajib. Saya melihat ada kudapan sayur-sayuran di mangkuk sisa semalam, piring dan nampan yang masih berserakan. Dan entah kenapa semuanya terlihat memiliki nilai estetis yang sayang untuk dibereskan. Suasana seperti inilah yang menemani saya dan rekan-rekan workshop hari ini dengan pembahasan mengenai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Seni Rupa Kontemporer” yang sering saya plesetkan sebagai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Diri Sendiri”. Berat.

Seperti biasa, worksop yang telah dijadwalkan pada pukul 10:00 pagi dimulai pukul 11:00. Dalam hal ini terasa sekali bahwa hukum relativitas Einstein berlaku sekali. Dilatasi waktu sangat terasa, seakan-akan waktu di-rundown dan di kehidupan nyata selisih 1 jam. Dan peserta worksop pun baru berkumpul 3 orang saja plus pemateri. Mbak Mitha Budhyarto sudah datang sebelum jam 10 bahkan, sedangkan peserta mulai berdatangan ketika pukul setengah 12 siang.

Pada workshop kali ini, peserta yang hadir berjumlah 7 orang dari 8 yang menyatakan ikut. Yang berhalangan hadir kali ini adalah TjaTja, mahasiswi dari Sastra Belanda yang masih (sepertinya) berkutat dengan bimbingan skripsi.

***

Terdapat dua sesi dalam penyampaian materi, pertama terkait dengan pemikiran filsafat Yunani Kuno sampai pada Nietzsche. Sesi kedua adalah estetika di awal abad 20 sampai pada wacana-wacana seni rupa yang melampaui kritik.

Sesi pertama, pemaparan mbak Mitha Budhyarto yang juga berprofesi dosen dan kurator ini yang paling asyik untuk disimak. Pada dasarnya saya suka diceritakan sejarah, apalagi dengan visualisasi gambar-gambar membuat pemaparan semakin menarik. Pemahaman yang saya dapatkan pada korelasi antara seni rupa dan filsafat adalah “tanpa filsafat seni rupa kering, begitu sebaliknya”. Penjelasan yang runut dengan visualisasi-visualisasi di layar, ditambah lagi Mbak Mitha juga menarik secara visual membuat sesi pertama seperti diceritakan dongeng dengan mengendarai mesin waktu. Intinya, sesi pertama sangat sayang sekali untuk dilewatkan.

Inti pemikiran Ancient Greek, Abad Pertengahan, Renaisans, Pencerahan dan Era Romantik merupakan pokok-pokok yang dibahas pada sesi pertama ini. Saya tidak memaparkan satu persatu pemikiran filusuf dari jaman Yunani Purba sampai Nietzsche ini karena kapasitas saya yang masih belum mumpuni untuk menjelaskannya. Mungkin info lebih lengkapnya bisa dikonsultasikan langsung kepada pakar yang lebih kredibel seperti Mbak Mitha ini.

Pada sesi kedua, semuanya terasa berbeda setelah makan siang. Menu makan siang tiap hari di RuangRupa bervariasi. Hari ini menyajikan sambel goreng ati dengan pencuci mulut sepotong melon. Meskipun menu makanannya sambel goreng ati, namun worksop hari keempat tidak makan ati.

Dampak kenyang-kenyang bego melanda saya. Kopi yang telah dibuat tidak mempan untuk menahan rasa bengong. Apalagi setelah dijelaskan mengenai estetika di awal abad 20. Gagasan-gagasan nyeleneh muncul. Kemunculan Gerakan Dada merupakan pengaruh yang sangat besar terhadap gagasan yang melebihi kritik setelahnya. Pokok-pokok pembahasan pada estetika di abad 20 meliputi formalisme, Teori Kritis & Frankfurt School, Poststrukturalis, Dekonstruksi, potensi kreatif dan materialis dan lain-lain.

Sesi kedua seakan ingin memuntahkan keasyikan-keasyikan paparan sesi pertama tadi. Sebagai orang yang awam filsafat, saya baru tahu jika ada gagasan-gagasan seperti itu. Layaknya minum air garam, semakin banyak minum semakin haus. Sama seperti gagasan-gagasan ini, semakin saya tidak tahu. Maka dari itu tidak jadi saya pikirkan. Susah bagi saya untuk menjelaskannya. Info lebih lengkap mengenai bahan bisa diakses di ruangrupa. Layaknya orang norak saya baru berpikir: kok ada ya orang mikirnya sampai kayak gini. Dan ternyata memang ada, dan saya baru tahu di 21 tahun usia saya.

Gagasan-gagasan tentang potensi kreatif dari materialitas yang dijelaskan dalam karya Superlight oleh Ardi Gunawan. Bagaimana karya seni tergantung dari bagaimana kemampuan materialnya. Pergeseran definisi dan kompleksitas pemahaman tentang seni memang tidak terlepas dari perkembangan pemikiran filsafatnya. Yang lebih gila lagi tentang wacana melampaui kritik. Hal ini dikarenakan terdapat potensi-potensi yang bisa lebih dieksplorasi daripada sekedar kritik. Maka dari itu muncullah konsep wacana seni rupa yang bertugas memobilisasi dan mengaktivasi gagasan-gagasan baru. Yang lebih menarik lagi adalah pertanyaan-pertanaan di kepala: kalau sudah begini, apa lagi selanjutnya? ini yang membuat penasaran. Saya bukan filusuf, saya hanya penasaran saja.

Penjelasan materi selesai setengah jam lebih awal dari rundown. Saya bersyukur kelas ini selesai lebih awal. Di luar ruangan suasana sedang hujan dan menimbulkan efek lembab di dalam ruangan. Di luar, selesai pemaparan Mbak Mitha, Erbi dan Maria masih asyik berdiskusi tentang filsafat. Terdengar samar-sama di kuping saya mereka membahas Nietzsche, dipikiran saya: ya ampun, masih aja dibahas. Dan dengan semena-mena Andan menunjuk saya menulis review workshop hari ini.

Kudapan kembali disajikan dengan menu mutakhir, aneka jajanan pasar mulai dari kue pie, semangka, kue sus, bolu-boluan, dan lain-lain diatas nampan. Saya melihat bahwa filsafat postmodern ini mirip seperti jajanan pasar ini. Saya tidak tahu alasannya apa mengatakan ini, tapi entah mengapa hanya ingin mengatakannya saja. Setelah hujan reda, saya kembali ke stasiun Tebet bersama Erby dan Jenni yang searah jalan pulangnya. Saat sampai di stasiun, untungnya saya dan Erby langsung mendapatkan kereta yang berdesak-desakan penuh. Kami paksakan saja masuk kereta, toh kalo dipaksakan masih muat. Saya jadi teringat karya Superlight yang dipresentasikan tadi, kayaknya mirip juga. Jangan-jangan gerbong kereta dan orang-orang didalamnya ini merupakan salah satu karya seni Deleuzian. Ah sudahlah….

 *) Hardiat Dani Satria

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement