Archive | June, 2013

Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 26 June 2013 by jarakpandang

fay

Workshop penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013  sudah menginjak hari ke tujuh, dan di hari ini kami, peserta workshop, bersepakat bahwa kami baru saja tertampar intelektualitas. Bagaimana tidak,  di hari ke tujuh ini kelas workshop kehadiran seorang  Hilmar Farid.Hilmar Farid adalah Dosen Cultural Studies di Universitas Indonesia dan kandidat Phd diNational University of Singapore. Dan mari kita lihat apa yang dia bicarakan di kelas. Pengantar kelas diisi dengan mengenal apakah itu Cultural Studies. Fay begitu Hilmar Farid biasa disapa, mengatakan, banyak hal di dunia ini yang sudah dianggap baku dan tiba-tiba tembokkebakuan itu runtuh, cultural studies adalah upaya menganalisis keruntuhan-keruntuhan itu.

Cultural Studies, Ia melanjutkan, selalu berusaha menginterogasi  hal- hal yang sangat fundamental  “apa itu ilmu  dan apa itu seniman“ adalah contoh-contoh pertanyaan fundamental yang coba dilontarkan oleh cultural studies  di hadapan kita. Kajian ini selalu membuat subjek-subjek  goyah dan mempertanyakan kembali hal-hal yang paling dasar.

Dalam seni rupa,cultural studies tidak hanya menganalisis objek seni rupa  tapi juga hubungan objek dan subjek  entah subjek pembuatnya atau subjek penikmatnya. Dalam praktek kesenian cultural studies punya upaya  menginterogasi untuk mencari kedalaman  makna. Tapi sayangnya, Fay melanjutkan, makna itu tidak pernah hadir. Yang hadir hanyalah sekedar impresi.

Menurut Fay, dari 1940-an sampai 1970-an kritik seni rupa modern cukup mapan membentuk sudut pandang, tapi semakin kesini jumlah kritik tidak saja makin sedikit tapi banyak penulis kritik yang melakukan banyak cara untuk membuat sebuah tulisan terlihat cerdas namun ternyata gagal mendapat perhatian dan bahkan tidak signifikan. Hal ini karena permasalahan yang diangkat tidak jelas. “Kita sudah panjang lebar bicara teori memasukan kutipan-kutipan pemikiran filsuf tapi akhirnya kita tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat tulisan itu,” ucap Fay.  Jumlah kritikus di Indonesia sekarang jauh berkurang  karena pengaruh internet. Semua orang bisa mengakses karya seni  dan pengetahuan tentang seni dengancepat. Pandangan tentang kritikus yang tadinya dinilai paling tahu tentang seni rupa dan sering datang ke pameran seketika rontok .

Setelah menjelaskan tentang kritik dan cultural studies dengan sangat jelas dan menarik, Fay  memberikan kesempatan kepada tujuh peserta workshop (Ahadi Bintang kali ini absen, lagi-lagi dia selalu kurang beruntung mendapatkan kelas yang menggugah selera intelektual) menampilkan proyek-proyek tulisannya, dari masalah  gambar di perangko yang mengandung identitas bangsa, video yang memengaruhi motif melakukan tindak kriminal, merubah pola pikir berkesenian di daerah, urusan pameran seni rupa yang penting dan dibuat seakan-akan penting, sampai masalah pendangkalan makna subjek pada  sirkulasi pasar seni rupa di  Indonesia.

Masing-masing rencana penulisan itu diinterograsi oleh Fay untuk mengangkat permasalahan yang jelas di dalamnya . Ada yang akhirnya merubah arah tulisannya tapi ada juga yang semakin yakin tancap gas dengan tema tulisan yang diusung. Setelah diinterograsi, Fay memberikan saran dan menggarisbawahi permasalahan dalam rencana-rencana tulisan peserta workshop sehingga kami lebih terarah untuk menulis. Begitulah Fay, dengan cultural studies dia membuat sebuah keyakinan jadi tidak stabil. Yang paling stabil adalah keyakinan kami bahwa apa yang diungkapkan Fay kali ini berhasil memacu adrenalin untuk meneliti dan menulis, baik dalam rangka workshop ini, maupun setelah workshop ini selesai.

*) Bellina Rosellini

Comments (0)

Catatan Hari VI: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Catatan Hari VI: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

antariksa

Lebih dari sekadar berbagi soal penulisan kritik seni rupa, Antariksa membahas lebih dalam tentang proses penelitian yang terjadi di balik menulis kritik. Kelas workshop yang ia berikan Senin (24/6) lalu menjadi cerita panjang soal kemungkinan karier dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang penulis kritik seni rupa untuk menjadi seorang peneliti.

Dalam kritik seni rupa, awalnya adalah mata. Struktur karya, bentuknya, garis, warna, komposisi, perspektif–semua adalah hal yang harus diamati sebelum melakukan kritik seni rupa. Proses ini juga penting karena dalam penulisan kritik seni rupa, seseorang harus mampu mendeskripsikan karya tersebut pada khalayak yang mungkin tak punya akses sendiri untuk melihatnya secara langsung.

Dari deskripsi ini juga kedalaman dan kepakaran pengetahuan si kritikus terlihat. Saat menggambarkan teknik lukisan, misalnya, seorang kritikus seni rupa harus mempunyai pengetahuan cukup untuk menilai bedanya antara cat air di kertas dan cat minyak di kanvas untuk menghasilkan sebuah warna tertentu.

Antariksa memperlihatkan tulisannya soal karya pelukis Spanyol yang pernah melakukan residensi di Yogyakarta, David Pedraza, “Apollo in the Forge of Vulcan” atau Apollo di bengkel kerja Vulcan. Karya berjudul dan bertema sama pernah muncul sebagai lukisan cat minyak oleh Diego Velazquez pada 1629-1630 dan sebuah etsa pada periode yang sama. Dari perbandingan itu saja, Antariksa sudah bisa menulis kesamaan dan perbedaan pada ketiga karya untuk kemudian membubuhi makna pada lukisan Pedraza yang dibuat pada 2011.

Tak ada yang sepenuhnya benar atau salah dari asumsi seorang kritikus terhadap sebuah karya seni rupa. Yang ada hanyalah tebakan akademis, yaitu proses mengumpulkan fakta-fakta kecil dan menyusun argumen untuk memahami bagaimana sebuah karya dibuat.

Tentu penting untuk melihat serinci mungkin apa yang bisa dikatakan oleh suatu karya atau bentuk visual, namun penting juga untuk melakukan riset historis akan biografi dan gagasan seniman untuk mencari konteks yang bisa mendukung argumen si kritikus.

Baru setelah pemahaman dan deskripsi sebuah karya ini selesai dituliskan, kritikus bisa bergerak ke pembahasan lain yang melibatkan teori. Namun, buat pemula, teori-teori ini tak terlalu perlu. “Kalau sudah 10 tahun menulis deh, baru pakai teori-teori. Kalau masih awal, deskripsi dulu saja deh.”

Melihat langsung atau tidak sebuah karya akan mengubah persepsi si kritikus secara total akan apa yang ia lihat. Proses melihat langsung inilah yang terus dikejar Antariksa dalam pekerjaannya sebagai seorang peneliti dan penulis seni rupa. Ia menceritakan bagaimana dalam proses pengerjaan penelitiannya sekarang tentang guru teknik menggambar asal Jepang, Ono Saseo, Antariksa harus meneliti setiap edisi sekitar 36 koran dan majalah yang terbit pada era 1943-1946.

Proses melihat juga yang membawa penelitian Antariksa ke Ono Saseo. Dari sebuah poster perjuangan karya Affandi dengan teks “Boeng, Ajo Boeng” yang ditulis oleh Chairil Anwar, Antariksa melihat adanya hubungan antara tarikan garis dan bentuk wajah sosok dalam poster tersebut dengan cara Ono Saseo menggambar dalam sebuah dokumentasi newsreel atau berita sebelum film mulai diputar di bioskop pada era pendudukan Jepang di Indonesia.

Sebuah karya seni rupa tak lepas dari konteks historis, politis, dan teoritis yang terjadi di sekitar si seniman. Maka penting untuk memahami atau mencari dasar dari konteks-konteks tersebut untuk benar-benar ‘melihat’ suatu karya.

Lalu di mana fungsi artist talk dalam sebuah pameran?

Ada sebabnya seniman adalah seniman, dan bukan politisi. Maka ekspresi pertama seniman adalah karyanya, bukan kata-kata. Menurut Antariksa, jangan menggunakan artist talk sebagai kebenaran, namun hanya untuk memperkaya pemahaman akan sebuah karya berdasarkan proses melihat dan pemahaman konteks karya yang sudah kita lakukan sendiri. Meski begitu, kritikus juga bisa menjadi penggugat ketika ada inkonsistensi antara apa yang dikatakan si seniman dan yang muncul di karyanya. “Sebagai kritikus, kita bukan juru bicara si seniman.”

*) Isyana Artharini

 

Comments (0)

Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7466

Sementara di luar kisruh dan pikuk akibat gentingnya kenaikan BBM, sekelompok penggiat seni rupa yang tergabung dalam peserta Penulisan Kritik Seni Rupa bergerumul di Ruang Rupa, Tebet, untuk menjalani hari kelima workshop, Jumat 21 Juni 2013.

Kali ini materi yang diberikan adalah mengenai Seni Rupa Publik dan Estetika Gambar Bergerak.

Ardi Yunanto, selaku mentor dari Seni Rupa Publik membuka sesi pagi workshop. Peserta diperkenalkan lebih jauh mengenai apa itu Seni Rupa Publik atau Public Art, yaitu seni yang dieksekusi di ruang publik dan dapat diakses setiap orang. Orang di balik majalah Bung! dan KarbonJournal ini menerangkan di mana posisi public art di antara kehadiran galeri, museum, sekolah seni, dan hubungannya dengan ruang-ruang kota. Dengan karakteristik yang menegaskan antara cara berekspresi  dan pemilihan lokasi, public art memperlihatkan kepada kita bagaimana ruang diperlakukan dan memainkan peran dengan menciptakan dialog dua arah antara publik dan seniman.

Kenyataannya, di Indonesia tidak ada pemetaan sejarah yang jelas mengenai public art. Hal ini disebabkan karena tidak adanya dokumentasi dan gerakannya yang cenderung sporadis. Menurut Ardi, public art pertama di Indonesia dilakukan oleh seorang seniman bernama Haris Poernomo di Yogyakarta tahun ’70-an  yang melakukan performing art membukus dirinya dengan perban –layaknya mummy—berkeliling kota sambil mengendarai sepeda motor.

Beberapa contoh dokumentasi public art yang dipresentasikan kepada peserta  berasal dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung di tahun ’90-an. Bentuk ekspresinya pun macam-macam, seperti membuat rambu jalan “Tambal Ban” yang ditempel menebeng pada tiang jalan, melingkari lubang-lubang jalanan dengan cat putih alih-alih menulis papan peringatan Awas Ada Lubang, dan pameran hasil jepret kamera berbagai tukang foto keliling di Monas.

Untuk menulis mengenai Seni Rupa Publik, Ardi memberi rumus tersendiri yaitu dengan pengamatan langsung ke lokasi dan mewawancarai publik dan seniman. Tulisan mengenai public art sebaiknya dapat mengungkapkan posisi karya dengan persoalan sosial yang lebih luas kepada pembaca, dengan tidak melupakan penggambaran akan keterlibatan publik dengan karya.

Siang menjelang sore, workshop diteruskan oleh Hafiz Rancajale, founder ruangrupa dan Forum Lenteng yang membahas tentang Estetika Gambar Bergerak. Untuk memberi pemahaman, diputarlah film-film Avant Garde di tahun 1920-an dan 1930-an yang menampilkan gambar-gambar unik dalam diorama hitam-putih.

“Apa itu Video Art?”, Hafiz melempar pertanyaan.

Agaknya peserta cukup kesulitan untuk mendefinisikan karya tersebut, begitu juga dengan kemunculan jenis seni ini yang baru muncul pada 1970-an dan menimbulkan fenomena tersendiri di kalangan seniman. Video Art tidak lepas dari kultur video yang mulai diadaptasi oleh masyarakat ketika media massa dan broadcasting menjadi alat penunjang atau medium dalam mempresentasikan video. Elemen komplementernya berupa kaset video,TV, kabel, bahkan sofa sekalipun.

Dengan menggunakan medium frame video,  Video Art memungkinkan senimannya untuk mengeksplorasi jauh dan menghidupkan ‘gambar’ dengan polesan audio maupun narasi visual yang menyegarkan. Kumpulan video art dari Jean Gabriel Periot menjadi sebuah contoh unik kepada peserta bagaimana foto-foto dipindahkan secara dramatik maupun tumpang tindih yang membentuk rangkaian ekspresi artistik.

*) Annayu Maharani

Comments (0)

Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7458

Bingung, adalah kata yang terlontar saat saya disuruh membuat review workshop hari ini. Kegamangan saya antara lain karena pemampatan materi filsafat dari jaman Plato sampai Gilles Deleuze yang bagi saya sangat asing. Kalau dihitung-hitung, dengan pengurangan rata-rata asumsi waktu hidup Deleuze dikurangi dengan rata-rata asumsi waktu hidup Plato sekitar 2340-an tahun. Dan pada hari ini, materi yang berkembang selama 2000-an tahun itu dimampatkan dalam waktu bersih workshop 4,5 jam. Antara terkesima, senang, apaan dah ini?, sampai berkali-kali mengalami goncangan psikis yang berakhir dengan bengong, semua terasa dalam paparan kurang dari 5 jam ini.

***

Hari keempat Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa ini terlihat berbeda semenjak saya bangun pagi. Gara-gara workshop ini, saya jadi menemukan pola gaya hidup yang lain. Biasanya saya memang bangun tidur pukul 11 siang, dan itupun belum 100 persen sadarkan diri. Hari pertama workshop pun saya juga begitu, susahnya bangun pagi menjadi problem utama dan banyak keluhan di sana-sini, seolah tubuh menolak aktivitas baru ini. Namun pada hari keempat ini, seakan tiada keluhan diri atas permasalahan sebelumnya. Saya naik kereta dengan senang, menyebrang jalan dengan santai, sarapan juga enak, dan jalan kaki dari Stasiun Tebet-ruangrupa yang katanya sekitar 15 menit bisa terasa hanya 5 menit saja.

Sesampainya di ruangrupa, seperti biasa suasana chaos tempat worksop menjadi sapaan pagi paling wajib. Saya melihat ada kudapan sayur-sayuran di mangkuk sisa semalam, piring dan nampan yang masih berserakan. Dan entah kenapa semuanya terlihat memiliki nilai estetis yang sayang untuk dibereskan. Suasana seperti inilah yang menemani saya dan rekan-rekan workshop hari ini dengan pembahasan mengenai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Seni Rupa Kontemporer” yang sering saya plesetkan sebagai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Diri Sendiri”. Berat.

Seperti biasa, worksop yang telah dijadwalkan pada pukul 10:00 pagi dimulai pukul 11:00. Dalam hal ini terasa sekali bahwa hukum relativitas Einstein berlaku sekali. Dilatasi waktu sangat terasa, seakan-akan waktu di-rundown dan di kehidupan nyata selisih 1 jam. Dan peserta worksop pun baru berkumpul 3 orang saja plus pemateri. Mbak Mitha Budhyarto sudah datang sebelum jam 10 bahkan, sedangkan peserta mulai berdatangan ketika pukul setengah 12 siang.

Pada workshop kali ini, peserta yang hadir berjumlah 7 orang dari 8 yang menyatakan ikut. Yang berhalangan hadir kali ini adalah TjaTja, mahasiswi dari Sastra Belanda yang masih (sepertinya) berkutat dengan bimbingan skripsi.

***

Terdapat dua sesi dalam penyampaian materi, pertama terkait dengan pemikiran filsafat Yunani Kuno sampai pada Nietzsche. Sesi kedua adalah estetika di awal abad 20 sampai pada wacana-wacana seni rupa yang melampaui kritik.

Sesi pertama, pemaparan mbak Mitha Budhyarto yang juga berprofesi dosen dan kurator ini yang paling asyik untuk disimak. Pada dasarnya saya suka diceritakan sejarah, apalagi dengan visualisasi gambar-gambar membuat pemaparan semakin menarik. Pemahaman yang saya dapatkan pada korelasi antara seni rupa dan filsafat adalah “tanpa filsafat seni rupa kering, begitu sebaliknya”. Penjelasan yang runut dengan visualisasi-visualisasi di layar, ditambah lagi Mbak Mitha juga menarik secara visual membuat sesi pertama seperti diceritakan dongeng dengan mengendarai mesin waktu. Intinya, sesi pertama sangat sayang sekali untuk dilewatkan.

Inti pemikiran Ancient Greek, Abad Pertengahan, Renaisans, Pencerahan dan Era Romantik merupakan pokok-pokok yang dibahas pada sesi pertama ini. Saya tidak memaparkan satu persatu pemikiran filusuf dari jaman Yunani Purba sampai Nietzsche ini karena kapasitas saya yang masih belum mumpuni untuk menjelaskannya. Mungkin info lebih lengkapnya bisa dikonsultasikan langsung kepada pakar yang lebih kredibel seperti Mbak Mitha ini.

Pada sesi kedua, semuanya terasa berbeda setelah makan siang. Menu makan siang tiap hari di RuangRupa bervariasi. Hari ini menyajikan sambel goreng ati dengan pencuci mulut sepotong melon. Meskipun menu makanannya sambel goreng ati, namun worksop hari keempat tidak makan ati.

Dampak kenyang-kenyang bego melanda saya. Kopi yang telah dibuat tidak mempan untuk menahan rasa bengong. Apalagi setelah dijelaskan mengenai estetika di awal abad 20. Gagasan-gagasan nyeleneh muncul. Kemunculan Gerakan Dada merupakan pengaruh yang sangat besar terhadap gagasan yang melebihi kritik setelahnya. Pokok-pokok pembahasan pada estetika di abad 20 meliputi formalisme, Teori Kritis & Frankfurt School, Poststrukturalis, Dekonstruksi, potensi kreatif dan materialis dan lain-lain.

Sesi kedua seakan ingin memuntahkan keasyikan-keasyikan paparan sesi pertama tadi. Sebagai orang yang awam filsafat, saya baru tahu jika ada gagasan-gagasan seperti itu. Layaknya minum air garam, semakin banyak minum semakin haus. Sama seperti gagasan-gagasan ini, semakin saya tidak tahu. Maka dari itu tidak jadi saya pikirkan. Susah bagi saya untuk menjelaskannya. Info lebih lengkap mengenai bahan bisa diakses di ruangrupa. Layaknya orang norak saya baru berpikir: kok ada ya orang mikirnya sampai kayak gini. Dan ternyata memang ada, dan saya baru tahu di 21 tahun usia saya.

Gagasan-gagasan tentang potensi kreatif dari materialitas yang dijelaskan dalam karya Superlight oleh Ardi Gunawan. Bagaimana karya seni tergantung dari bagaimana kemampuan materialnya. Pergeseran definisi dan kompleksitas pemahaman tentang seni memang tidak terlepas dari perkembangan pemikiran filsafatnya. Yang lebih gila lagi tentang wacana melampaui kritik. Hal ini dikarenakan terdapat potensi-potensi yang bisa lebih dieksplorasi daripada sekedar kritik. Maka dari itu muncullah konsep wacana seni rupa yang bertugas memobilisasi dan mengaktivasi gagasan-gagasan baru. Yang lebih menarik lagi adalah pertanyaan-pertanaan di kepala: kalau sudah begini, apa lagi selanjutnya? ini yang membuat penasaran. Saya bukan filusuf, saya hanya penasaran saja.

Penjelasan materi selesai setengah jam lebih awal dari rundown. Saya bersyukur kelas ini selesai lebih awal. Di luar ruangan suasana sedang hujan dan menimbulkan efek lembab di dalam ruangan. Di luar, selesai pemaparan Mbak Mitha, Erbi dan Maria masih asyik berdiskusi tentang filsafat. Terdengar samar-sama di kuping saya mereka membahas Nietzsche, dipikiran saya: ya ampun, masih aja dibahas. Dan dengan semena-mena Andan menunjuk saya menulis review workshop hari ini.

Kudapan kembali disajikan dengan menu mutakhir, aneka jajanan pasar mulai dari kue pie, semangka, kue sus, bolu-boluan, dan lain-lain diatas nampan. Saya melihat bahwa filsafat postmodern ini mirip seperti jajanan pasar ini. Saya tidak tahu alasannya apa mengatakan ini, tapi entah mengapa hanya ingin mengatakannya saja. Setelah hujan reda, saya kembali ke stasiun Tebet bersama Erby dan Jenni yang searah jalan pulangnya. Saat sampai di stasiun, untungnya saya dan Erby langsung mendapatkan kereta yang berdesak-desakan penuh. Kami paksakan saja masuk kereta, toh kalo dipaksakan masih muat. Saya jadi teringat karya Superlight yang dipresentasikan tadi, kayaknya mirip juga. Jangan-jangan gerbong kereta dan orang-orang didalamnya ini merupakan salah satu karya seni Deleuzian. Ah sudahlah….

 *) Hardiat Dani Satria

Comments (0)

Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 21 June 2013 by jarakpandang

photott

Juni yang melekat dalam ingatan saya adalah Juni yang kering. Kering karena kemarau biasanya terjadi di Juni. Namun, Juni 2013 kali ini berbeda. Hujan telah turun berkali-kali membasahi. Saya jadi berpikir, jangan-jangan kering yang seharusnya dibawa Juni pindah ke keringnya kritik seni rupa sekarang ini.

Diskusi dalam workshop kali ini yang membahas soal sejarah kritik seni rupa oleh Pak Bambang Budjono begitu menarik. Sayang, Bintang, salah satu peserta workshop tidak datang. Berbagai pertanyaan pun meluncur dan menjadikan kelas hari ini menjadi begitu hidup dan asyik.

Ada dua poin besar yang saya catat dalam pertemuan ketiga workshop yang dibawa oleh Bambang Budjono. Pertama, soal kritik seni rupa hari ini. Kedua, terkait modal dalam menulis kritik seni rupa.

Ternyata kekeringan kritik seni rupa sekarang ini terjadi sepanjang perjalanan perkembangan seni rupa itu sendiri. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain. Kemudian, yang menjadi pertanyaan, mengapa kekeringan itu terjadi? Padahal, di Indonesia, kita memiliki berbagai macam yang diperlukan dalam menulis kritik seni rupa. Kita memiliki seniman, kurator, galeri, pendidikan seni rupa yang dapat dikatakan memadai, pameran pun seringkali diselenggarakan. Walaupun, kalau melihat keadaan museum kita yang masih jauh dari kata baik.

Permasalahannya, terletak pada sulitnya mengumpulkan dokumentasi pameran-pameran dan karya atau tulisan mengenai perjalanan sejarah seni rupa, serta sedikitnya penulis kritik seni rupa. Jika ditilik, sekarang ini, media untuk menulis kritik seni rupa itu sendiri pun begitu terbatas. Terbatas di katalog atau surat kabar.

Pembahasan yang menarik bagi saya adalah ketika Pak Bambang mengungkapkan bahwa sejak semula, kritik seni rupa di Indonesia menumpang perkembangan di dalam kritik jurnalistik. Kritik jurnalistik tersebut, dapat dikatakan yang telah menghidupi kritik seni rupa dari awal sampai sekarang ini. Namun, sayangnya, kritik seni rupa yang hidup dalam surat kabar dan menghiasi rubrik seni dan budaya hanyalah permukaan saja. Tentunya, itu juga berarti bahwa tidak semua peristiwa seni, pameran seni rupa, terekam di dalamnya.

Dalam perjalanannya, orang Indonesia yang menjadi pelopor penulisan kritik seni rupa di Indonesia adalah Sutan Takdir Alisjahbana (1908—1994), seorang sastrawan besar dan ahli tata bahasa Indonesia, yang terdapat di dalam Majalah Poedjangga Baroe. Saya pun jadi teringat, bahwa sekarang ini bukan hanya kritik seni rupa saja yang kering, kritik sastra pun berada dalam fase kritis karena selesai pada tugas-tugas kuliah anak sastra. Sementara itu, majalah seni dan kebudayaan tidak dapat bertahan lama.

Pernah juga kritik itu berjamur pada era 1950-an ketika majalah kebudayaan banyak memuat kritik seni rupa. Sayangnya, majalah-majalah tersebut tidak berlangsung lama karena mentok pada soal pendanaan.  Hal itu tentu dipengaruhi pada masa Orde Baru yang membuat semua orang kemudian memikirkan untung rugi.

Dalam kesempatan ini, Pak Bambang juga berbagi soal modal apa saja yang diperlukan dalam menulis kritik sastra. Beliau berulang kali menyebutkan pengalaman estetika merupakan hal pertama dan utama dalam menulis kritik seni rupa. Pengalaman estetika dalam melihat karya tersebut kemudian dipadukan dengan kemampuan menulis yang mumpuni. Juga terkait dengan elemen-elemen lain seperti kepekaan visual, sejarah seni rupa, komposisi warna, perbandingan dengan seniman lain, latar belakang seniman, atau dengan memakai pemikiran filsuf tertentu untuk memaknai suatu karya.

Pada akhirnya, gambaran besar soal kritik, bukanlah soal sesuatu yang membangun. Akan tetapi, bagaimana dapat menimbang suatu karya baik dan buruknya. Dengan demikian kritik itu dapat menjadi jembatan antara seniman dengan publik, sehingga publik juga dapat mengapresiasi karya si seniman. Subjektifitas menjadi penting, sekalipun tetap ada nilai-nilai universal yang dapat diacu.

Meminjam kata Pak Bambang, bahwa awalnya berangkat dari pengalaman estetika dan berakhir dengan pengalaman estetika. Workshop kali ini pun menjadi semacam candu yang (semoga) membuat kami ketagihan untuk terus menulis kritik seni rupa.

*) Jenni Anggita

Comments (0)

Catatan Hari II:  Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari II: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 19 June 2013 by jarakpandang

photo H2

Ada dua acara yang dijadwalkan untuk hari ke-2 workshop ini: mengunjungi pameran seni rupa dan penyampaian materi oleh pembicara. Pameran yang dikunjungi adalah pameran “Jalan Gambar” S. Teddy Darmawan di Galeri Salihara, Pasar Minggu.  Pameran ini cukup menarik, karena sang seniman menawarkan eksplorasi lain dari drawing. Pada acara kedua, Agung Hujatnikajennong berhalangan hadir sehingga materi “Penulisan Kritik Seni Rupa” diganti oleh presentasi dari ruangrupa.

Diwakili oleh Reza Afisina, biasa disapa Asung, ruangrupa menceritakan perjalanan mereka yang dimulai sejak tahun 2000 di Jakarta. Dengan dokumentasi yang memadai dan runut serta penuturan Asung yang bersemangat, presentasi sejarah ruangrupa menjadi menarik dan memancing pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta. Acara-acara yang digiatkan oleh ruangrupa cakupannya luas, seperti pameran, festival, laboraturium seni rupa, penelitian dan penerbitan jurnal. Kolaborasi dan saling membuka kesempatan tampaknya membuat ruangrupa dapat bertahan dan aktual. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki jaringan di dalam dan di luar negeri.

Banyak yang bisa dicatat dari perjalanan ruangrupa selama sepuluh tahun lebih. Saya jadi teringat betapa bahasan mengenai alternative space selalu seru diperbincangkan melalui kuliah sosiologi seni di kampus, namun mendengar langsung dari para penggeraknya, ternyata lebih seru lagi. Kepedulian ruangrupa pada permasalahan ‘ruang’ dan ‘urban’ mungkin menjadikannya berbeda dengan alternative space lain yang ada. Isu-isu yang direalisasikan dalam program ruangrupa mungkin bisa ditemukan kemiripannya dengan program dari art space atau komunitas lain, namun intensitas masing-masing art space dalam mengusung misi merekalah yang memberikan variasi.

Isu dan program tersebut bertujuan untuk berkomunikasi dengan publik dan mengintervensinya. Misal dalam proyek mural yang digarap ruangrupa pada era 2000-an awal di bawah layang-layang jalan, bukan hanya elemen estetis saja, tetapi memiliki pesan. Intervensi ruang publik melalui mural ini tidak hanya menyentil publik, tapi juga menyentil aparatur keamanan, yang saat itu masih belum jelas regulasinya mengenai seni di ruang publik.

Program-program yang mereka garap bahkan lebih kompleks dan bergaung dari program yang ada di galeri atau museum. ruangrupa dapat sangat kontemporer- kekinian-nyeleneh dengan gagasan dan visual mereka; namun juga menjadi anti thesis terhadap infrastruktur seni rupa yang baku; sekaligus berinisiatif fluxus sebagai alternative space. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki karakter yang organik.

ruangrupa pun secara diplomatis menempatkan dirinya pada medan sosial seni rupa, melalui ruru gallery yang dihadirkan untuk menjawab tantangan art market. Menarik akan apa yang disampaikan Asung, bahwa galeri adalah ruang presentasi, tak sebatas ruang pamer saja.

Diskusi pun makin memanas ketika hari bertambah sore dan piring-piring berisi kudapan disajikan. Sebelum acara hari itu usai, para peserta dibagikan salinan bahasan mengenai ruangrupa yang dimuat dalam jurnal luar negeri.

*) Maria Josephina

Comments (0)

Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 18 June 2013 by jarakpandang

photo

Determinasi lingkungan boleh jadi yang menyebabkan sebagian besar kemalasan dan sikap santai masyarakat Indonesia yang berada dibawah iklim tropis. Seperti yang ‘sudah biasa’ terjadi pada acara-acara yang dilaksanakan di Indonesia, begitu pula pertemuan pertama Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual  2013 yang diadakan ruangrupa, di kota Jakarta yang nampaknya sudah sangat overload, keterlambatan menjadi hal yang dimaklumi. Waktu yang sudah ditentukan pada jam 10.00 WIB mundur hingga hampir satu setengah jam.

Tahun 2013 adalah tahun ke-6 diselenggarakannya workshop penulisan yang selalu diikuti dari berbagai penjuru Indonesia, tahun ini sendiri terdapat tiga pendaftar dari luar Jakarta yang diterima; Saya (Ahadi Bintang) dari Yogyakarta, Anggraini Herman dari Makassar, dan Ryan Sheehan Nababan dari Sukoharjo yang mengabarkan tidak bisa mengikuti workshop karena berhalangan. Dua di antara sepuluh peserta lainnya juga tidak datang, sehingga hari pertama hanya dihadiri delapan orang. Waktu yang mundur dari jadwal kami manfaatkan untuk  berkenalan dan ngobrol.

Terdapat hal yang cukup unik dari komposisi peserta workshop ini, ternyata ada dua peserta yang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup kontras dengan seni rupa, yaitu Anggraini Herman yang baru saja lulus dari Jurusan Fisika, dan Hardiat Dani Satria, seorang mahasiswa Jurusan Kriminologi. Dengan latar belakang pendidikan yang beragam, hampir semuanya memiliki ekspektasi yang berbeda juga ketika mengikuti workshop ini, ada yang memang ingin menjadi jurnalis, membantu penulisan skripsi, atau ingin mencari pengalaman tentang seni (rupa) dan penulisannya lebih jauh.

Acara dimulai dengan perkenalan (kembali) secara formal yang dibuka oleh koordinator workshop yaitu Mirwan Andan dan Asep Topan yang juga alumni workshop penulisan tahun 2011. Setelah makan siang, kami disuguhkan dengan presentasi kegiatan-kegiatan ruangrupa yang sudah berdiri sejak tahun 2000, tentunya juga tentang Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual. Mirwan Andan menceritakan baik-buruk serta lebih-kurang dari workshop ini, setelah enam kali diadakan. Kebanyakan memang alumninya menjadi intens menulis.

*) Ahadi Bintang Mulyawan

Comments Off on Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement