Archive | July, 2012

Serrum Studio

Suara Tembok Kota

Posted on 16 July 2012 by jarakpandang

Seorang laki –  laki tengah menyobek poster kampanye pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Di sebelah, seorang rekannya sedang membuang ratusan lembar uang berwarna biru dan merah. Dari tengah – tengah mereka kemudian muncul sesosok makhluk asing. Tak jelas. Tapi ia membawa sebuah pesan yang penting. Pilkada Bersih tanpa Politik Uang.

            Itu bukan sebuah rekaan pikiran semata. Jika melintas di dekat Stasiun Kereta Cikini, niscaya citra imaji itu terlihat. Sebuah karya mural dari Serrum Studio itu menempati tembok kosong di dekat Stasiun Cikini itu memang menarik perhatian warga yang melintas. Terutama karena visual ‘pembuangan uang’ yang terlihat nyata dari jarak beberapa meter. Kadang, beberapa warga datang mendekat untuk sekedar melihat apakah uang tersebut nyata adanya atau hanya rekaan.

            Akan tetapi tidak banyak warga Ibukota yang tahu, bahwa karya mural itu merupakan salah satu dari 10  titik mural yang tersebar di seantero Jakarta. Mural – mural tersebut merupakan hasil kerja dari program Suara Warga Di Ruang Kota (SWDRK). Sebuah program yang dikerjakan bersama oleh RUANGRUPA, Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), serta The Asia Foundation.

Tujuan diadakan program ini, mengutip dari laman situs jejaringnya, merupakan sebuah upaya penyadaran yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat guna membangun kesadaran dalam meyuarakan aspirasi mereka, terutama terkait dengan isu Pilkada DKI Jakarta 2012. 5 street artist turut serta dalam porgram ini. Serrum Studio, Otakkanan, Stenzilla, The Popo, serta Jeanny dan Robowobo.

Selain tembok kota, beberapa seniman akan membuat 5 video art terkait dengan masalah – masalah yang ada di Jakarta. Slogan ‘ayo warga awasi janji’ menjadi landasan bagi program ini untuk mengajak peran serta warga ibukota untuk turut mengawasi dan menagih berbagai macam ‘janji’ yang telah diutarakan masing – masing calon gubernur saat berkampanye.

            Apa yang dilakukan RUANGRUPA ini menarik untuk diamati. Karena ada sebuah keberanian untuk berjalan di koridor yang terpisah dari yang lain. Di tempat lain misalkan, membahas isu pilkada dengan cara yang sama seperti dulu, dilakukan dengan diskusi – diskusi yang alot. Namun program SWDRK ini kemudian memilih street art serta video art, sebagai jalan untuk mengampanyekan kesadaran politik yang sehat bagi warga ibukota.

Mereka yang terlibat dalam program ini, diantaranya The Popo, Otakkanan, Serrum Studio, serta beberapa nama lainnya, tentu mengerti dengan baik bagaimana menciptakan dan menggabungkan elemen – elemen visual ke dalam satu rangkaian gambar. Dimana tentu saja di dalamnya memiliki tutur pesan dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Sebab karya – karya di tembok ini selain enak untuk dipandang juga harus mampu menyampaikan pesannya bagi siapa pun yang melihat, dari kelas manapun, dan dari latar belakang apa pun.

Beberapa mural yang dibuat, memang memberi pesan yang terang dan jelas untuk mereka yang melihat, tentang pentingnya mengawasi janji – janji. Menyoal pengawasan janji, hal ini harus dilakukan agar dapat tercipta pemerintahan yang bersih dan jujur serta memperhatikan kepentingan rakyat.

            Kehadiran gambar – gambar di tembok awalnya identik dengan sesuatu yang melawan. Beberapa kalangan, menyematkan istilah vandalism terhadap kegiatan ini. Padahal jika ditilik dari sejarah, gambar – gambar di tembok seperti sekarang juga pernah muncul pada zaman perang kemerdekaan. Tulisan – tulisan (belum dikenal istilah grafiti waktu itu) bertema perjuangan seperti ‘Boeng Ajo Boeng’, ‘Merdeka ataoe Mati’, ‘Freedom’, bertebaran di seisi kota yang porak poranda.

Kehadiran tulisan itu kemudian, mengamini apa yang dilakukan seniman street art  saat ini. mereka mengambil posisi sebagai suara rakyat yang tak kelihatan.

Coba simak karya dari The Popo. Warga Jakarta di wilayah selatan pasti kenal baik dengan karakter ciptaan Popo. Ia membuat karya dalam frame – frame dan pose layaknya foto calon gubernur dengan wakilnya. Hanya saja slogan dari pasangan itu terlihat sedikit unik, ‘Pemimpin Kita AMNESIA, Suka Lupa Sama Warga’. Sebuah sindiran dari kealpaan para calon untuk melaksanakan janji yang tertera pada poster kampanye mereka sendiri.

            Atau tengoklah karya Otakkanan. Dua buah mural besar mengisi ruang kosong di tembok daerah Daan  Mogot. Karya pertama menggambarkan dua orang wanita sedang berdialog. Mereka sedang bergunjing nampaknya. Sambil berbisik lirih seorang wanita berbisik pada yang lain, “ Jangan pilih CAGUB yang GOMBAL yaa..Jeeeng!!”.

Sementara pada karya kedua masih dengan gaya gambar yang sama. Namun, jika dilihat selintas mural ini mengingatkan dengan gaya poster propaganda Uni Sovyet sewaktu Perang Dunia II. Sepasang pria dan wanita sedang menenteng ban dan kunci pas. Mereka dilingkupi oleh garis lingkar merah yang terdapat tulisan,’PILIH DENGAN HATI!!’ sementara di latar bagian bawah, tampak siluet kota Jakarta dan tulisan ‘Pilkada Untuk Perubahan Jakarta Yang Lebih Baik’. Kedua karya mural tersebut dengan baik  menggambarkan fenomena politik yang telah masuk, dengan lebih serius di kalangan masyarakat.

            Entah disadari atau tidak, pemilihan street art sebagai medium dalam menyampaikan pesan kepada warga ini juga seperti simbolisasi gerakan perlawanan dan aktivisme. Street art, dalam berbagai pendapat dikatakan sebagai bentuk seni (rupa) yang mencoba melawan hegemoni kanon seni rupa di Barat. Sehingga tidak jarang banyak yang mengaitkan bentuk seni rupa ini dengan pergerakan – pergerakan politik dan revolusioner.

            Menurut Mirwan Andan, Koordinator Research and Development RuangRupa, proyek ini diharapkan dapat berjalan dalam jangka panjang, terutama sampai pemilihan umum presiden tahun 2014. Kehadiran proyek ini tentu dapat menjadi alternatif bagi  masyarakat dalam menyikapi kondisi politik di Jakarta, di tengah tekanan dari berbagai media massa yang mulai tidak berimbang pemberitaannya.

Program Suara Warga Di Ruang Kota ini juga diharapkan dapat menjadi sebuah momentum untuk lebih meningkatkan intensitas aktivisme seni. Khususnya dalam tugasnya untuk mendampingi dan mendidik masyarakat. Lewat karya – karya mural yang menarik perhatian mata, graffiti yang bermain dengan kata – kata satir, menggambarkan ironi para penguasa dan kaum mapan. Berharap akhirnya masyarakat akan terbangun dari mimpinya dan turut serta bersuara dalam ruang kota yang penuh warna.

Leonhard Bartolomeus*

*) Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

Comments (0)

Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

Posted on 04 July 2012 by jarakpandang

Menutup bulan Juni 2012, ruangrupa mengadakan pre-event (showcase) Jakarta 32°C 2012 di RURU Gallery. Jakarta 32°C adalah pameran dua tahunan (bienalle) karya visual mahasiswa Jakarta yang akan memasuki kali kelima pada tahun ini sejak diselenggarakan pertama kali pada 2004. Sebelum memasuki acara utama, ruangrupa bersama Komplotan Jakarta 32°C, selaku pengawas dan penanggungjawab acara ini, memutuskan akan mengadakan beberapa kegiatan ‘pemanasan’ yang salah satunya adalah pameran showcase ini.

Pameran yang akan diadakan hingga tanggal 6 juli 2012 ini menampilkan 10 karya terbaik dari dua penyelenggaraan Pameran Jakarta 32°C sebelumnya, yaitu karya yang berasal dari penyelenggaraan tahun 2008 dan 2010. Syahrul Amami, Daniel R.K. Kampua, Carterpaper, Gilang Merdeka, dan Tigersprong 3 adalah lima terbaik dari tahun 2008. Sedangkan dari tahun 2010 diwakili oleh Dhemas Reviyanto Atmodjo, Ficky Fahreza, Syaiful Ardianto, Angga Cipta, dan Komunitas Pencinta Kertas.

Menurut Indra Ameng, Koordinator Dukungan dan Promosi ruangrupa, bahwa tujuan diadakannya pameran showcase ini adalah sebagai pengingat akan adanya pencapaian estetik yang khas dan kemunculan gagasan-gagasan segar dalam perkembangan terakhir karya-karya visual dari mahasiswa Jakarta. Selain itu acara ini memang sepertinya bertujuan untuk memprovokasi semangat berkarya mahasiswa di Jakarta. Lagi, menurut Ameng, secara pribadi Ia mengharapkan karya-karya baru yang lebih segar dan lebih baik lagi. Karya yang lebih bandel dan lebih eksperimental.[i]

Dari karya yang dipamerkan pada showcase Jakarta 32C kali ini dapat terlihat keberagaman karya yang selalu tampil setiap tahunnya. Mereka, para peserta, selalu menawarkan sebuah sudut pandang baru mengenai kota Jakarta ini. Walaupun kadang ada kesamaan material dan medium yang digunakan, tetap saja memiliki pesan yang jelas berbeda satu sama lain. Hal ini dapat disimak pada dua karya fotografi. Daniel Kampua mengangkat isu mengenai identitas kebudayaan dan pluralisme (‘Petjes’ Identitas Hidupku,2008) sedang Dhemas Reviyanto mengangkat persoalan ironi kehidupan di Jakarta (The Wall, 2010). Kedua karya ini, cukup berhasil untuk menyampaikan pesan yang ingin diangkat, yakni tentang budaya dan kehidupan di Jakarta.

Adapula mereka yang bergelut dengan masalah transportasi. Kemacetan, kurangnya armada transportasi serta semrawutnya pengorganisasian kendaraan umum di Jakarta adalah isu yang masih tetap hangat untuk diangkat dan diketengahkan di dalam ruang pameran. Ficky Fahreza, menanggapi persoalan berlarut – larut yang terjadi pada moda transportasi paling murah di negeri ini, Kereta api. Dalam karyanya (Thousand Talk, 2010) ada sebuah ironi keadaan mengenai buruknya manajemen transportasi kereta api, namun di satu sisi masih merupakan satu – satunya moda angkutan yang paling terjangkau kaum menengah ke bawah.

Dicaci dan Dicari, 2010

Lain halnya dengan Komunitas Pencinta Kertas (KPK), lewat karya bajaj kertasnya (Dicaci dan Dicari, 2010).  KPK seolah ingin mempersoalkan ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan armada transportasi yang layak. Bajaj, di satu sisi kerap dikeluhkan orang sebagai sumber polusi dan macet, belum lagi dengan tingkah laku pengemudi yang suka ‘nyelonong tanpa permisi’. Akan tetapi di sisi lain, kehadiran bajaj masih diperlukan sebagai angkutan umum yang terjangkau dan tersedia 24 jam.

Karya Syahrul Amami (Tambalan, 2008) sedikit banyak mengingatkan pada karya ruang publik dari Handy Hermasyah (Loebang Loebang Djalanan, 2003)[ii]. Pada karya ini Syahrul menggambar bentuk – bentuk seperti tambalan/jahitan pada jalan – jalan aspal ibukota. Persoalan buruknya kualitas jalan yang terjadi di Jakarta, rasanya sudah menjadi makanan sehari – hari warganya. Jalan yang bolong acapkali hanya ditambal seadanya. Asal tertutup. padahal jalan yang tidak rata, terutama pada jalan – jalan protokol bisa menimbulkan bahaya bagi kendaraan yang melintas di atasnya. Syahrul, sama seperti yang dilakukan oleh Handy di Bandung pada 2003, mencoba meningkatkan ‘kesadaran’ para pengendara yang melintas, untuk berhati – hati dan mengurangi kecepatan saat melihat bagian jalan yang ada ‘jahitannya’. Karya ini juga merupakan kritik sosial bagi pemerintah yang dianggap lalai dalam memperhatikan urusan keselamatan warganya. Sedang pada karya Carterpaper (Resign System, 2008), lagi – lagi kurangnya tanggapan pemerintah pada sistem transportasi menjadi sebuah tema yang menarik. Mereka ‘merancang’ ulang serta dengan ‘sukarela’ membuat sign system untuk warga Jakarta: sebuah hal kecil dan sepele yang mungkin terluputkan dari mata pemerintah.

Persoalan budaya Jakarta juga menjadi isu yang banyak diangkat dalam pameran Jakarta 32°C. Karya Tigersprong 3 (Benyamin S: Muke Gile…!,2008) merupakan sebuah karya video selama 15 menit yang membicarakan soal Benyamin Sueb. Seorang seniman multi bakat berdarah Betawi asli. Ada video – video film Benyamin, lagu -lagu yang pernah ia buat dan nyanyikan, serta tanggapan dari beberapa warga Jakarta mengenai sosoknya. Berbeda lagi kasusnya pada Syaiful Ardianto, atau biasa dikenal Jah Ipul. Dia mengangkat sisi negatif dan budaya kriminalitas yang marak terjadi di Jakarta (Welcome to The Trap City, 2010). Sebuah kanvas besar dengan elemen grafis tengkorak berwarna merah, seolah siap menerkam warga Jakarta. Rasa-rasanya karya ini perlu dipasang sebagai banner di samping tugu – tugu selamat datang di seantero Jakarta sebagai pengingat akan bahaya yang selalu mengintai di setiap sudut kota ‘penjebak’ ini.

Karya Angga Cipta (24 Jam Sibuk Jakarta, 2010) tampil seperti sebuah brand kebudayaan urban yang lumrah di Jakarta. Sebagai kota sibuk, pusat perputaran bisnis dan ibu kota negara yang rumit, Jakarta (dan warganya) seolah tidak pernah punya waktu istirahat, sehingga selalu sibuk selama 24 jam. Angga menciptakan beberapa objek dari ‘proyek’ tersebut: ada stiker, wallpaper handphone, wallpaper komputer, dan lainnya. Jenis karya yang sama dapat ditemui pada karya Gilang Merdeka (Magrudergrind, 2008) yang seperti menciptakan sebuah proyek factory outlet (distro) lewat karya-karya ilustrasinya. Budaya distro sendiri sudah menjadi bagian tersendiri dari perkembangan gaya hidup anak muda di Jakarta. Aplikasi yang dibuat oleh Deka, demikian ia biasa disapa, di atas kaos, poster, serta beberapa bentuk interaktif lainnya.

Sepuluh karya tersebut tentunya belum mencerminkan seluruh pandangan mahasiswa Jakarta dalam memandang kota ini. Namun, setidaknya karya-karya ini dapat menjadi tolak ukur mengenai keberagaman berkarya para mahasiswa di Jakarta. Masih ada beberapa event lagi, yang akan diselenggarakan sebagai pra-kondisi Pameran Jakarta 32°C yang kelima. Yang jelas, kegiatan Jakarta 32C ini akan terus berjalan sebagai ajang untuk memperluas jaringan antar satu kampus dengan kampus yang lain, dengan harapan kegiatan kolaborasi antar mahasiswa dapat terus terjadi.[iii]

Selamat Mengapresiasi!

Leonhard Bartolomeus*

*) Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

 


[i]    Katalog Pre-Event Jakarta 32°C 2012, Indra Ameng, 2012.

[ii]   Informasi lebih lanjut mengenai Handy dan karyanya dapat dilihat di http://archive.ivaa-online.org/archive/artworks/detail/4178/Artist/231

[iii]   Katalog Pre-Event Jakarta 32°C 2012,  M. Sigit Budi S. 2012

Comments Off on Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

Berkawan dengan Kelampauan

Tags: , ,

Berkawan dengan Kelampauan

Posted on 04 July 2012 by jarakpandang

Ditayangkan kembali secara nasional, Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail menyapa lagi penonton muda Indonesia melalui jaringan bioskop XXI. Mal Panakkukang, mal terbesar di Makassar Sulawesi Selatan, jadi salah satu tempat pemutaran di kawasan Indonesia timur.

“Film ‘serius’ sering ditinggalkan penonton…”, begitu kalimat yang menggaung di kepala saya waktu berniat menonton film ini. Begitu saya dan dua orang teman tiba di tempat pembelian karcis, mata saya tertuju pada layar komputer si kasir: ada dua puluhan kursi di Studio 5 XXI Mal Panakkukang sudah terisi. Lumayanlah, pikir saya, kami tidak sampai menonton bertiga saja. Kata ‘serius’ di dalam kalimat tadi bisa saja berarti ‘film drama’, ‘fakir adegan kelahi’, ‘minim adegan tembak-tembakan’, ‘kurang adegan percintaan’, ‘mesti mengerutkan kening’, atau ‘tanpa banyolan’.

Setelah empat tahun menanggalkan status sebagai penonton bioskop, Lewat Djam Malam menyeret saya untuk menjejakkan kaki kembali di atas lantai berkarpet tebal jaringan bioskop raksasa ini. Itu pun saya sadari ketika mau membayar tiket seharga tiga puluh ribu rupiah. Masih terang-benderang di ingatan, terakhir menonton film saya masih membayar lima belas ribu rupiah. Saya lupa judul film terakhir yang saya tonton di bioskop. Bahkan perubahan tipologi bioskop ‘21’ menjadi ‘XXI’ pun baru belakangan saya tahu.

Kami memutuskan tetap masuk kendati terlambat sepuluh menit dari jadwal pemutaran. Menunggu 120 menit lagi cukup menguras kesabaran. Kami duduk di deretan kedua paling belakang. Seperti biasa, deretan kursi itu adalah deretan idaman kawula penonton—baik buat berasyik-masyuk dengan pasangan maupun agar jarak pandang lebih leluasa ke layar.

Duduk di kursi B9, saya mendengar banyak tawa sebab tingkah polah para pelakonnya. Lima menit setelah menyandarkan punggung, rupanya masih ada dua orang yang lebih belakangan dari kami masuk ke dalam teater. Tapi tak lama berselang, sepasang laki dan perempuan, mungkin duduk di deretan kursi sebelah, berjalan menuju pintu Exit. Selebihnya, saya fokus ke layar.

Lewat Djam Malam pertama kali saya tonton di TVRI. Film hitam putih di televisi hitam putih. Tempo itu saya duduk di kelas VI SD. Kurun waktu itu pula, stasiun televisi milik pemerintah ini selalu memutar film Indonesia di acara Film Akhir Pekan (yang kerap didahului dengan Laporan Khusus). Tapi seingat saya, Lewat Djam Malam diputar menjelang perayaan kemerdekaan. Program Film Akhir Pekan pun kerap memutar film bernuansa revolusi. Maka menahan kantuklah saya untuk menonton Lewat Djam Malam ketika itu. Berkali-kali saya harus lari ke kamar mandi untuk membasuh wajah dengan air. Lumayan manjur. Tapi benak kanak-kanak saya sejujurnya hanya memburu adegan tembak-tembakan.

Bertahun-tahun kemudian ingatan saya tergerus. Tak ada satu pun adegan yang saya ingat dari Lewat Djam Malam. Mungkin karena dulu saya tertidur di awal-awal film ini. Tetapi yang paling menyangkut di kepala saya adalah wajah muda Netty Herawati, pemeran Norma. Netty pada akhir dasawarsa 1980-an bukanlah bintang asing. Wajah ayu Netty kerap muncul di film-film Rhoma Irama seperti Penasaran (1976), Raja Dangdut (1978), dan beberapa film lain. Biasanya aktris itu berperan jadi ibu lengkap dengan kebaya.

Kini Lewat Djam Malam mendatangi saya bertahun-tahun kemudian, tepatnya dua hari sebelum saya merampungkan tulisan ini di pekan pertama Juli 2012. Kini yang tinggal di pikiran saya tidak hanya wajah segar Netty Herawati, tetapi juga beberapa hal penting seperti bahasa yang dipakai dalam dialog para aktor. Sungguhlah elok mendengar cakap-cakap para pelakon di dalam gambar bergerak macam itu. Amatlah senang saya mendengar tuturan awal film-film kita, rupanya, bernuansa Melayu kental. Apalagi kala para penikmat pesta di rumah Norma berbalas pantun memakai lagu Rasa Sayange.

Betapa berharga pula Lewat Djam Malam khususnya bagi warga Bandung, kota yang menjadi latar film ini. Suasana klasik Bandung akan mengembalikan memori para warganya atau orang yang pernah mendatangi kota itu dulu, yang kini berusia enam puluhan tahun, untuk mengenang tempo-tempo itu.

Setelah Iskandar tertembak dan digotong naik ke rumah Norma oleh empat CPM, menampaklah tulisan “Kepada mereka jang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan njawa mereka supaja kita jang hidup pada saat ini dapat menikmat segala kelezatan buah kemerdekaan… kepada mereka jang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri”.

Lampu menyala. Rupanya usai sudah film ini. Yang tertinggal di bioskop hanya lima orang. Saya bertiga, dan dua laki-perempuan di ujung barisan kursi kami. Kami tertawa. Rupanya kami tidak sadar penonton lain sudah meninggalkan film dari masa kelampauan ini.

Beraneka tanggapan tersiar dalam tulisan-tulisan tentang film ini di banyak media. Tapi sekali-sekali kita butuhlah ‘mesin waktu’ semacam ini untuk menengok kota lama dan kata-kata lawas. Untuk ini, biarlah saya menjadi penonton sekaum dengan Iskandar, yang oleh Gafar disebut “siapa yang tidak bisa melawan kelampauan dia akan hancur.”

Mari kita berkawan dengan kelampauan.

*) Anwar Jimpe Rachman menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar. Kini ia bergiat di Tanahindie, sebuah inisiatif intelektual di Makassar.

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement