Saat Filsuf Bertanding Bola

Posted on 22 October 2011 by jarakpandang

Pandangan filosofis yang dianut seseorang tampaknya akan memengaruhi pula cara pandang orang itu terhadap sepakbola. Filsuf dan sastrawan Perancis Albert Camus pernah mengatakan bahwa sepakbola mengajarkan padanya segala yang ia ketahui tentang moralitas. Artinya, bagi Camus, sepakbola mengajarkan etika dalam menyikapi hubungan antarmanusia. Ada nada yang terasa hangat dan merengkuh dalam pernyataannya itu, sebagaimana filsafatnya yang menjunjung solidaritas dan kemanusiaan. Berbeda dengan Sartre, kawan yang lantas menjadi seteru Camus. Meski sama-sama dikategorikan sebagai “eksistensialis”, ada perbedaan mendasar pada cara keduanya memahami eksistensi manusia. Bila Camus mengedepankan kebersamaan, Sartre justru menulis dalam naskah dramanya Huis Clos –yang diterjemahkan oleh Asrul Sani menjadi Pintu Tertutup—bahwa “neraka adalah orang lain.” Tak heran bila kemudian ia pun berpendapat demikian: “Dalam pertandingan sepakbola, keadaan diperumit oleh kehadiran tim lawan.”[1] Ringkas kata, bila Sartre main bola, baginya neraka adalah tim lain.

Ungkapan terkenal Sartre “hell is other people” tersebut menghiasi salah satu papan yang berjajar di pinggir lapangan bola –yang biasanya dipakai untuk iklan—dalam pertandingan bola antar filsuf Yunani lawan filsuf Jerman dalam karya video Ade Darmawan, The Philosopher’s Football Match. Karya ini dipamerkan dalam ajang OK Video FLESH – 5th Jakarta International Video Festival, Galeri Nasional, yang akan berakhir hari Senin, 17 Oktober 2011. Karya berbasis video game ini ditayangkan dalam 8 layar berukuran besar: 1 layar menayangkan klip tentang kesebelasan Yunani, 1 layar lagi tentang kesebelasan Jerman, 2 layar menayangkan cuplikan pertandingan mereka, dan dua layar lagi adalah versi video game yang bisa dimainkan oleh pengunjung.

Kutipan dari para filsuf menghiasi papan-papan iklan pembatas. Terlihat di situ "You have nothing to lose but your chains!" (Marx) dan "Man, by nature, is a political animal" (Aristote

Kutipan dari para filsuf menghiasi papan-papan iklan pembatas. Terlihat di situ "You have nothing to lose but your chains!" (Marx) dan "Man, by nature, is a political animal" (Aristoteles)

Ade Darmawan bukan penggagas orisinil pertandingan antar filsuf ini. Karya ini adalah hommage bagi Monty Python, grup lawak legendaris asal Inggris yang terkenal pada era 1970an. Mereka pernah membuat secuplik komedi tentang ini yang lalu disertakan dalam rekaman panjang Monty Python Live at the Hollywood Bowl (1982). Ade tak mengubah susunan para pemain versi Monty Python ini, namun ia perbarui teknologi visualnya dengan animasi 3D dan mengubah jalannya laga sedemikian rupa untuk tidak menjadikannya sekadar komedi.

Skuad kedua tim pada cuplikan versi orisinal Monty Python. Ade Darmawan tak mengubah skuad ini

Skuad kedua tim pada cuplikan versi orisinal Monty Python. Ade Darmawan tak mengubah skuad ini.

Pada versi Monty Python, begitu peluit dibunyikan (oleh wasit, yang adalah Konfusius), para filsuf itu malah mondar mandir sana sini merenungkan teori-teori mereka. Pada babak kedua pun demikian, biarpun Marx telah menggantikan Wittgenstein, pertandingan nyaris tak terjadi. Baru pada satu menit menjelang pertandingan usai, Archimedes berseru “Eureka!” dan ia mendapat ide apa yang harus dilakukan. Ia menggiring bola, mengopernya pada Sokrates yang lalu menyundulnya dan menghasilkan satu-satunya gol pada laga ini.

Sementara pada versi Ade, pertandingan berjalan keras dan tidak komikal. Para filsuf ini menggiring bola ke sana kemari, saling tackling, sliding, Aristoteles tampil menawan bak Zidane. Namun tetap, pada versi Ade, Archimedes jugalah pencetak gol pertama dalam laga ini, membuahkan kedudukan 1-0 bagi Yunani.

Archimedes (9) merayakan golnya. Untung bukan dengan telanjang bulat dan berseru-seru "Eureka! Eureka!"

Archimedes (9) merayakan golnya. Untung bukan dengan telanjang bulat dan berseru-seru "Eureka! Eureka!"

Tak aneh mungkin. Archimedes memang dekat dengan bola. Dari pelbagai jenis temuan dan penelitian matematisnya, banyak di antaranya mengulas soal bola dan lingkaran. Salah satu manuskripnya yang kini hilang berjudul Tentang Pembuatan Bulatan. Archimedes juga penemu konstanta π (22/7) yang hingga kini masih kita pakai dalam rumus lingkaran. Dan pada Liber Assumptorum –kitab yang aslinya sudah hilang dan salinan paling lama ditemukan dalam bahasa Arab—Archimedes menyusun 15 dalil tentang sifat  lingkaran. Maka bila dalam sepak bola orang biasa berkata “bola itu bundar”, Archimedes bolehlah menimpali, “Dan sayalah penghitung pertama bundaran itu.”

Dengan skor ini Jerman tak tinggal diam. Serangan balasan Heidegger menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Kericuhan sempat pecah saat Heidegger beradu mulut dengan Sokrates dan berakhir dengan saling tuding. Upaya wasit memisahkan mereka rupanya tak menenangkan Sokrates yang masih terus kesal sampai harus ditahan oleh rekan-rekan setimnya. Percekcokan di lapangan bola ini terasa ironis karena di lapangan pemikiran Heidegger sangat menyanjung-nyanjung Sokrates, dan menyebutnya sebagai “pemikir termurni di dunia Barat. Dan itu sebabnya ia tak menulis apa-apa.”[2]

Adu mulut Heidegger (23) dan Sokrates (10).

Adu mulut Heidegger (23) dan Sokrates (10).

Olahraga memang punya kedudukan unik dalam filsafat klasik Yunani. Di satu sisi, banyak filsuf klasik Yunani (Plato, di antaranya) memberi penekanan lebih pada jiwa. Jiwa dianggap kekal, sehingga dipandang superior dibanding tubuh yang bisa rusak dan mati. Dari situ kita mengenal, misalnya, istilah “cinta Platonik” sebagai cinta yang ideal, yang menafikan hal-hal badaniah.

Namun di sisi lain, dengan kedudukannya yang dianggap inferior bukan berarti tubuh boleh dibiar-biarkan begitu saja. Tubuh dipandang sebagai kuil yang menaungi jiwa tersebut, sehingga muncul keyakinan yang masih digaungkan hingga kini dalam slogan “dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.” Oleh karena itulah para pemuda Yunani dididik dalam gymnasium, yang telah mengalami pergeseran makna dan sekarang hanya diartikan sebagai “ruang senam” bahkan “tempat fitness”. Pada zaman itu, orang datang ke gymnasium bukan hanya untuk berolahraga melainkan berolahpikir dengan memperdebatkan soal-soal seni dan sastra.

Empedokles (15). Aristoteles menggelarinya "Bapak Retorik". Mungkin kita perlu menggelarinya "Bapak Tackling"

Empedokles (15). Aristoteles menggelarinya "Bapak Retorik". Mungkin kita perlu menggelarinya "Bapak Tackling"

Dualisme Platonik mengenai tubuh-jiwa itu nantinya diserap oleh peradaban Kristen, dengan penintikberatan yang berlebihan pada posisi jiwa sesuai doktrin-doktrin religius Gereja. Nietzsche, yang berusaha “berfilsafat dengan godam”, hendak membalik pandangan Kristiani ini dan kembali pada pandangan tubuh orang Yunani, dengan menyatakan dalam Senjakala Para Dewa bahwa “Penting bagi nasib tiap-tiap individu maupun orang banyak agar kebudayaan bermula di tempat yang tepat — bukan pada “jiwa” (sebagaimana tahayul telak para pendeta dan separuh pendeta): tempat yang tepat itu adalah tubuh, gestur, makanan, fisiologi, selebihnya mengikuti dari situ… itu sebabnya orang Yunani merupakan peristiwa kebudayaan pertama dalam sejarah.”[3]

Banyak hal bisa ditafsirkan mengenai apa sesungguhnya yang hendak ditampilkan oleh Ade Darmawan dalam karya ini selain kesempurnaan teknisnya (wajah para pemain yang berusaha dibuat semirip mungkin dengan potret yang kita kenal dari para filsuf ini, sampai suara komentator dan reporter yang menyebutkan nama-nama mereka). Anda bisa melihat ironi di sini, atau menafsirkan laga ini sebagai pertempuran gagasan, atau juga sebagai semacam alusi atas tren popularisasi filsafat (seperti tertuang dalam buku-buku semacam Filsuf Jagoan, The Pig That Wants To Be Eaten, dll) serta sebaliknya, filosofikasi atas budaya populer (seperti tertuang dalam buku-buku semacam Metallica and Philosophy, The Simpsons and Philosophy dll), atau melulu melihatnya secara “visual” sebagai representasi atas representasi filsafat.

Apapun tafsiran Anda, tak masalah, karena yang penting: “gooooooolllll!!!”

 

Ronny Agustinus

Ia salah satu pendiri ruangrupa pada 2000. Tahun 2005, ia mendirikan Marjin Kiri, penerbit kritis independen yang menghadirkan buku-buku terpilih di bidang sosial, ekonomi, politik, sastra, sejarah, dan filsafat.

_______________________

Catatan Kaki:

[1] Jean-Paul Sartre, Critique of Dialectical Reason, terjmh. Alan Sheridan-Smith (New Jersey: Humanities Press, 1976), hlm. 473.

[2] Martin Heidegger, What Is Called Thinking?, terjmh. Fred D. Wieck dan J. Glenn Gray (New York: Harper & Row, 1968), hlm. 17.

[3] Friedrich Nietzsche, The Anti-Christ, Ecce Homo, Twilight of The Idols, and Other Writings, terjmh. Judith Norman, ed. Aaron Ridley dan Judith Norman (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), hlm. 221.

 

 


 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement