Archive | November, 2014

Catatan Hari II Workshop Penulisan dan Kuratorial 2014: Memahami Sedikit tentang Seni Media dan Ruang Rupa

Catatan Hari II Workshop Penulisan dan Kuratorial 2014: Memahami Sedikit tentang Seni Media dan Ruang Rupa

Posted on 12 November 2014 by jarakpandang

Istilah “seni media” sering muncul dalam tulisan-tulisan tentang seni rupa. Sayangnya, penggunaannya sering keliru dan salah tempat. Apa sebenarnya seni media itu?

Ini pertanyaan yang muncul dalam Lokakarya Kurator dan Penulisan Kritik Seni Rupa 2014 yang diadakan oleh ruangrupa bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di hari kedua. Pelontarnya adalah Hafiz Rancajale, pendiri Ruang Rupa. Alasannya, “penulis sering salah menggunakan istilah ini. Kalian harus tahu apa artinya,” katanya.

Hafiz wajar kesal. ruangrupa, sebuah komunitas seniman muda Jakarta, yang Hafiz dirikan hampir 15 tahun lalu adalah salah satu pelaku seni media. Sehingga, ia tahu benar seni seperti apa yang bisa disebut seni media dan seni mana yang bukan. Jadi, ia kesal ketika penulis sering salah menggunakan istilah seni media. Maka dari itu, dalam kesempatan lokakarya hari itu, Hafiz berusaha sedikit menceritakan tentang seni media agar penulis-penulis dan kurator-kurator muda tak salah kira.

Menurut Hafiz, seni media lahir pada tahun 1960-an di masa meledaknya gerakan Situationist International (SI). Sebuah gerakan avant-garde internasional yang dipimpin oleh Guy Debord, penulis, pembuat film, dan teoretikus Marxis asal Perancis. Apa yang dilawan oleh gerakan ini adalah kebenaran tunggal yang disebarkan oleh media massa lewat televisi, koran, radio, terkhusus lagi, iklan. Debord, dalam bukunya yang berjudul The Society of Spectacle (1967), percaya bahwa kebenaran-kebenaran palsu telah dikonsumsi oleh masyarakat penonton dari media massa, hingga membuat mereka menjadi “accumulation of spectacles”.

Ini yang ditentang Debord. Ia, mengikuti keyakinan Sartre, percaya bahwa individu berhak bebas memilih dan bertanggungjawab atas pilihannya. Bahwa individu, alih-alih menjadi konsumsi pasif dari apa yang terjadi di dunia, bisa memiliki peran aktif dalam memahami dunia dengan caranya sendiri. Berdasar pada kepercayaan inilah, Debord menggerakan SI lewat taktik-taktik gerilya, berusaha menjatuhkan kebenaran tunggal yang sebelumnya diserakkan lewat media massa.

Inilah yang lalu mengilhami munculnya seni media. Gerakan SI, yang juga terpengaruh besar oleh Dadaisme dan Surealisme, membuat seni media yang muncul kala itu memiliki karakter yang dekat dengan aksi-aksi politik dan propaganda. Seni jadi tak lagi dilihat agung, tetapi dilihat sebagai bagian dari perlawanan masyarakat. Lebih jauh lagi, seni menjadi media yang menciptakan situasi alternatif (yang tentu saja lebih otentik dari yang tercermin di media massa) dari kehidupan individu manusia, hingga mencapai apa yang Debord sebut sebagai “human journey through authentic life”.

Ruang Rupa sebagai salah satu pelaku seni media di Indonesia memiliki pemikiran yang serupa. Maka dari itu, jika dilihat dari program-program yang dijalankan ruangrupa selama ini, dapat dirasakan bagaimana ruru (begitu ia biasa disebut) ingin mewujudkan kebebasan berpikir di masyarakat. Ia juga ingin memberikan tempat bagi fenomena-fenomena sosial yang selama ini tak pernah didistribusikan oleh media massa konvensional kepada masyarakat dengan alasan “kurang laku” atau “kurang menjual”. Intinya, ruru ingin mencegah masyarakat tenggelam dalam spektakel-spektakel yang membuai.

Tengok saja agenda-agendanya di website ruangrupa.org. Program yang sedang berjalan sekarang adalah Lokakarya Kurator dan Penulisan Kritik Seni Rupa juga Jakarta Tiga Dua Derajat. Dua acara yang sama-sama berisi workshop dan diskusi tentang seni rupa untuk memfasilitasi gagasan-gagasan segar dari anak-anak muda. Belum lagi program lainnya. Pada 2011, ruru pernah menerbitkan majalah Bung!, majalah kehidupan pria dewasa. Majalah ini memang hanya terbit sebanyak empat edisi (berhenti di tahun 2014), namun ia telah berhasil mewadahi opini pria dewasa Indonesia yang penuh dengan canda tawa pula pahit getir.

Cuma itu? Tentu tidak. ruru pun memiliki RURU Shop Radio. Sebuah radio kontemporer tanpa gelombang yang diisi oleh seniman-seniman muda Jakarta untuk membincangkan hal-hal kekinian, mulai dari yang remeh temeh sampai konseptual, hingga absurd cenderung vulgar.

Radio ini akan mengudara setiap harinya lewat jaringan internet, yang dipandu oleh barisan penyiar-penyiar paling skoy dengan memutarkan lagu-lagu yang juga paling skoy untuk menghibur sekaligus menggugah jiwa dan raga kaum urban kontemporer,” tulis mereka di situs resminya. Sangat situasionis sekali bukan?

Sebenarnya, di kelas lokakarya hari kedua itu tidak saja dibahas tentang seni media, tetapi juga perbedaannya dengan dua istilah lain yang pula sering salah tempat, yaitu seni multimedia dan seni media baru.

Sederhananya, seni multimedia adalah seni yang menggunakan lebih dari satu media, dimana media yang dimaksud disini seperti gerak, visual, sastra, bunyi, konstruksi bangunan, dan film. Jadi, ketika sebuah karya seni memiliki lebih dari satu media atau elemen, maka ia disebut sebagai karya seni multimedia. Sedangkan, seni media baru adalah seni yang lahir di era internet. Artinya, ia adalah karya seni yang punya sifat melintasi ruang, jarak, dan waktu, juga lekat dengan koding-koding program komputer. Jadi, sebuah karya seni yang memenuhi sifat-sifat ini, bisa disebut sebagai seni media baru. Sesimpel itu. Tapi, ini bisa jadi lebih kompleks tergantung kasusnya. Jadi, pemahamannya bisa lebih luas. Ini menarik, karena masalah keliru penggunaan ini sering terjadi di kalangan penulis-penulis, bahkan penulis senior sekalipun.

Sayangnya, karena keterbatasan waktu, bahasan tentang perbedaan ini agak tak rampung. Namun, Hafiz memberi pelipur lara sebagai penutup kelasnya hari itu: pemutaran film pendek dari kumpulan video Festival OK Video. Diantaranya, ada dari Tintin Wulia, Yusuf Ismail, dan Anggun Priambodo.

Ni Nyoman Nanda Putri Lestari, 2014

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement