Archive | August, 2012

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Tags: , ,

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Posted on 13 August 2012 by jarakpandang

Saya menikmati pameran Top Collection #3 tidak dari permukaan. Melainkan melihatnya secara subtil sebagai alegori, juga refleksi atas perilaku sehari-hari.

Oleh: Natasha Gabriella Tontey*

21 Juli 2012 lalu saya menyempatkan diri hadir di pembukaan pameran fotografi yang diselenggarakan oleh ruangrupa. Ketika memarkir mobil di depan rumah di jalan Tebet Timur Dalam Raya No. 6 itu, alangkah terkejutnya saya disambut mahkluk gaib yang bergelantungan bawah pohon. Mahluk itu seperti mengajak saya menerka-nerka niat apa yang kali ini ingin disuguhkan ruangrupa. Makhluk yang menjadi ‘tambatan hati’ bagi mereka yang ada di malam pembukaan pameran itu hadir sebagai salah satu karya.

Top Collection adalah proyek fotografi yang mewadahi berbagai eksperimentasi dan pewacanaan terhadap praktik fotografi. Sebagaimana dikatakan oleh kurator pameran, Julia Sarisetiati, fotografi kali ini ditinjau sebagai medium penghasil citra yang semakin masif digunakan dalam keseharian untuk berbagai kepentingan. Apapun peristiwanya, dari yang penting hingga yang paling remeh, kini bisa dikonsumsi publik. Kali ini Top Collection masuk pada kali ketiga.

Sejujurnya cukup sulit memahami pameran ini dilihat dari kaca mata penikmat fotografi murni. Yang ingin disampaikan oleh ruangrupa melalui pameran kali ini adalah peranan fotografi yang kian berkembang sebegitu demokratisnya. Ketika kamera yang disebut Oscar Motuloh sebagai ‘jendela pengintai’ (hanya merekam sejauh mata kita memandang dan sejauh mana kita mau memandang) kini tidak berfungsi hanya sebatas itu. Aktivitas fotografi tidak hanya terjadi ketika rana terbuka, film atau sensor menangkap cahaya selama sepersekian detik, kemudian diikuti oleh proses pengolahan gambar. Lebih jauh, aktivitas fotografi juga hadir melalui pengumpulan foto-foto temuan yang diarsipkan, diberi pembacaan, kemudian diperkenalkan kembali sebagai suatu karya. Jelas, tidak ada praktik fotografi konvensional di sini. Alih-alih, inilah metode untuk melihat gejala-gejala fotografis yang berlaku di masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah hilangnya kaidah-kaidah tradisional dari sebuah pameran foto membuat para peserta pameran ini menjadi juru foto? Apakah karya-karya yang ditampilkan di sini adalah karya fotografi?

Fotografi sendiri adalah penemuan penting setelah mesin cetak. Ia adalah salah satu revolusi dalam peradaban. Ia lahir sebagai teknologi yang diciptakan secara jenius untuk memproduksi realitas. Fotografi membekukan dunia secara singkat. Potongan-potongan peristiwa dalam sebuah gambar menjadi bukti atas terjadinya sesuatu. Sekejap fotografi masuk ke media massa. Kehadirannya disambut sebagai inspirasi besar. Sebagai perangkat dokumentasi. Tetapi medium ini terus berkembang lebih dari itu.

Mereka yang hadir di malam pembukaan mungkin ketakutan melihat foto kuntilanak yang dicetak di atas banner berukuran 250 x 80 cm yang digantung di bawah pohon di seberang RURU Gallery itu. Tetapi di saat yang sama kita menikmati rasa kaget itu. Di dalam galeri, karya ini dilanjutkan dengan kumpulan foto yang menangkap sosok hantu secara tak sengaja. Foto-foto mistis yang ditampilkan dalam format slide show pada layar LCD TV ini dilengkapi suara wawancara dengan orang-orang yang pernah terfoto dengan hantu. Inilah karya Reza Mustar berjudul Tampaknya Penampakan. Hantu, sebagai sosok yang dianggap membawa ancaman dan sumber kengerian, menjadi seperti buruan ketika orang berbondong-bondong heboh membicarakannya, bahkan mendokumentasikannya.

Seri Teman-teman Selebriti menceritakan pertemuan Agan Harahap dengan segelintir teman-teman ternamanya yang datang dari berbagai profesi. Di sini Agan memamerkan ‘realitas’ dirinya; mulai dari keakrabannya dengan 50 Cents, Muammar Qadhafi, Hassan Nasrallah, kisah cintanya dengan Sophie Ellis Bextor, Megan Fox, Stoya, hingga kolaborasi musiknya bersama Megawati Soekarnoputri. Foto-foto tersebut tampak nyata dan sangat bagus dari aspek pencahayaan. Mereka yang tidak mengetahui bahwa foto ini adalah karya Agan Harahap tidak akan mengira jika foto ini adalah hasil digital imaging. Di sini Agan secara satir melihat euforia masyarakat yang senang berfoto dengan artis-artis idola dan memamerkannya di linimasa media sosial. Hal ini terlihat dari ‘kesetaraan’ subjek, frame, dan sudut pandang dalam foto-fotonya.

Sejak adanya Facebook sifat kepemilikan foto semakin tidak terkontrol. Siapa saja dapat mengakses foto-foto yang sudah diunggah dan di-tag. Tidak ada larangan karena semua foto yang sudah masuk ke internet adalah milik publik. Reza Afisina mengumpulkan foto-foto performance dirinya serta foto bersama anaknya yang di-tag oleh kerabatnya. Asung menyusun kembali foto-foto itu seperti kolase dan mencetaknya di atas neon box. Terlihat secara sentimentil bahwa Reza Afisina tengah meng-highlight kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, seperti kita meng-highlight posting-an yang ada di Facebook kita masing-masing untuk mendokumentasikan hal-hal kecil yang mungkin mudah terlupakan.

Nissal Nur Afryansyah menyediakan photobooth yang melibatkan pengunjung dalam memproduksi karyanya. Suatu interaksi yang mewadahi kebutuhan beropini dan berekspresi. Dengan webcam kita dapat melihat rekaman diri sendiri. Kita juga dapat menentukan bagaimana kita ingin direkam, kapanpun, di manapun. Terlihat jelas bahwa hadirnya photobooth di tengah ruang pamer secara tidak langsung memancing perilaku asli pengunjung. Di dalam galeri atau ruang pamer, tempat di mana tidak lazim bagi orang untuk berperilaku seenaknya, kebanyakan orang menjaga citra dengan “behave”. Tapi tidak di RURU Gallery di mana pengunjung pameran seketika antusias dan terpancing untuk berfoto-foto seorang diri maupun dengan teman di depan photobooth milik Nissal. Inilah satu-satunya karya dalam pameran ini yang paling erat unsur fotografinya karena masih melibatkan interaksi langsung dengan subjek terfoto (dalam hal ini membuat potret diri sendiri) dan masih memperlihatkan adanya aktivitas memencet tombol shutter.

ruangrupa, dengan segala kebrengsekannya, membawa kita untuk memaknai sebuah dunia baru melalui medium ini. Saya setuju dengan apa yang pernah dikatakan Firman Ichsan dalam suatu bengkel kerja fotografi; bahwa fotografi mempengaruhi pandangan seseorang, mengajak kita masuk ke dalam pemikiran si juru foto, tetapi kita memiliki keterbatasan sekaligus keleluasaan untuk membacanya, baik secara estetis, psikologis, maupun ideologis. Para seniman dalam proyek ini menawarkan pengertian fotografi yang tidak lagi terbatas pada hubungan antara juru foto dan subjek terfoto, bukan pula sekadar apa yang disebut dengan “melukis dengan cahaya”. Top Collection #3 memberikan sebuah definisi baru tentang fotografi. Sebuah pengalaman lain dalam menjelajahi ruang-ruang visual tercetak.

*) Natasha Gabriella Tontey lahir pada 1989. Belajar fotografi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (2007) dan menyelesaikan pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (2007-2011). Berpartisipasi dalam workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual di ruangrupa (2012). Ia pernah terlibat sebagai partisipan di pameran Mata Perempuan (Jakarta Biennale 2011).

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement