Archive | January, 2013

img_0265

Tags: , , ,

Uang Kertas Mujirun

Posted on 07 January 2013 by jarakpandang

“Banggalah pada pekerjaanmu, fokus dan tekun, insya Allah akan sukses”

Itulah pesan Pak Mujirun saat saya berkesempatan bersua dengannya. Siapakah Pak Mujirun? Pria bermata teduh dan murah senyum tersebut adalah seorang Engraver atau pengukir gambar. Bukan ukir gambar sembarangan karena Pak Mujirun adalah engraver bagi uang-uang kertas yang dicetak Peruri.

“Setiap membuat 1 lukisan untuk mata uang, saya butuh 4-6 bulan dik, satu lukisan itu prosesnya lama dan harus teliti” beliau menambahkan. Pak Mujirun memang menggunakan skala sama persis dengan lukisan yang ada di uang kertas. Jadi dia harus menggunakan suryakanta saat melukis. Saat saya memperhatikan hasil karyanya melalui suryakanta, saya melihat permainan garis-garis yang amat tipis dia torehkan pada karyanya. Luar biasa.

Pak Mujirun mendapatkan pendidikan formal dari Sekolah Seni Rupa Yogyakarta ini kemudian mengikuti seleksi di Peruri untuk menjadi calon engraver menggantikan engraver senior sebelumnya. Dari sekian banyak yang diseleksi, Pak Mujirun lolos dengan 3 orang lainnya, setelah melalui tahap akhir akhirnya Pak Mujirun lolos menjadi satu-satunya calon engraver di Peruri. Setelah itu Pak Mujirun diberangkatkan ke Italia untuk belajar engrave lalu ke Swiss untuk belajar engrave standar mata uang.

Yang dikerjakan Pak Mujirun bukan pekerjaan mudah dan remeh. Engrave bagi mata uang adalah salah satu pengaman mata uang, sehingga perlu dibuat serumit mungkin namun tetap menghasilkan gambar yang realistis. Proses kerja Pak Mujirun adalah menggambar diatas Plat Baja, kemudian dia ukir gambar – gambar mata uang tersebut di atas pelat baja tersebut. Pak Mujirun harus melakukannya perlahan, garis demi garis, teliti dan tidak ada kesalahan.

Proses pembuatan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan tersebut tidak mudah, Pak Mujirun harus mengukir pelat baja dengan alat ukir khusus berujung mirip huruf V, komposisi gambar seperti gelap terang, bayangan, hingga lukisan tersebut berdimensi dibedakan dengan ukiran-ukiran garis pada pelat baja tersebut. Proses ini tidak boleh salah sedikitpun, karena jika ada kesalahan berarti master cetakan itu rusak dan Pak Mujirun harus mengulang lagi proses engrave itu dari awal. Bisa dibayangkan tingkat ketelitian dan presisi hasil kerja Pak Mujirun tersebut.

“Latihan saya begini ini dek, nggambar orang kapan saja, saya bawa buku kecil begini, gambar. Ini contohnya, pas saya gambar orang ngaji”

Pak Mujirun membeberkan rahasianya, berlatih menggambar menurutnya melatih kepekaan rasa. Itulah kunci sukses Pak Mujirun, dengan terus berlati dan mengolah rasa. Semua gambar yang ia buat adalah kumpulan – kumpulan arsiran garis yang kemudian bersatu membentuk gambar utuh. Pak Mujirun mencontohkan, ketika dia hendak membuat mata, dia membuat lingkaran dahulu sebagai pola awal. Kemudian dia membuat arsir, garis-garis kecil untuk membentuk mata, membuat mata tampak berdimensi dan akhirnya menghasilkan satu gambar mata utuh.

“Ini karya pertama saya mas, uang 1000 Sisingamangaraja, lalu itu yang di pigura adalah hasil karya-karya saya”

Pak Mujirun menunjukkan karya-karyanya. Saya hanya geleng-geleng kepala, selama ini uang yang saya masukkan dompet, terlipat-lipat sampai lecek rupanya merupakan karya seni yang luar biasa rumit dan indah.  Dan Pak Mujirun yang ramah ini adalah maestronya.

Dulu selain menjadi engraver, Pak Mujirun juga melukis lepas. Karya-karyanya dihargai tinggi karena tingkat kerumitan yang tinggi. Contohnya gambar Presiden SBY itu senilah 25 juta rupiah. Nilai itu wajar karena proses pembuatan lukisan dengan metode arsir ini butuh waktu lama dan ketelitian tinggi. Untuk 1 potret wajah seukuran A 4 lama pengerjaannya adalah 1 bulan. Pun dengan tekhnik langka yang ia miliki, tentunya wajar jika lukisan-lukisannya dihargai tinggi.

Kini Pak Mujirun sudah pensiun dari Peruri, menikmati hari tua di bilangan Ciledug dengan melukis dan berbagi ilmu kepada siapapun. Jika dianalogikan Pak Mujirun sudah mencapai tahap Pandhita, menyepi dari riuh duniawi dan membagi ilmu.

 “Profesi bapak termasuk langka ya?” tanya saya.

 “Iya dik, selepas saya pensiun dari Peruri masih ada 4, cuma yang bisa ngukir gambar di pelat baja kayaknya cuma saya, tapi saya yakin pasti akan ada penerusnya” Jawabnya dengan senyum khas dan logat jawanya yang ramah.

Saya berpamit kepada Pak Mujirun, mendapatkan berbagai pelajaran dalam obrolan singkat namun bermakna. Dan sungguh saya beruntung bisa bertemu dengan Pak Mujirun, maestro engraver Indonesia.

*Oleh: Farchan Noor Rachman 

Penulis, pelancong paruh waktu, dan Pegawai Negeri Sipil. Sedang berusaha menerbitkan buku pertamanya.

Comments (0)

Insting Perupa Muda

Tags: , ,

Insting Perupa Muda

Posted on 07 January 2013 by jarakpandang

 Insting : daya dorong utama pd manusia bagi kelangsungan hidupnya (seperti nafsu berahi, rasa takut, dorongan untuk berkompetisi); dorongan untuk secara tidak sadar bertindak yang tepat    -Kamus Besar Bahasa Indonesia-

10 perupa muda sedang berpameran di Taman Ismail Marzuki dari tanggal 5-13 Januari 2013. Mereka memang muda, statusnya masih mahasiswa. namun jangan meremehkan kemampuan berkaryanya. Dikuratori Angga Wijaya, juga masih mahasiswa, pameran bertajuk Animal Instinct ini mengetengahkan beragam karya dan gaya. Karya lukis, grafis, ilustrasi, instalasi, performance, serta video yang mengetengahkan konsep-objek dalam kaitannya dengan hewan.

Insting dalam pengertian ini dapat terkait dengan niat mereka untuk mengadakan pameran bersama ini. Menurut Angga, pameran ini dilakukan dengan ‘diam-diam’ tanpa bantuan dari pihak kampus maupun dosen. hal ini tentu saja dapat dilihat sebagai bentuk positif. semangat dan kemandirian mereka dalam menghelat sebuah pameran patut diacungi jempol. dipersiapkan sejak satu tahun sebelumnya, memperlihatkan kesungguhan mereka dalam pameran ini.

Sejatinya mereka adalah calon tenaga pendidik seni rupa. Dipersiapkan dengan sangat matang untuk menjadi pengajar. Oleh karena itu, fokus utama bukan pada penciptaan karya. Stigma menjadi guru ini rupanya terlalu melekat, sehingga nampak tidak ada kemungkinan untuk memilih jalur lain. Menjadi seniman profesional misalnya. Lewat pameran ini, mereka ingin menunjukkan kemampuan mereka sekaligus membuktikan eksistensi mereka sebelum nantinya masuk ke dalam dunia seni rupa yang lebih luas.

Secara teknis, karya-karya yang tampil dalam pameran ini tersaji dengan baik dan layak. Menurut sang kurator, setiap pameris diberikan kesempatan untuk menampilkan karya sesuai dengan ketertarikan mereka. Maka jangan heran, anda akan banyak menemukan gaya yang lazim berada di tembok jalanan sebagi karya street art semacam mural atau wheatpaste. Tengok karya Dhado Wacky Human Wild, berupa lukisan cat acrylic di atas permukaan kayu. Tiga sosok serupa manusia, memiliki tangan dan kaki namun berkepala seperti binatang dengan tengkorak di wajahnya. Mereka saling bergulat, seperti berkelahi, ingin saling serang, saling bunuh.

Human Wild - Dhado Wacky

Karya ini jelas-jelas menggunakan pekerti karya street art. Warna-warna kontras, karakter, serta pesan yang lugas. Dalam sekali lihat kita dapat mengerti bahwa Dhado berupaya menerjemahkan sifat liar manusia terhadap sesamanya, mungkin lebih liar dari binatang itu sendiri.

Dalam karya HOPE, Muchlas ‘Daftpig’ menampilkan tiga buah panel berukuran 90 x 120 cm. diletakkan dalam posisi berurutan, portrait-landscape-portrait. Ketiga panel itu menarasikan cerita tentang seekor babi dan (laki-laki?) pemiliknya. Babi ini —berwarna pink dan hanya punya ekspresi melotot— bermandikan cokelat, boncengan di sepeda dengan pemiliknya, dan terakhir menggunakan baju terusan; bergandengan tangan. Kita boleh berkhayal bahwa ini adalah harapan si babi, dari binatang yang haram dan selalu menjadi objek konsumsi, menjadi hewan yang dipelihara dan disayang. Atau sebaliknya, ini merupakan harapan dari Muchlas tentang hubungan antara manusia dengan hewan yang selama ini hanya bersifat memakan-dimakan?

HOPE

Kerja keras lebah dalam membangun koloninya, menjadi inspirasi bagi Moch. Hasrul untuk menciptakan karya instalasi-interaktif LED EAT BEE. kata LED memang menunjuk pada lampu kecil yang bercahaya terang itu. Hasrul membuat rangkaian listrik dari sepeda statis menuju susunan lampu LED yang dipasang di tembok. Pengunjung harus mengayuh pedal sepeda dengan cukup cepat agar bisa melihat lampu LED itu bersinar-sinar. Cahaya yang dihasilkan akan membentuk stilasi siluet dua ekot lebah yang sedang terbang. Karya ini cukup unik dan berbeda dari karya lain yang ada disini.

Namun sayang, proses eksekusi terutama pada bentuk stilasi lebah terbang kurang digarap dengan baik. Jika tidak melihat judul, pengunjung sulit menerka-nerka bentuk yang dihasilkan oleh cahaya tersebut. jarak pandang dari tempat sepeda ke dinding juga sepertinya perlu pertimbangan lagi.

Bentuk-bentuk imajinatif juga muncul dalam karya. M. Haryo Utomo, dalam THE P.O.P ia menghadirkan lukisan serupa unta dengan pemiuhan disana sini. Kita hanya bisa mengenali bentuk unta dari punuk yang terdapat di satu dua lukisan. Hewan imajiner itu punya dua kepala. Ada pula yang punya 5 kepala dengan leher berbentuk lambang peace kaum hippies. Haryo juga menggambar di banyak kanvas. 6 kanvas dengan ukuran berbeda-beda digunakan sebagai tempat berdiam, hewan imajinernya itu.

THE P.O.P

Rishma Riyasa, nampak juga tertarik dengan bentukan fantasi. Ia —dengan kemampuan menggambar yang baik— menggabungkan bagian-bagian antara hewan dengan manusia. SIMBIOSIS judul karyanya. Rishma seolah ingin membicarakan tentang hubungan (saling menguntungkan) antara manusia dan hewan di sekitarnya.

SIMBIOSIS

Terkait dengan hubungan manusia dan lingkungan sekitarnya, Adi Dhigel memberikan perlambangannya dalam Hujan di Kampung Semut. Menggunakan teknik cukil kayu dan hand colouring, karya berukuran besar ini menggambarkan suasana kegiatan kerja bakti di sebuah perkampungan. Tokoh-tokoh dalam karya ini, mirip-mirip dengan karakter Petruk buatan Tatang S. Dhigel dengan cerdik menyindir pola hubungan manusia dengan sesamanya, yang semakin sulit untuk berinteraksi.

Hujan di Kampung Semut.

Teknik pewarnaan dikerjakan dengan rapi dan telaten. Kita bisa merasakan keriuhan kerja bakti lewat berbagai macam gestur yang ditampilkan. Dhigel tentu saja ingin menyandingkan sifat manusia dengan semut yang selalu bekerja keras. Atau bisa jadi ini adalah harapan Dhigel, agar manusia bekerja lebih giat daripada semut yang bahkan masih bekerja saat hujan.

Beberapa karya jenaka ditampilan oleh Amy ‘simonyetbali’ dan Anita Bonit. Ami dengan ciri khas gambar komikalnya, sedang mempermainkan lukisan Michaelangelo ‘The Creation of Adam’. Lukisan di langit-langit Chapel Sistine yang menggambarkan kisah penciptaan manusia pertama di dunia itu diparodikan oleh Amy. Ia mengganti posisi Adam, yang sedang duduk bersandar dengan seekor kera. Kemudian, posisi ‘Tuhan’ digantikan oleh seorang laki-laki berkacamata hitam, bertelanjang dada, ditemani beberapa hewan bermata satu. Laki-laki itu sedang menyuapi si kera dengan pisang.

The Creation of Adam

Sementara ketertarikan Anita Bonit pada anjing nampak dalam karya DOGGIE STYLE. judul yang ambigu, apalgi jika tidak melihat karyanya secara langsung. Bonit menyajikan tujuh buah lingkaran kain dengan ukuran bervariasi. Setiap bagian tengah kain tersebut Bonit menampilkan cetak saring berbentuk anjing dengan pose akrobatik. Dari sini kita baru benar-benar paham Bonit memang menampilkan anjing yang bergaya.

DOGGIE STYLE

Daniel Ferryansyah memberikan instingnya sebagai perupa dalam melukis karya INSTING dan NEGATIVE INSTINCT. Daniel mungkin satu-satunya perupa yang tidak menggambarkan objek binatang maupun judul yang berkaitan dengan binatang. bagi Daniel, insting yang ia maksud adalah sesuatu yang sifatnya spontan dan tidak direncanakan. Maka tidak heran jika kemudian ia menmapilkan karya yang murni lahir dari instingnya untuk berkarya.

INSTING dan NEGATIVE INSTINCT.

Satu-satunya karya non-dua dimensi yang hadir dalam pameran ini adalah aksi performans dari Riezky Ponga. Karya berjudul INTERAKSI ini menceritakan tentang proses percampuran yang saling melengkapi. Ponga melambangkannya dengan menggunakan es campur. Susunan mangkuk berbentuk segitiga dilengkapi dengan lilin di tengahnya. Tiap mangkuk itu dihubungkan dengan seutas tali, yang berujung pada mesin serutan es. Ponga memulai aksinya dengan menyerut batu es; menaruh ke dalam mangkuk; mencampurkan sirup di atasnya; menyalakan lilin. Proses itu dia lakukan berulang-ulang hingga seluruh mangkuk terisi es, dan lilinnya menyala. Ponga seolah sedang meniru pola interaksi dalam hidup manusia. Kita bertemu, bercampur, saling berinteraksi dan berhubungan.

INTERAKSI

Proses kerja kurator juga terbilang cukup baik. Tata letak karya, cahaya, serta pemanfaatan ruang pameran dilakukan dengan maksimal. Hanya saja sedikit kelemahan pameran ini ada pada penerjemahan tema yang seakan-akan menjadi terlalu eksplisit. Tema yang disuguhkan seolah ditelan dan diterjemahkan begitu saja; tidak ada konteks yang lebih luas yang disinggung dalam karya. Kurator nampaknya mempunyai pekerjaan yang mesti dibereskan untuk mendorong teman-temannya menciptakan karya yang lebih berani masuk ke dalam konsep pemikiran dan diolah secara matang.

Insting mendorong manusia untuk secara tidak sadar melakukan hal yang dianggap benar. Maka kita boleh berharap lewat pameran ini mereka tidak lagi sekedar mengikuti insting. Namun mampu berperan secara sadar dan aktif sebagai perupa yang tajam untuk dapat mengenali masalah di lingkungan sekitar, tajam untuk menyampaikan konsep-konsep dengan lugas ke dalam tiap karya mereka dan tajam untuk menciptakan perubahan dalam seni rupa Indonesia. Sekali lagi, selamat!

* tulisan oleh Leonhard Bartolomeus foto oleh Angga Wijaya

*)Keduanya adalah kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement