Archive | September, 2012

P1030288

Tags: ,

Seni di Sudut Sunyi Singapura

Posted on 13 September 2012 by jarakpandang

Berkunjung ke negeri singa Singapura, bayangan tentang kota besar yang tidak pernah tidur mendandak menjadi kenyataan. Hampir setiap sudut dipadati gedung pencakar langit yang gemerlap, serta lalu lalang manusia yang padat dan cepat. Dari mulai kawasan distrik bisnis di Central Area sampai dengan Pulau Sentosa di sisi selatan. Dari mulai pusat perbelanjaan sampai pusat edukasi, semua tertata rapi. Memang, tata letak kota yang efisien dipadu dengan teknologi tinggi membawa peradaban negara ini selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Namun potret Singapura yang high class ini ternyata tidak bisa menjangkau semua kalangan ke dalam satu frame. Cobalah berkunjung ke daerah-daerah yang kurang terkenal. Anda akan menemukan komplek apartment usang yang dihuni oleh kalangan menengah ke bawah. Sebuah potret lain yang terabaikan dari megahnya negeri singa. Di kawasan MacPherson misalnya, ada sebuah galeri seni yang bertema “Tribute to Vincent Van Gogh”. Jauh dari kesan eksklusif museum art yang ada di Marina Bay, galeri seni MacPherson ini justru dibuat di pilar-pilar dinding di lantai dasar apartment Pipit Road Blok 56. Proyek galeri seni ini diadakan oleh Social Creative, yang mana saya berkesempatan menjadi salah satu volunteer untuk proyek baru mereka disana pada hari Rabu (7/9/12) silam.

Social Creative adalah sebuah yayasan sosial yang bergerak dalam bidang seni. Sedikit anti-mainstream, mereka membuat galeri seni dengan konsep mural. Sejak tahun 2009, jejak-jejak karya organisasi ini sudah ada di Queenstown, Bras Basah Complex, Punggol, and Marina Barrage. Tentunya masing-masing galeri seni memiliki temanya sendiri. Ketika sampai ke lokasi Void Deck Art Gallery, saya terkagum-kagum dengan konsep minimalis yang mereka terapkan. Lebih kagum lagi, di saat meludah sembarangan di Singapura pun diancam dengan denda $1000, masih ada yang mau repot-repot memperjuangkan agar membuat mural di tempat umum jadi legal.

Kala, perempuan keturunan India yang menjadi director of volunteer pada sesi tersebut menceritakan tentang proyek galeri seni di kawasan Pipit Road Blok 56 tersebut. Impian yang paling tinggi dari setiap seniman disini adalah mewujudkan Singapura yang berwarna-warni, secara visual maupun emosional. Galeri seni tersebut sengaja dibuat sejak tahun 2011 untuk membuat masyarakat di lingkungan itu melek seni. Konsep edukasi sosial lewat adaptasi karya seniman asing inipun nampaknya jadi hiburan tersendiri untuk masyarakat sekitar.

Tugas saya dalam grup volunteer adalah merenovasi galeri seni sederhana yang catnya sudah memudar tersebut. Sembari saya membuat pola cat di dinding, satu perempuan dan dua laki-laki seumuran saya duduk di sudut, memperhatikan. Senandung khas Melayu sesekali keluar dari mulut mereka sambil bercanda. Menikmati sore hari di sudut Singapura yang jauh dari rakusnya transaksi ekonomi yang tidak terjangkau kantong. Ataupun sekedar menertawakan pemerintah yang berkoar-koar agar perempuan dengan tingkat edukasi tinggi cepat-cepat menikah untuk menghasilkan generasi yang teredukasi pula, sementara perempuan kelas bawah dianggap angin lalu.Mungkin juga ingin melupakan stereotype kental yang melabeli setiap ras disini. Galeri ini sudah bertransformasi, tidak lagi sekedar jadi sarang karya seni, tapi juga sudut nyaman untuk berkontemplasi.

Di sudut satunya ada beberapa laki-laki paruh baya yang sedang nongkrong di dekat dinding lukisan “Blossom Almond Tree” sambil bercerita. Bisa jadi sebelum galeri seni ini ada, mereka tidak kenal dengan maestro pelukis post-impressionist asal Belanda tersebut. Sesudahnya pun mungkin mereka tahu, tapi tidak peduli. Lukisan yang aslinya seharga milyaran tentu saja tidak jauh lebih penting dari pajak penghasilan 15% itu.

Ada garis merah antara nyawa yang terkandung di lukisan-lukisan karya Van Gogh dengan atmosfer lingkungan galeri seni ini. Siapa sangka pelukis yang sudah menelurkan sekitar 900 lukisan dan 1100 gambar dalam 10 tahun terakhir hidupnya ini, adalah hasil dari lingkungan kumuh yang terabaikan di London. Lewat asupan semangat dari adiknya, Theo, Van Gogh akhirnya tetap menekuni dunia lukis walaupun pernah dikeluarkan dari sebuah sekolah seni. Karyanya yang khas dengan warna yang dinamis menjadi sorotan dunia. Publik dibuat terhanyut ke dalam emosi yang sarat dalam self-potrait yang konon kebanyakan terinspirasi oleh sang adik. Duplikat karya yang emosional ini seakan menyatu dalam dinding-dinding dingin ini. Berada di kehidupan yang miskin dan sakit-sakitan, Van Gogh berhasil menorehkan namanya untuk tetap dikenang sampai sekarang lewat karya seni.

Di tengah tingginya tuntutan hidup yang membuat orang-orang tak ubahnya menjadi robot hitam putih, masih ada sekelompok orang yang berjuang ‘memanusiakan’ Singapura lewat karya seni warna-warni. Mendadak pikiran saya melayang ke kota asal saya, Yogyakarta. Membayangkan mural sepanjang jalan menuju Malioboro. Ah, seni, memang tidak mengenal kasta.

Shofi Awanis*

mahasiswi Universitas Gajah Mada Jurusan Ilmu Komunikasi 2009.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement