Archive | November, 2012

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Tags: , , ,

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Posted on 18 November 2012 by jarakpandang

Oleh: Asep Topan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti pada Jakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread, dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih kecil, jarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

Comments (0)

Berjejaring, Berbagi, Berdaya

Tags: , , ,

Berjejaring, Berbagi, Berdaya

Posted on 16 November 2012 by jarakpandang

 

Suasana Diskusi INF2012

Dalam salah satu karya kanonik dari Chuck Palahnuik, Fight Club. Ada sepotong momen yang bagi saya sangat komikal tapi juga sangat menarik untuk dicermati. Adegan ketika Tyler Durden berdebat dengan belahan kepribadiannya yang lain. “The house had become a living thing.” Kata Tyler. “Wet inside from so many people sweating and breathing. So many people moving, the house moved.” Fragmen kalimat So many people moving, the house moved barangkali sebuah representasi paling menarik untuk bisa menggambarkan kemunculan kebudayaan yang lahir bersama Internet.

Jum’at sore menjelang hujan deras di salah satu sudut Tirtodipuran. Sekumpulan anak muda larut dalam diskusi mengenai kebudayaan kolektif. Setidaknya itu yang saya maknai ketika hadir pada gelaran Indonesian Neaudio Festival I 2012 (INF2012). Bertempat di Kedai Kebun, Jogjakarta, sebuah festival off-line digelar untuk sarana tatap muka para pelaku, pemerhati, dan penikmat netaudio di Indonesia.

 

oleh Ivan Lanin perwakilan dari Creative Commons Indonesia

Apakah Netaudio itu? Dalam situs resmi Indonesian Net Label Union, net audio adalah aktivitas berbasis audio yang bergerak di dunia virtual, bagian dari kehidupan nyata kita, Internet. Keberadaan net audio sedemikian melekat sehingga ia menjadi keseharian. Tak terbilang data yang kita bagi setiap hari namun hanya sedikit yang memahami jika aktifitas itu adalah sebuah proses kebudayaan. Dalam lingkup yang lebih khusus hal tersebut bisa menjadi sebuah subculture baru yang oleh Antariksa, peneliti di KUNCI Cultural Studies Center, disebut sebuah aktifitas ‘kebanggaan berbagi tanpa sebab’.

Wok The Rock, dedengkot musik Jogja yang juga pendiri netlabel Yes No Wave, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi sudah sangat gegas. Sementara dunia semakin sesak dengan keberadaan individu yang terus berebut ruang eksistensi. Sehingga perubahan strategi dalam pengembangan karya mesti berubah pula. “Saya pernah bikin label rekaman fisik. Produk utama yang laku malah merchandise, kasetnya gak. Sempat hampir bubar sebelum akhirnya beralih pada produk online,” kata Wowok.

INF yang diselenggarakan selama dua hari pada 16-17 Nopember ini melibatkan banyak kegiatan. Seperti diskusi perihal kebudayaan net audio, loka karya streaming radio, dan aktifitas file sharing musik rilisan dari Yes No Wave. Menjadi menarik adalah aktifitas berbagi ini merupakan sebuah anti tesis bagi mereka yang mengagungkan hak cipta. Dengan semangat Gift Economy, para pegiat Net Label ingin melawan stigma bahwa memiliki musik harus dengan membeli menggunakan uang.

 

Berbagai Produk Hasil Kreasi Net Label

“Tapi apakah dengan berbagi kita bisa sejahtera?” pertanyaan yang menjadi perdebatan hebat dalam diskusi sore itu. Masing-masing pihak memiliki pembelaannya sendiri. Nuraini Juiastuti pembicara utama yang juga peneliti dari KUNCI Cultural Studies Center, menyatakan bahwa kemungkinan kesejahteraan bisa terjadi dengan adanya distribusi pengetahuan. Pertanyaan yang sama juga disampaikan oleh Ivan Lanin perwakilan dari Creative Commons Indonesia. “Dalam teori kebutuhan Maslow, seseorang akan berbagi. Tapi apakah hanya itu saja? Saya kira berbagi juga perihal sikap dermawan dan memberi hadiah,” katanya.

Acara yang juga dihadiri berbagai netlabel dari berbagai kota di Indonesia ini berlangsung meriah. Jarak bukan halangan bagi beberapa netlabel yang berasal dari luar kota Jogja seperti Inmyroom Records (Jakarta), Hujan! Rekords (Bogor), StoneAge Records Depok, Mindblasting (Jember), Tsefula / Tseuelha Records (Jatinangor), Kanal 30 (Malang), Lemari Kota (Depok), Experia (Bandung), Deat Tiwikrama (Australia), Megavoid (Malang), Flynt Records, Valetna Records (Semarang) dan dari lokal Jogja sendiri seperti Yes No Wave, Soundrespect, Ear Alert Records dan Pati Rasa Records.

Hari berikutnya bertempat di LAF Garden, Jl. Suryodiningratan No. 37, Yogyakarta INF 2012 akan diramaikan dengan Pertunjukkan Musik yang dimulai dari pukul 16.00 sampai dengan 23.00 WIB. Barisan pengisi acara hari itu adalah Seek Six Sick, Frau, Bottlesmoker, Belkastrelka, Sangkakala, Serigala Jahanam, Sodadosa, Terapi Urine, Creo Nova dan Dream Society. Menjelang malam harinya INF2012 akan melakoni Gig ke II yang bertajuk Mashup Party di Oxen Free, Jl. Sosrowijayan No. 2, Yogyakarta. Tentu dengan para musisi yang terdiri dari TerbujurKaku, Umaguma + Lintang dan Fyahman.

Gelaran acara ini boleh jadi yang pertama mengusung usaha untuk memanfaatkan jaringan net label sebagai basis pergerakan. Melalui berjejaring dan berbagi para pejuang virtual ini berusaha membangun subkultur yang sangat dekat dengan inti gerakan filantropis, berbagi adalah untuk berdaya.

 

Oleh: Arman Dhani

Perhatian: Untuk kalian yang ingin mengetahui lebih banyak perihal acara ini sila ikuti laman twitter: @idnetlabelunion.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement