Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 21 June 2013 by jarakpandang

photott

Juni yang melekat dalam ingatan saya adalah Juni yang kering. Kering karena kemarau biasanya terjadi di Juni. Namun, Juni 2013 kali ini berbeda. Hujan telah turun berkali-kali membasahi. Saya jadi berpikir, jangan-jangan kering yang seharusnya dibawa Juni pindah ke keringnya kritik seni rupa sekarang ini.

Diskusi dalam workshop kali ini yang membahas soal sejarah kritik seni rupa oleh Pak Bambang Budjono begitu menarik. Sayang, Bintang, salah satu peserta workshop tidak datang. Berbagai pertanyaan pun meluncur dan menjadikan kelas hari ini menjadi begitu hidup dan asyik.

Ada dua poin besar yang saya catat dalam pertemuan ketiga workshop yang dibawa oleh Bambang Budjono. Pertama, soal kritik seni rupa hari ini. Kedua, terkait modal dalam menulis kritik seni rupa.

Ternyata kekeringan kritik seni rupa sekarang ini terjadi sepanjang perjalanan perkembangan seni rupa itu sendiri. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain. Kemudian, yang menjadi pertanyaan, mengapa kekeringan itu terjadi? Padahal, di Indonesia, kita memiliki berbagai macam yang diperlukan dalam menulis kritik seni rupa. Kita memiliki seniman, kurator, galeri, pendidikan seni rupa yang dapat dikatakan memadai, pameran pun seringkali diselenggarakan. Walaupun, kalau melihat keadaan museum kita yang masih jauh dari kata baik.

Permasalahannya, terletak pada sulitnya mengumpulkan dokumentasi pameran-pameran dan karya atau tulisan mengenai perjalanan sejarah seni rupa, serta sedikitnya penulis kritik seni rupa. Jika ditilik, sekarang ini, media untuk menulis kritik seni rupa itu sendiri pun begitu terbatas. Terbatas di katalog atau surat kabar.

Pembahasan yang menarik bagi saya adalah ketika Pak Bambang mengungkapkan bahwa sejak semula, kritik seni rupa di Indonesia menumpang perkembangan di dalam kritik jurnalistik. Kritik jurnalistik tersebut, dapat dikatakan yang telah menghidupi kritik seni rupa dari awal sampai sekarang ini. Namun, sayangnya, kritik seni rupa yang hidup dalam surat kabar dan menghiasi rubrik seni dan budaya hanyalah permukaan saja. Tentunya, itu juga berarti bahwa tidak semua peristiwa seni, pameran seni rupa, terekam di dalamnya.

Dalam perjalanannya, orang Indonesia yang menjadi pelopor penulisan kritik seni rupa di Indonesia adalah Sutan Takdir Alisjahbana (1908—1994), seorang sastrawan besar dan ahli tata bahasa Indonesia, yang terdapat di dalam Majalah Poedjangga Baroe. Saya pun jadi teringat, bahwa sekarang ini bukan hanya kritik seni rupa saja yang kering, kritik sastra pun berada dalam fase kritis karena selesai pada tugas-tugas kuliah anak sastra. Sementara itu, majalah seni dan kebudayaan tidak dapat bertahan lama.

Pernah juga kritik itu berjamur pada era 1950-an ketika majalah kebudayaan banyak memuat kritik seni rupa. Sayangnya, majalah-majalah tersebut tidak berlangsung lama karena mentok pada soal pendanaan.  Hal itu tentu dipengaruhi pada masa Orde Baru yang membuat semua orang kemudian memikirkan untung rugi.

Dalam kesempatan ini, Pak Bambang juga berbagi soal modal apa saja yang diperlukan dalam menulis kritik sastra. Beliau berulang kali menyebutkan pengalaman estetika merupakan hal pertama dan utama dalam menulis kritik seni rupa. Pengalaman estetika dalam melihat karya tersebut kemudian dipadukan dengan kemampuan menulis yang mumpuni. Juga terkait dengan elemen-elemen lain seperti kepekaan visual, sejarah seni rupa, komposisi warna, perbandingan dengan seniman lain, latar belakang seniman, atau dengan memakai pemikiran filsuf tertentu untuk memaknai suatu karya.

Pada akhirnya, gambaran besar soal kritik, bukanlah soal sesuatu yang membangun. Akan tetapi, bagaimana dapat menimbang suatu karya baik dan buruknya. Dengan demikian kritik itu dapat menjadi jembatan antara seniman dengan publik, sehingga publik juga dapat mengapresiasi karya si seniman. Subjektifitas menjadi penting, sekalipun tetap ada nilai-nilai universal yang dapat diacu.

Meminjam kata Pak Bambang, bahwa awalnya berangkat dari pengalaman estetika dan berakhir dengan pengalaman estetika. Workshop kali ini pun menjadi semacam candu yang (semoga) membuat kami ketagihan untuk terus menulis kritik seni rupa.

*) Jenni Anggita

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement