Archive | July, 2013

200.000 Hantu: Subversi, Arsip dan Trauma

Tags: , ,

200.000 Hantu: Subversi, Arsip dan Trauma

Posted on 23 July 2013 by jarakpandang

1366749767-200000-phantoms

Di dalam video subversi arsip Jean Gabriel Periot yang berjudul 200.000 Phantoms, yang menjadi objeknya adalah bangunan yang pada awalnya direncanakan untuk sebuah tempat pameran produk-produk industri di Hiroshima. Bangunan dengan nama awal Hiroshima Commercial Prefectural Exhibition ini dirancang pendiriannya sejak tahun 1910 oleh seorang insinyur Ceko bernama Jan Jetzel dengan tujuan sebagai gedung pameran untuk produk-produk industri Jepang di perfektur tersebut. Bangunan ini diselesaikan pada tahun 1915. Pada tahun 1921 nama bangunan ini sempat diubah menjadi Hiroshima Prefectural Products Exhibition Hall dan pada tahun 1933 namanya diubah lagi menjadi  Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall[1]. Perubahan namanya menjadi Genboku dome dilakukan pasca Agustus 1945 sebagai peringatan pemerintah Jepang atas tragedi kemanusiaan Perang Dunia II yang menghancurkan kota Hiroshima. Sejak era 1950-an, pemerintah Jepang telah merencanakan untuk memugar kembali bangunan ini dan dijadikan museum Peace Memorial Park untuk memperingati peristiwa pemboman kota Hiroshima oleh Amerika Serikat. Sejak 1966 Memorial Park ini resmi dibuka untuk umum dan setiap tanggal 6 Agustus diadakan sebuah upacara di tempat itu yang bertujuan untuk mengenang yang telah terjadi pada 1945 tersebut.

Di dalam video karya jean Gabriel Periot ini, arsip mengenai Hiroshima Peace memorial/Genboku Dome dan daerah-daerah sekitarnya seperti jembatan dan sungai yang ditampilkan dari berbagai sisi yang sifatnya subversif dari narasi sejarah, banyak kesan yang ingin ditampilkan seperti isu mengenai modernitas ala barat yang memiliki dua sisi sekaligus yaitu hitam dan putih. Digambarkan bagaimana suasana masyarakat di sekitarnya yang nampak ramai menggunakan jalan darat baik dengan kendaraan kereta kuda maupun trem, dan perahu di sungai yang menggambarkan aktivitas transportasi sungai disekitarnya mulai saat ketika pembangunannya pada tahun 1910an hingga ketika bangunan tersebut berfungsi sebagai bangunan megah tempat pameran barang-barang hasil industri manufaktur Jepang. Setelah menampilkan dinamika yang dimunculkan oleh arsip perihal awal dibangun hingga Hiroshima dan Genbaku dome menjadi sebuah kawasan perkotaan yang ramai, secara tiba-tiba video ini menampilkan kabut putih dan suara keras seperti bom yang menghantam, ketika itu  kota Hiroshima yang diserang dengan menggunakan bom atom yang dikembangkan secara diam-diam oleh pihak militer AS dan presiden Harry S. Truman, yang bahkan tidak diketahui pula oleh kongres AS, penggunaan teknologi mematikan ini diduga karena secara geopolitik Amerika Serikat terancam apabila Jepang sewaktu-waktu melancarkan serangan ke Washington D.C. seperti halnya Pearl Harbour apabila militer Jepang terdesak Asia, oleh karena itu sebagai upaya terakhir untuk memaksa tentara Jepang menyerah ditambah motivasi tampil sebagai pemenang perang, AS melakukan pengeboman pada tanggal 6 Agustus 1945 pukul 6.15 pagi itu menewaskan 140.000 orang rakyat Hiroshima yang terkena radiasi bom tersebut[2]. Para perancang kebijakan di AS dengan enteng menyebutkan bahwa pengeboman dersebut sah untuk menyelamatkan rakyat Amerika dari kemungkinan serangan, ungkapan militer AS yang terkenal adalah “Better us than them” dan “There are no Civillians In Japan”[3]. Selain itu, motivasi AS dilihat dari teori politik Internasional realis vis pacem parabellum adalah untuk menciptakan sebuah rejim/order melalui kemenangan atas perang dunia II dimana AS sebagai pemeran utamanya seperti yang kita lihat hingga sekarang ini[4].

Pasca tampilan ledakan disertai kabut putih yang menyelimuti  dalam video ini, penampilan dalam susunan arsip dalam video Periot ini berubah seketika menjadi pemandangan kota Hiroshima pasca pemboman yang dipenuhi pohon-pohon yang mati dan kota, jalanan, serta lingkungan sekitar  yang porakporanda namun dengan titik fokus yang sama yaitu bangunan tersebut yang kini dilihat dari berbagai sudut kota yang hancur, orang-orang yang masih hidup tampak melihat puing-puing bangunan tersebut seakan bangunan itu merupakan ikon saksi bisu sejarah kelam yang mereka alami akibat kecanggihan teknologi perang modern yang menghancurkan, Periot seakan ingin mengatakan bahwa kesadaran identitas dan kasih sayang sesama manusia telah kabur oleh konstruksi batas wilayah, sejarah dan ambisi politik yang akhirnya menjadikan teknologi sebagai instrumen penghancurnya.

Setelah menyajikan banyak bagian-bagian arsip yang menampilkan puing-puing reruntuhan, sisa-sisa pengeboman, dan pohon-pohon yang mati, selanjutnya video ini menggambarkan bagaimana masyarakat pasca perang mulai kembali bangkit membangun kotanya dan kembali beraktivitas atas seruan pemimpin politik mereka, namun disisi lain aktivitas mereka membangun kembali bangunan dan kota-kota yang hancur ini terdapat kenangan yang pedih yang mengingatkan mereka kepada trauma akan kehilangan keluarga dan teman-teman mereka, bangunan-banguan yang hancur masih merupakan saksi bisu trauma mendalam masyarakat Hiroshima yang menjadi korban atas perang yang dijalankan pemerintahnya untuk menguasai Asia. Kota tersebut perlahan dibangun meski dengan trauma yang mendalam melihat puing-puing yang ada, namun dengan kegigihan mereka mulai dapat mengembalikan kondisi kota yang telah hancur, aktivitas seperti lalu lintas, pembangunan, dan kegiatan ekonomi mulai kembali berjalan. Berkat kerja keras masyarakat Hiroshima kota ini kembali dan bangunan Genbaku dome menjadi museum peringatan yang saat peresmiannya masyarakat berbaris membawa foto-foto para korban dan spanduk bertuliskan “No More Hiroshima’s” yang menunjukkan ketidakinginan rakyat akan ada korban di belahan dunia manapun yang akan mengalami kehancuran seperti ini lagi.

Pada bagian terakhir, video ini menampilkan perkembangan sekitar Genboku dome hingga era post-industrialis Jepang yang serba canggih disertai gedung-gedung pencakar langit yang berada di Hiroshima, namun disisi lain, upacara untuk mengenang tidak hanya dilakukan di hari-hari tertentu, namun di setiap hari dimana rutinitas kota-kota Hiroshima modern yang sibuk dan padat, tetap saja banyak orang yang mengunjungi Genboku dome hanya sekedar untuk mengenang kembali peristiwa kelam tersebut, Genboku dome terus berdiri ditengah gedung-gedung pencakar langit Hiroshima dan menjadi suatu trauma tersendiri yang akan terus hidup dan dapat dirasakan ditengah-tengah perkembangan masyarakat modern Jepang sampai saat ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dunne,Tim,dkk. 2007. International Relatons Theories : Discipline and Diversity. New York :

Oxford University Press Inc.

Hafiz. 2012. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Seni Video

Jung Oh. Hiroshima and Nagasaki : The Decision to Drop The bomb

http://www.worldheritagesite.org/sites/genbakudome.html

http://www.war-memorial.net/Peace-Memorial-Museum,-Genbaku-Dome,-Hiroshima-1.40

http://whc.unesco.org/en/list/775/

 


[3] Jung Oh. Hiroshima and Nagasaki : The Decision to Drop The bomb, hlm. 3

[4] Tim Dunne, Milja Kurki, Steve Smith. 2007. International Relations Theories : Disciplin and Diversity. New York : Oxford University Press Inc. hlm. 53-60

Tentang Penulis.

Insan Praditya. Mahasiswa jurusan ilmu sejarah Universitas Indonesia. Tertarik dengan kaitan arsip sejarah dan karya seni kontemporer, serta sejarah hubungan internasional.

Comments (0)

Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 23 July 2013 by jarakpandang

P1190626sTidak ada alasan untuk berkata bosan dalam pengulangan-pengulangan pertemuan secara rutin hingga hari kedelapan  pun terus berlangsung. Dengan orang-orang yang sama, suasana yang sama, waktu yang sama dan yah… pemateri yang sama seperti hari ketiga,  bahkan menjadikan hari ini hari paling Istimewa untuk kami peserta. Tetap tidak ada alasan untuk berkata bosan bertemu Bapak Bambang Bujono, seorang dosen di Institut Kesenian Jakarta sekaligus salah satu jurnalis senior di Majalah Tempo ini masih terus bersahaja di hadapan kami. Kematangan ilmu karena usia membuat kami terus antusias mendengarkan setiap sajian materi yang Pak Bambang bahas.

Hari ini kami membahas hal yang sangat penting dalam Workshop Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013: Sejarah Seni Rupa Indonesia. Pernyataan pertama yang dilontarkan Pak Bambang adalah: hingga saat ini belum ada orang yang mampu menulis mengenai sejarah seni rupa. Sambil menanti alasan mengapa tidak ada yang mampu menulis sejarah seni rupa, Ia menjelaskan bahwa sejarah seni rupa bukanlah kritik seni rupa, bukan kuratorial seni rupa, bukan pula biografi seniman, melainkan suatu peristiwa-peristiwa runut yang pernah terjadi dengan antropologi, sosiologi dan psikologis menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Lalu, apa alasan belum ada yang dapat menulis sejarah seni rupa? Alasan paling utama adalah karena kita tidak dapat melihat karya asli seniman-seniman tersebut. Sekedar gambar (foto) ataupun karya reproduksi tidak mampu menjelaskan sejarah yang konkrit. Ketidakmampuan menjelaskan sejarah seni rupa secara runut ini membuat tak satu pun sekolah seni membuka jurusan Sejarah Seni Rupa. Alasan yang kuat namun kemungkinan-kemungkinan tersusunnya sejarah seni rupa ini masih tetap akan ada, namun sangat riskan untuk membuat kesalahan, begitu tanggapan Pak Bambang.

Ada yang istimewa pada hari ini. Bapak Bambang Bujono datang dengan membawa buku penting setebal 5 cm berisi naskah-naskah dari sejumlah penulis, yang kemudian dikumpulkan dan diedit oleh beliau dan Adi Wicaksoo, berjudul Seni Rupa Indonesia, dalam Kritik dan Esai terbitan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Buku ini sangat penting untuk membantu pengaplikasian ilmu kami selama workshop. Sayangnya kami tidak tahu cara mendapatkan buku itu, adapun caranya tentu sangat merepotkan. Lalu apa yang istimewa jika tidak dapat memiliki bukunya? Seketika suasana makan siang menjadi penuh sorak senang ketika mendengar Pak Bambang tiba-tiba menelepon salah satu pengurus DKJ, Alex Sihar, untuk meminta delapan buah buku tersebut untuk dibagikan kepada kami satu persatu. Sorak sorai kami semakin ramai ketika pihak DKJ menanggapi permintaan itu dengan senang hati. Cihuiyyyy…. hanya dengan hitungan menit empat judul buku keren mendarat di tangan kami masing-masing. Pihak DKJ memberi kami bonus tiga buah buku lagi. Tentu hari yang istimewa akibat kemurahan hari Bapak Bambang Bujono dan Dewan Kesenian Jakarta.

Hampir obrolan mengenai Sejarah Seni Rupa terabaikan. Tapi tentu kami akan rugi jika tidak terus menyimak materi ini, semua kembali fokus pada materi bahasan. Bercerita tentang kisah Affandi, membahas kisah Sudjojono, keturunan Basuki Abdullah, karya-karya Hendra Gunawan, kehebatan Raden Saleh dan masih banyak lagi kisah-kisah perupa dalam sejarahnya masing-masing. Materi hari ini ditutup oleh Pak Bambang dengan ucapan yang membuat kami sedikit tersenyum, menjadi seorang kritikus tidak akan membuat kalian kaya, jika ingin berduit, lebih baik membuat karya seni rupa dari pada mengkritik.

*)Anggriani Herman

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement