Berziarah ke “Hujan Bulan Juni”

Posted on 17 July 2011 by jarakpandang

Oleh Winda Anggriani

Rintik hujan belum lagi berhenti. Pria berkacamata bening, bertopi, berpayung gelap, berwajah mirip Sapardi muda, berjalan sendiri. Seketika langkahnya terhenti. Sorot matanya nanar, menatap sendu pemandangan di depannya. Di jalanan pekuburan yang basah itu, seorang laki-laki dilihatnya tengah membantu seorang perempuan berkerudung keluar dari mobil untuk menaiki kursi rodanya. Puan dibimbing lelaki tadi untuk menyusuri area pekuburan yang sepi berlatarkan hujan. Sapardi hanya terdiam, raut wajahnya menyiratkan hatinya amat tersentuh.

Ilustrasi narasi di atas adalah kesan yang didapat ketika pertama kali membaca sebuah komik karya MAN. Komikus ini menamai komiknya dengan sebutan komikalisasi. Mengapa? Karena karya ini merupakan alihwahana dari puisi berjudul “Hujan Bulan Juni” karya sastrawan Sapardi Djoko Damono. Puisi ini pertama kali diperkenalkan kepada khalayak ramai pada tahun 1994. Sebelum diadaptasi oleh MAN, puisi ini pernah dialihwahanakan menjadi musikalisasi oleh H. Umar Muslim. Penyanyi yang berhasil mempopulerkannya adalah Reda Gaudiamo, di dalam album bertajuk sama, “Hujan Bulan Juni”.

Alihwahana

Alihwahana dalam sastra, sudah menjadi bagian wilayah kajian sastra bandingan. Umumnya, sastra bandingan menganalisis perbandingan karya yang satu atau beberapa, dengan karya sastra lainnya. Nah, khususnya dalam alihwahana komikalisasi ini, aspek yang paling menonjol adalah perubahan bentuk.

Ketika sebuah karya itu diubah ke dalam bentuk lain, pasti diperlukan banyak penyesuaian. Salah satunya adalah interpretasi pembaca. Contohnya, ketika kita membaca puisi, kita akan dihadapkan pada imajinasi tanpa batas mengenai bentuk dan makna visual dalam pikiran kita masing-masing. Berbeda ketika kita sedang membaca komik. Kita justru akan terbatasi imajinasinya pada bentuk visual yang sudah ada, yaitu bentuk visual karya cipta komikus.

Dalam kasus ini, kita sebagai pembaca, hanya tinggal menghayati bentuk visual yang sudah jadi. Kita tidak perlu repot-repot menggambar sosok visual dalam imajinasi sendiri. Implikasinya, kita jadi lebih berjarak dengan konteks narasi dalam karya, karena hanya berada dalam posisi pengamat. Bukan seperti “aku” yang merasa pada proses pembacaan puisi. Hal ini juga yang membuat kita mengalami keterbatasan ruang dan kecenderungan mendekati arah yang realis.

Namun di balik itu semua, kehadiran komikalisasi ini justru membuat rangkaian kata yang disusun sastrawan Sapardi jadi lebih mudah dipahami pembaca, karena adanya petunjuk berupa sarana visual tadi. Sementara itu, ketika kita membaca puisi Sapardi secara langsung, kita akan dihadapkan pada makna filosofis dan pemikiran sendiri dalam memaknai bentuk, serta rasa yang ditimbulkan dari hasil penghayatan isi puisi tersebut.

Pendekatan

Pendekatan yang bisa digunakan dalam mengenali dua karya ini adalah intertekstual. Merujuk pada definisi Kristeva (dalam Ratna, 2008), pendekatan teori ini mengumpamakan sebuah karya sebagai mozaik kutipan. Setiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Sebuah teks dianggap tercipta atas pengaruh dari teks-teks lain sebagai dasar penciptaannya. Karya yang jadi kerangka acuan—sebagai latar atau inspirasi bagi karya lainnya—disebut hipogram, sedangkan karya baru yang terinspirasi dari hipogram dinamakan bentuk transformasi.

Mengacu pada keterangan yang disampaikan Kristeva di atas, maka puisi “Hujan Bulan Juni” bisa disebut sebagai hipogram. Sementara itu, komikalisasi ini bisa kita sebut sebagai bentuk transformasi. Pada hipogram puisi, pembaca—kita juga termasuk di dalam kategori ini—dihadapkan pada sejumlah interpretasi mengenai diri sendiri dalam memaknai “Hujan Bulan Juni” dan bebas mengandaikan bentuk visual apa pun dalam imajinasi. Tetapi akan sangat berbeda pada bentuk transformasi. Kita sebagai pembaca, justru dipertemukan dengan drama tragedi yang disuguhkan komikus MAN dalam bentuk visual, yang tentu saja dengan interpretasi bentuk yang sudah jadi. Kita diarahkan untuk lebih fokus pada konteks yang hadir implisit dalam gambaran visual.

Komikalisasi

Sebagai karya visual, komik memiliki plot yang tersusun secara sistematis. Ada yang berbentuk linear, sorot balik atau flashback, dan ada juga yang merupakan gaya campuran linear dan sorot balik.

Mengamati lebih jauh komikalisasi “Hujan Bulan Juni”, plot yang menonjol adalah linear. Sistematika linear ini, mengisahkan sebuah rangkaian kejadian saat terdapat dua orang yang sedang berziarah dan disaksikan oleh tokoh sentral mirip Sapardi muda. Tokoh Sapardi ini yang berperan sebagai narator, menyampaikan kisahnya lewat rangkaian kata-kata dalam balon kotak berurutan. Rangkaian kata-kata ini dianggap mewakili perasaan Sapardi sendiri, yaitu saat tersentuh oleh peristiwa ziarah yang hadir di depan matanya.

Sebagai bentuk visualisasi, komik ini memiliki emosi yang terbangun akibat persentuhan antara kata, gambar dan jalan cerita di dalamnya. Balon kata berbentuk kotak atau persegi panjang ini, berhubungan dengan karakter dan menjadi cermin, bagaimana emosi itu terbentuk di benak pembaca.

Dalam komik “Hujan Bulan Juni”, emosi yang dibangun adalah kesan sedih, ironi, dan kelabu. Citra ini hadir tersirat ketika tokoh komik mirip Sapardi menyaksikan peristiwa ironi di depannya. Adegan berziarah adalah kejadian yang dapat menyelipkan rasa ganjil dalam benak siapa pun. Peristiwa ini sangat manusiawi dan berhubungan dengan perihal kematian. Kematian menjadi sesuatu yang misteri dan tidak dapat dinalar oleh logika. Dengan cara berziarah, tokoh perempuan seolah masih dapat merasakan keberadaan orang yang dikasihinya, meskipun jasad itu sudah tertimbun tanah.

Komik ini memiliki keunikkan. Biasanya sebuah komik akan mengandalkan percakapan lewat balon bulat, yang menandakan adanya obrolan antara tokoh komik yang satu dengan tokoh komik lainnya. Kehadiran balon bulat ini akan membuat narasi lebih komunikatif dan terasa lebih seru. Tapi balon bulat itu tidak muncul sama sekali dalam komik ciptaan MAN ini. Sebagai pembaca, kita hanya dipandu oleh narasi balon kotak atau persegi panjang, yang berfungsi sebagai media narator untuk menyampaikan ceritanya. Kesan yang ditangkap dari komik ini pun bukan keseruan seperti komik lainnya, tapi kesan ironi dan sendu.

Komikus

Sekarang, kita mulai hubungkan konsep alihwahana, pendekatan, komikalisasi, komikus, dan diri kita sebagai pembaca. Apa saja hal yang kita dapatkan dari hubungan ini?

MAN, komikus “Hujan Bulan Juni” ini telah berupaya untuk menggambarkan imajinasinya dalam bentuk visual. Hal ini tentu saja telah membantu pembaca dalam mengapresiasi puisi milik sastrawan Sapardi. Namun, hasil interpretasi yang diciptakan komikus ini secara tidak langsung telah mengarahkan pembaca pada wacana baru yang dibangunnya. Dunia baru yang diciptakannya tersebut berbentuk sajian kisah drama tragedi, yang disaksikan dan dinarasikan langsung oleh tokoh komik mirip Sapardi. Wacana drama tragedi ini mengacu pada dua tokoh sentral lain yang secara aktif menjalankan sistematika cerita. Mereka adalah dua tokoh yang berada langsung di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa) dan menjadi pelaku dalam adegan berziarah.

Upaya komikus dalam mengalihwahanakan puisi menjadi komik, menuai hasil yang baik. Ia telah membantu kita sebagai pembaca, agar lebih mudah menghayati puisi sastrawan Sapardi lewat pandangan dan interpretasinya. Tetapi, sesuatu yang unggul juga menyimpan kelemahan. Adanya bentuk visual ini, justru membuat makna filosofis yang terbangun dalam narasi terasa lebih menyempit, realis serta terfokus pada konteks cerita yang implisit muncul dalam gambaran visual komik.

Narasi yang disampaikan tokoh komik Sapardi pun seperti hanya berperan sebagai monolog pelatar cerita, karena tokoh ini berperan pasif dan hanya mengamati. Penyempitan makna ini begitu terasa, karena interpretasi setiap pembaca tentu tidak sama. Tidak semua pembaca menginterpretasikan “Hujan Bulan Juni” sebagai cerita mengenai peristiwa berziarah ke kuburan.

Selain itu, meskipun komikus telah memvisualisasikan imajinasinya, pembaca masih juga dibuat bingung. Pembaca harus berpikir keras lagi untuk berimajinasi mengenai siapa itu tokoh komik mirip Sapardi. Hanya seorang pengamat—masih hidup—yang mencoba menangkap sisi manusiawi saat berziarah? Atau ia adalah arwah yang nisannya sedang diziarahi? Pertanyaan ini pun tersimpan untuk diinterpretasikan oleh para pembaca yang budiman.

***

Sang Puan memakai payung dan menggenggam rangkaian bunga di tangannya. Bibirnya bergetar, melafalkan kata yang diucapkannya lirih-lirih. Lelaki yang mengawalnya hanya diam, tak bergeming. Puan melemparkan rangkaian bunga ke arah nisan yang basah oleh rintik hujan. Tak berapa lama, ia bergerak pergi ditemani laki-laki tadi. Sapardi muda hanya mengamati kepergian dua orang itu. Dipungutnya rangkaian bunga yang teronggok di sana. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

 

_______________________

Daftar Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono diakses tanggal 4 Juli 2011
MAN. 2011. “Komikalisasi Hujan Bulan Juni” dalam Comical Magz. Jakarta: Comical Shop
Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement