Catatan Hari II: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 19 June 2013 by jarakpandang

photo H2

Ada dua acara yang dijadwalkan untuk hari ke-2 workshop ini: mengunjungi pameran seni rupa dan penyampaian materi oleh pembicara. Pameran yang dikunjungi adalah pameran “Jalan Gambar” S. Teddy Darmawan di Galeri Salihara, Pasar Minggu.  Pameran ini cukup menarik, karena sang seniman menawarkan eksplorasi lain dari drawing. Pada acara kedua, Agung Hujatnikajennong berhalangan hadir sehingga materi “Penulisan Kritik Seni Rupa” diganti oleh presentasi dari ruangrupa.

Diwakili oleh Reza Afisina, biasa disapa Asung, ruangrupa menceritakan perjalanan mereka yang dimulai sejak tahun 2000 di Jakarta. Dengan dokumentasi yang memadai dan runut serta penuturan Asung yang bersemangat, presentasi sejarah ruangrupa menjadi menarik dan memancing pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta. Acara-acara yang digiatkan oleh ruangrupa cakupannya luas, seperti pameran, festival, laboraturium seni rupa, penelitian dan penerbitan jurnal. Kolaborasi dan saling membuka kesempatan tampaknya membuat ruangrupa dapat bertahan dan aktual. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki jaringan di dalam dan di luar negeri.

Banyak yang bisa dicatat dari perjalanan ruangrupa selama sepuluh tahun lebih. Saya jadi teringat betapa bahasan mengenai alternative space selalu seru diperbincangkan melalui kuliah sosiologi seni di kampus, namun mendengar langsung dari para penggeraknya, ternyata lebih seru lagi. Kepedulian ruangrupa pada permasalahan ‘ruang’ dan ‘urban’ mungkin menjadikannya berbeda dengan alternative space lain yang ada. Isu-isu yang direalisasikan dalam program ruangrupa mungkin bisa ditemukan kemiripannya dengan program dari art space atau komunitas lain, namun intensitas masing-masing art space dalam mengusung misi merekalah yang memberikan variasi.

Isu dan program tersebut bertujuan untuk berkomunikasi dengan publik dan mengintervensinya. Misal dalam proyek mural yang digarap ruangrupa pada era 2000-an awal di bawah layang-layang jalan, bukan hanya elemen estetis saja, tetapi memiliki pesan. Intervensi ruang publik melalui mural ini tidak hanya menyentil publik, tapi juga menyentil aparatur keamanan, yang saat itu masih belum jelas regulasinya mengenai seni di ruang publik.

Program-program yang mereka garap bahkan lebih kompleks dan bergaung dari program yang ada di galeri atau museum. ruangrupa dapat sangat kontemporer- kekinian-nyeleneh dengan gagasan dan visual mereka; namun juga menjadi anti thesis terhadap infrastruktur seni rupa yang baku; sekaligus berinisiatif fluxus sebagai alternative space. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki karakter yang organik.

ruangrupa pun secara diplomatis menempatkan dirinya pada medan sosial seni rupa, melalui ruru gallery yang dihadirkan untuk menjawab tantangan art market. Menarik akan apa yang disampaikan Asung, bahwa galeri adalah ruang presentasi, tak sebatas ruang pamer saja.

Diskusi pun makin memanas ketika hari bertambah sore dan piring-piring berisi kudapan disajikan. Sebelum acara hari itu usai, para peserta dibagikan salinan bahasan mengenai ruangrupa yang dimuat dalam jurnal luar negeri.

*) Maria Josephina

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement