Review Hari Kedua: Ambiguitas Seni Video dan Seni Rupa di Ruang Publik

Posted on 22 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari kedua Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Satrio Nindyo Istiko

Perhatian peserta “Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2011” tidak beralih sedikitpun dari materi yang diberikan. Di hari kedua pemberian materi workshop ini, mereka dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti, apa perbedaan video dengan film? Lalu, bagaimana mengetahui adanya seni rupa yang bermakna di sebuah ruang publik? Kesederhanaan dua pertanyaan itu ternyata tidak diikuti dengan jawaban yang sederhana pula. Tidaklah salah jika dua materi workshop yang diberikan pada hari Selasa, 22 Juni 2011, ini berhasil mendobrak pintu di benak peserta dan membuka cakrawala baru akan seni video dan seni rupa di ruang publik.

Topik pertama yang berjudul “Penulisan Kritik Seni Video/Film” dibawakan oleh Hafiz, pendiri ruangrupa, Koordinator Pengembangan Seni Video ruangrupa dan Direktur Forum Lenteng. Di tengah semaraknya gairah anak muda terhadap produksi film, Hafiz mengajak para peserta untuk menelaah kembali kehadiran seni video dalam keadaan tersebut. Pemahaman terhadap perbedaan antara seni video dan film, terutama film pendek dan film eksperimental, menjadi titik dasar yang ditekankan. Hal ini dikarenakan banyaknya kesamaan bahasa visual dari kedua medium itu menimbulkan banyak pula pendapat terhadap definisi dan perbedaan mendasar keduanya. Yang menarik dalam pengkajian topik tersebut adalah bagaimana tiap peserta akhirnya menemukan titik-titik acuan yang berbeda dan saling melengkapi.

Sebagai awal, Hafiz mengajak seluruh peserta untuk melihat ke benih tumbuhnya seni video untuk memahaminya, yaitu pada kemajuan teknologi media massa di tahun 1960-an. Saat itu, Nam June Paik yang menggunakan Sony PORTAPAK-nya untuk merekam prosesi Paus Paulus VI, lalu memutarnya di sebuah kafe. Lahirlah seni video untuk pertama kali. Pada perkembangannya, seni video seperti kehilangan sejarahnya sendiri dan terlalu terpengaruh oleh perkembangan film yang berakar pada seni-seni yang sudah ada, terutama seni teater. Inilah yang membuat tipisnya dinding pembatas antara seni video dan film.

Beberapa seni video pun diputar sehingga peserta workshop dapat melihat bagaimana sebuah seni video fokus pada penyampaian sebuah ide dan permainan medium video itu sendiri. Ini berbeda dengan film yang memiliki struktur narasi, bahkan pada film eksperimental sekalipun. Namun, Hafiz juga menyampaikan perbedaan antara seni video dan film dari sisi presentasi keduanya. Dalam dunia film, sebuah ruangan gelap, kedap suara, dan diisi oleh sejumlah tempat duduk, serta berbagai etika di dalamnya membawa kultur menonton tersendiri. Di sisi lain, kultur dalam menonton seni video tidaklah harus seperti itu. Bahkan, permainan instalasi dalam mempresentasikan banyak seni video menjadi elemen penting agar seni video itu bisa berkomunikasi dengan maksimal kepada penontonnya.

Dikotomi seni video dan film menjadi lebih terang dari titik ini. Maka, Hafiz pun menyampaikan beberapa poin penting dalam penilaian kritik seni video yang meliputi kesadaran seni video terhadap kultur seni video itu sendiri, rujukan bahasa seni video yang lebih mengarah ke media atau film, dan kandungan dari seni video tersebut. Para peserta workshop pun tampak sudah siap untuk menuangkan apa yang baru dipahaminya ke dalam sebuah ulasan bagi satu dari sekian banyak seni video Indonesia esensial sejak tahun 2000 hingga 2010.

Topik yang kedua berjudul “Praktik Seni Rupa di Ruang Publik” dan dibawakan oleh Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon. Dalam penelitian berjudul sama yang sudah masih terus dikembangkan oleh Ardi Yunanto, ia mengarahkan kacamata peserta workshop dalam melihat praktik ruangrupa di ruang publik dari kata “ruang publik” dahulu. Keberadaan seni rupa dalam berbagai bentuk di ruang publik tak akan bermakna tanpa adanya pemahaman dari ruang publik yang digunakan. Menurut Ardi Yunanto, titik berat penilaian seni rupa di ruang publik justru bukanlah pada bidang seni, melainkan pada bagaimana keberadaannya memancing reaksi publik yang berada di ruang tersebut.

Ardi Yunanto juga sangat menekankan interaksi publik, ruang publik, seniman, karya, dan isu dalam melihat seni rupa yang memang bermakna. Hal ini tentu sudah menghilangkan banyaknya seni di ruang publik yang hanya menjadi buah dari ekspresi pribadi dan aktualisasi diri dalam kehidupan sosial penciptanya. Konteks penciptaan karya-karya tersebut menjadi penting dan bagian utama dari penilaian terhadap karya-karya itu sendiri.

Ada 3 kecenderungan seni rupa dalam menyikapi ruang publik yang dibahas dalam workshop ini. Pertama, ruang publik dianggap sebagai media komunikasi dimana pemilihan lokasi tidak memiliki hubungan dengan isu karya. Banyak tempat dipilih berdasarkan tingkat keramaiannya agar karyanya bisa dilihat dan direspon oleh banyak orang. Kedua, praktik seni rupa yang menanggapi ruang publik dari elemen yang terlihat. Dalam hal ini, seniman memilih suatu tempat terlebih dahulu untuk dipelajari. Setelah itu, dibuatlah suatu konsep karya untuk direalisasikan. Ketiga, praktik seni rupa yang terinspirasi dari permasalahan suatu ruang. Di sinilah seniman melihat adanya permasalahan yang berdampak pada kehidupan masyarakat pengguna sebuah ruang publik dan menciptakan karya yang berhubungan dengan masalah itu.

Tantangan bagi jurnalis atau kritikus seni dalam menilai sebuah seni rupa di ruang publik, lupa bahwa ada  sisi humanitas yang memang tak pernah lepas dari sebuah karya seni, dibawakan oleh karya seniman. Ardi Yunanto memberikan contoh odong-odong sebagai salah satu bentuk seni rupa di ruang publik apik karena menimbulkan respon yang sesuai dengan alasan penciptaan dan masalah yang diangkat, tapi ternyata tidak banyak dianggap karena keberadaannya diawali dengan motif ekonomi. Di sinilah kebutuhan untuk melihat secara lebih luas, detail, dan mendalam berbagai hal yang ada di ruang publik harus diusahakan untuk bisa dipenuhi oleh seorang jurnalis atau kritikus seni rupa. Belum lagi, efektivitas dari sebuah karya yang hendak diberitakan hanya bisa diulas secara maksimal ketika jurnalis atau kritikus seni mewawancarai seniman penciptanya dan mencari saksi mata dari karyanya. Maka, kepekaan akan setiap fenomena atau perubahan yang terjadi akibat adanya suatu karya seni harus terus diasah.

Kedua topik yang sudah diberikan ini memang padat dan sangat bermakna sekali bagi para peserta workshop. Hal ini dikarenakan ketika sebuah seni video dilepas ke masyarakat luas, banyak hal mempengaruhi penilaian terhadapnya sehingga banyak ambiguitas yang terjadi. Kesalahan penggolongan karya dan penilaian sebuah karya yang tidak efektif pun menyusul. Akibatnya, sebuah karya seni tidak mendapat pemberitaan dan ulasan yang baik dan sesuai dengan apa yang hendak karya seni ini ingin sampaikan. Ternyata jawaban dari pertanyaan yang dihadapi oleh seluruh peserta workshop di awal tiap materi memang tidak sederhana, tapi tetap mendasar dan merupakan salah satu fondasi penting untuk sebuah penulisan kritik seni rupa dan budaya visual yang tepat.


 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement