Archive | May, 2012

Catatan: Bandung Contemporary Art Awards 2012

Tags: , , ,

Catatan: Bandung Contemporary Art Awards 2012

Posted on 21 May 2012 by jarakpandang

Di tengah medan seni rupa Indonesia yang penuh keterbatasan, hadirnya sebuah inisiatif harus dilihat dengan penuh apresiasi.

Ajang penghargaan adalah salah satu mata rantai dalam infrastruktur kebudayaan. Apresiasi sama pentingnya dengan produksi, distribusi, konsumsi, dan eksibisi. Penghargaan diberikan oleh sebuah institusi (pemerintah atau masyarakat) sebagai bentuk pengakuan atas kualitas dan pencapaian, untuk mendorong munculnya aktivitas produktif yang lebih baik di kemudian hari.

Perlu diingat bahwa sebuah ajang penghargaan tidak bisa menjadi tolok ukur yang mutlak. Ia hanya salah satu versi penasbihan yang tentu saja subjektif dan bisa diperdebatkan. Tetapi di Indonesia, ajang penghargaan begitu langka sehingga satu inisiatif saja sangat mungkin dilihat sebagai representasi umum. BaCAA berada dalam konteks ini. Dengan memakai nama kota dan menjadikan seni rupa kontemporer nasional sebagai ruang lingkupnya, ajang ini sebetulnya mengemban beban yang besar.

Ajang penghargaan yang ideal dapat mewadahi pihak-pihak di dalam suatu infrastruktur. Dalam konteks seni rupa: seniman, karya itu sendiri, kurator, kolektor, pengelola galeri (swasta dan pemerintah), kritikus, penulis, wartawan, inisiatif festival, manajerial, dan masyarakat. Maka suatu ajang penghargaan memiliki dua fungsi sekaligus; fungsi komersial dan fungsi sosial. Pada fungsi kedua, (ajang penghargaan) seni rupa berkewajiban untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui transformasi pengetahuan. Bahwa perkembangan gagasan dan wacana harus sampai kepada publik.

Apa yang terjadi di Indonesia: fungsi komersial berjalan lebih aktif, lewat peran kolektor, pihak galeri, dan segelintir kurator. Sementara lembaga pendidikan seni, pengarsipan, dan media massa ada di sisi yang lain, dengan segala keterbatasannya. Absennya peran negara dan tiadanya tradisi museum (institusi di mana sejarah disusun secara runut), tentu bukan alasan untuk tidak memperbaiki keadaan. Gambaran ini perlu digunakan dalam melihat betapa timpang sesungguhnya medan seni rupa Indonesia. Ketimpangan yang diwariskan dari masa lalu.

Dalam konteks ini, BaCAA belum menjadi perhelatan yang lengkap, setelah dua kali diselenggarakan (2011 dan 2012). Ajang ini masih semata bicara pada seniman (sebagai produsen) dan para investor (kolektor, pemilik galeri, dan art dealer). Kepada para seniman muda, BaCAA memberi cukup peluang lewat berbagai fasilitas, mulai dari sejumlah uang, wisata biennale di luar negeri, hingga kesempatan residensi. Kepada para investor, BaCAA menjamin keberlangsungan aktivitas produksi karya seni. “These artworks belong to the artists or artist groups and should be available for sale, demikian salah satu persyaratan dalam aplikasi terbuka. Hal tersebut memperlihatkan besarnya kesadaran ekonomi (transaksi, investasi) dalam ajang ini. Namun demikian, komposisi tim juri terdiri dari empat elemen yang beragam: dua orang seniman, dua kurator, dua kolektor, dan seorang wartawan. Keragaman ini diharapkan berdampak pada majemuknya sudut pandang penilaian. Sehingga dapat diasumsikan bahwa karya yang dianggap baik telah memenuhi aspirasi keempat elemen tersebut.

Penghargaan dan Distribusi Pengetahuan

Keputusan sebuah ajang penghargaan adalah pernyataan sikap dan pandangan dewan juri beserta penyelenggara. Dalam BaCAA, keputusan itu adalah cermin dari apa yang ingin dikatakan tentang seni rupa Indonesia kontemporer. Di sinilah, setidaknya, letak fungsi sosial yang bisa ditawarkan oleh sebuah ajang penghargaan. Keputusan inilah yang menjadi “pengetahuan” dan bisa dibagi kepada masyarakat, salah satunya melalui peran media massa. Lewat keputusannya, dewan juri dan penyelenggara bertanggung jawab, tidak hanya pada peserta, tetapi juga pada publik seni rupa dan masyarakat luas, untuk mengemukakan latar belakang yang mendasari dipilihnya sebuah karya sebagai yang terbaik.

Pertimbangan apa yang digunakan untuk memprioritaskan karya tertentu? Apakah ada isu yang mendesak dan turut mempengaruhi proses ini? Di samping pertimbangan tren pasar seni rupa, yang juga sama pentingnya. Argumentasi ini harus dikomunikasikan secara utuh dan terbuka. Di sinilah justru peran sebuah ajang penghargaan dan kredibilitas penjurian (lebih luas lagi, mekanisme ‘kuratorial’) diperlihatkan.

Berdasarkan pencarian di dunia maya, tidak ditemukan data resmi berupa argumentasi yang utuh dari penyelenggara BaCAA terkait keputusan ini, bahkan di situs resminya sendiri. Penulis hanya menemukan satu pernyataan salah seorang dewan juri yang dikutip dari TEMPO.CO, 25 maret 2012:

“Dewan juri lebih tertarik pada karya-karya media alternatif, seperti video atau fotografi yang punya daya pukau. Kita sudah jenuh dengan media dua dimensi yang biasa-biasa saja. Selain itu, kecenderungan pasar dunia sekarang lebih ke media alternatif selain lukisan atau patung”. Demikian ucap Syakieb A. Sungkar.

Daya pukau seperti apa yang dimaksud para juri? Mengapa mereka lebih tertarik pada media alternatif? Apa hanya karena jenuh oleh media dua dimensi? Apa karena pasar seni rupa interasional kini mulai beralih ke media baru? Apakah tugas dewan juri dan penyelenggara sudah selesai setelah nama-nama pemenang diumumkan?

Andy Warhol, Sinetron, dan Posisi Seniman 

Dipilihnya medium berbasis video sebagai karya terbaik secara berturut-turut dalam dua kali penyelenggaraan BaCAA cukup menandakan signifikansi medium ini di ranah seni rupa Indonesia hari ini. Tahun 2011, karya video Anggun Priambodo berjudul Sinema Elektronik (4’, 17”, 2009) ditetapkan sebagai karya utama dalam kompetisi. Di tahun kedua, Eat Like Andy (4’, 2011) karya Yusuf Ismail juga ditetapkan untuk kategori yang sama. Sebagai catatan, keduanya ditampilkan secara perdana di perhelatan OK. Video, festival seni video pertama di Indonesia yang digagas ruangrupa. Sinema Elektronik pertama kali dipresentasikan di OK. Video COMEDY (2009) dan Eat Like Andy adalah commisioned work untuk OK. Video FLESH (2011).

Sinema Elektronik dan Eat Like Andy sama-sama mengetengahkan isu apropriasi dalam ranah (seni) media. Anggun Priambodo menertawakan habis-habisan kehadiran sinetron dan acara opera sabun murahan di televisi swasta Indonesia, yang jumlahnya terus menanjak sejak penghujung 90-an. Di video ini Anggun memainkan semua tokoh stereotip dalam sinetron-sinetron Indonesia, lengkap dengan latar ruang dan benda-benda di sekelilingnya. Anggun menggunakan video pembuka (opening title) sinetron sebagai pendekatan. Irama lagu, pencahayaan, warna, ritme, hingga bentuk huruf yang dipakai adalah apropriasi total terhadap program acara yang disaksikan dengan begitu rakus oleh jutaan orang itu. Drama, tragedi, komedi, telah bercampur dalam bentuk yang tak lagi bisa dikenali.

Melalui Eat Like Andy, Yusuf Ismail mengingatkan kita pada berakhirnya orisinalitas dalam aktivitas produksi seni rupa. Di video ini dapat dilihat bagaimana seorang seniman mati-matian meniru seniman lain. Karya video instalasi ini menggunakan dua kanal televisi yang paralel: Yusuf di satu sisi dan Andy Warhol di sisi yang lain. Dalam pernyataan di blognya (fluxcup.blogspot.com), Ucup mengajukan pandangan betapa kini masyarakat dibanjiri berbagai citraan dan fetish tentang idola melalui teknologi informasi yang telah menjadi komoditas massal. Berangkat dari tesis ini, ia mengajak siapapun untuk memikirkan lagi posisi intelektual, nilai estetis, dan makna sosial seni rupa kontemporer. Tetapi sesungguhnya, apa yang ditawarkan Yusuf bukan sekadar kritik terhadap seni rupa Indonesia, tetapi juga pada medan visual secara umum. Di mana kemudian posisi seniman dalam konteks ini? Bagaimana seni rupa menentukan lagi posisinya di tengah lanskap sosial dan kultural yang tak lagi sama?

Hadirnya apropriasi dan berakhirnya orisinalitas sebagai aspek yang dibawa oleh kedua karya ini menawarkan lagi pertanyaan tentang mahakarya. Sebab perlu diingat bahwa video, sebagai medium audiovisual, dapat direproduksi dalam jumlah yang tak terkira. Anda bahkan bisa menyaksikan video Anggun dan Yusuf di YouTube, tanpa harus pergi ke galeri, atau meminta izin kepada kolektornya. Video adalah medium yang cair, terbuka, dan massal. Sifat-sifat dasar ini hendaknya dipahami sebagai pijakan dalam berhadapan dengan seni media.

*)Ibnu Rizal, Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009

 

Comments (1)

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa 2012

Tags: , , ,

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa 2012

Posted on 15 May 2012 by jarakpandang

ruangrupa kembali membuka pendaftaran untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual, setelah sebelumnya diadakan sejak tahun 2008. Workshop ini ditujukan kepada penulis muda yang memiliki minat terhadap seni rupa maupun budaya visual secara umum. Peserta workshop akan diseleksi berdasarkan tulisan-tulisan awal yang dikirimkan ke ruangrupa beserta syarat pendaftaran lainnya. Hasil akhir workshop ini berupa tulisan masing-masing peserta akan dimuat di sebuah situs berisikan tulisan-tulisan tentang seni rupa dan budaya visual, jarakpandang.net. Situs tersebut adalah media berkelanjutan dan dapat berkembang terus dimana para peserta workshop menjadi kontributor.

Workshop ini akan diisi dengan materi-materi yang berkaitan dengan seni rupa dan budaya visual secara umum serta kaitannya dengan isu-isu sosial dan politik, antara lain: Pengantar Penulisan Kritik Seni Rupa Kontemporer, Budaya Visual Kota dan Seni Rupa Publik, Penulisan Kritik Video dan Film, Pendekatan Referensial dalam Penelitian dan Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Kontemporer, Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual di Media Massa Umum dan Media Alternatif, Artist Talk, Konteks Sosial dan Politik dalam Penulisan Budaya Visual, dan Kuliah Umum.

Workshop ini akan diadakan di ruangrupa, Jakarta, 18 Juni – 29 Juni 2012.

 

Persyaratan pendaftaran:
1. Usia peserta antara 19 – 30 tahun
2. Mengirimkan contoh tulisan (minimal 2 karya tulisan, bisa berupa esai, reportase, ulasan, laporan perjalanan dan lain-lain)
3. Mengirimkan CV
4. Pendaftar memiliki minat terhadap seni rupa atau budaya visual dan kaitannya dengan isu-isu sosial atau politik
5. Pendaftar yang terpilih membayar biaya workshop sebesar Rp. 300.000,-

Kirimkan data-data persyaratan di atas ke: info@ruangrupa.org atau via pos ke ruangrupa, Jl. Tebet Timur Dalam Raya no.6, Jakarta 12820 selambat-lambatnya 10 Juni 2012.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi ruangrupa di:
Telepon : (021) 830 4220
Situs : www.ruangrupa.org
Facebook : Jarak Pandang
Twitter : @jarakpandang

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2012:
Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajar Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung.
Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon dan Pemimpin Umum Majalah Bung! ruangrupa.
Hafiz, Koordinator Pengembangan Seni Video ruangrupa dan Direktur Forum Lenteng.
Jemi Irwansyah, Pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia dan Peneliti di Pusat Kajian Politik UI.
Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.
Hilmar Farid, Pengajar Kajian Budaya di Universitas Indonesia dan kandidat PhD di National University of Singapore.

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2008-2011:
Agung Hujatnikajennong, Kritikus Seni dan Kurator, mengajar Seni Rupa di Institut Tekhnologi Bandung.
Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajarsSeni rupa di Institut Tekhnologi Bandung.
Antariksa, Peneliti dan Program Manager Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta.
Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon ruangrupa.
Aryo Danusiri, Pembuat film dokumenter dan kandidat PhD bidang antropologi visual di Harvard University.
Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan Bandung.
Bambang Sulistyo, Jurnalis Desk Seni dan Budaya Majalah GATRA.
Eric Sasono, Kritikus film, pendiri dan pengelola rumahfilm.org.
Farah Wardani, Kritikus Seni, Kurator dan Direktur Indonesian Visual Art Archive.
Hikmat Darmawan, Pengamat Budaya Visual dan Redaktur rumahfilm.org.
Ika Vantiani, Penulis dan banyak terlibat dalam pembuatan media massa non-mainstream.
Irwan Ahmett, Seniman dan Graphic Designer.
Iswanto Hartono, Seniman dan Arsitek.
JJ. Rizal, Sejarawan dan direktur penerbit Komunitas Bambu.
Prof. Dr. Melani Budianta, MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Prof. Dr. PM. Laksono, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada.
Prima Rusdi, Penulis Skenario dan Penggiat Film Indonesia.
Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.
Ugoran Prasad, Penulis prosa dan kritik seni pertunjukan, aktif di Teater Garasi dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Dr. Yasraf Amir Piliang, Pengamat budaya massa dan pengajar di Institut Tekhnologi Bandung.

Testimoni Peserta Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual 2008-2011:

Tiga hal yang saya dapat dari workshop ini: peluang mencintai seni rupa seperti saya mencintai Fisika dan Ilmu Politik, penghargaan pada rasa, dan sentuhan paling romantis dari segala jenis pendidikan: kekeluargaan.
– Arys Aditya, (Jember), Penulis lepas dan pengelola studi politik Rumah Baca Tikungan, Peserta Angkatan 2011.

Pembicaranya berasal dari berbagai macam bidang dan berpengalaman. Yang paling penting, saya berkesempatan terhubung dengan banyak orang unik dari beragam latar belakang. Jadi bersiaplah untuk dua minggu yang penuh gizi.
– Ibnu Nadzir (Jakarta), Peneliti PMB-LIPI, Jakarta, Peserta Angkatan 2011.

Kalau ada lagu yang cocok untuk momen workshop ruru, kayaknya “Lihat Kebunku”. Soalnya penuh dengan bunga, setiap hari kusiram semua, dan semuanya indah. Orang-orang di Ruru baik-baik dan lucu-lucu, lagi. Jadinya senang.
– Ardea Rhema Sikah (Bandung), Penulis dan pengasuh blog www.salamatahari.com, Peserta Angkatan 2011.

Saya merasa sebagai salah satu kelinci yang lolos dari percobaan workshop ini. Sekarang saya punya jarak yang cukup untuk memandang dunia seni rupa dan budaya visual kita.
– Grace Samboh (Yogyakarta), Penulis dan kurator seni rupa. Peserta Angkatan 2008.

Menyenangkan bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang pengalaman kesenian dan profesi untuk berbagi kegilaan.
– Mansyur Rahim (Makassar), Field Facilitator JICA Prima Kesehatan, aktif di Tanahindie dan Kampung Buku Makassar sebagai penulis dan peneliti. Peserta Angkatan 2008

Mengikuti workshop ini adalah pengalaman lintas disiplin yang mendebarkan tapi asyik. Saya menjadi berani menjelajahi tema-tema baru dalam menulis.
– Haris Firdaus (Solo), Jurnalis Majalah Gatra, Peserta Angkatan 2009.

Seni rupa dan budaya visual adalah ranah yang menjanjikan untuk dikaji lebih jauh oleh intelektual muda Indonesia. Workshop ini adalah salah satu kesempatan yang sangat langka karena tidak banyak diadakan.
– Ibnu Rizal (Depok), Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009.

Dua minggu yang paling solid dalam hidup gue. Pulang-pulang, IQ dan berat badan gue meningkat dari sebelumnya.
– Nastasha Abigail (Jakarta), Penyiar Trax FM Jakarta, Peserta Angkatan 2010.

Ada tiga hal yang membuat kita pintar menulis artikel senirupa dan budaya visual yaitu: rajin bertanya, banyak membaca dan tidur-tiduran di workshop ini.
– Christine Franciska (Jakarta), Jurnalis Bisnis Indonesia, Peserta Angkatan 2010.

Comments (0)

Seni Grafis Yang Demokratis

Tags: , ,

Seni Grafis Yang Demokratis

Posted on 15 May 2012 by jarakpandang

Seorang ibu membawa anak dalam pangkuan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain memegang tangan anak lainnya. Ibu itu menuju sebuah gerbang. Tepat di depan gerbang, belasan orang berkumpul, ada yang mengacungkan tangan, mebawa batu. Sebagian lagi menggenggam jeruji pagar tepat di depannya. Itulah sedikit gambaran mengenai karya Käthe Kollwitz dengan judul Storming the Gates, dibuat dengan teknik intaglio pada tahun 1897. Karya ini merupakan salah satu dari beberapa karya-karya klasik seniman grafis koleksi sang kurator, Tony Godfrey, dalam pameran seni grafis bertajuk Here and There, Now and Then yang terselenggara di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, 15 Maret – 15 April 2012 silam.  Karya-karya old master prints –dalam kalimat Godfrey– seperti Los Chinchillas, seri ke 50 dari karya berseri Francisco Goya yang sangat termasyur, Los Caprichos [1] ditampikan dalam pameran ini beserta karya-karya dari perupa Yogyakarta. Serta seniman di luar kota ini seperti Tisna Sanjaya –karena komitmennya yang kuat kepada Seni Grafis– serta FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini.

Hampir semua karya yang dipamerkan Here and There, Now and Then dicetak di atas kertas, dengan teknik dasar Intaglio. [2] Sedikit diantaranya menggunakan taknik cetak tinggi. Dalam catatan kuratorialnya, sebelum pameran ini diselenggarakan, Tony Godfrey sempat bertanya kepada beberapa seniman yang ia kenal di Jogja: apakah mereka pernah melihat karya-karya old master prints selain di dalam buku? Jawaban mereka adalah “tidak”. Setelahnya, ia membawa 180 karya-karya tersebut untuk mereka lihat secara langsung. Ia juga mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini berawal dari ketertarikannya melihat fakta bahwa: diatara seniman-seniman Jogja terdapat banyak diantaranya menempuh pendidikan dalam bidang seni grafis. Meskipun, kemudian beberapa diantaranya tidak kita kenal sebagai seniman yang intens berkarya dengan teknik cetak seni grafis.

Bisa diambil contoh ialah Ade Darmawan, saat ini ia lebih dikenal sebagai seniman conceptual art, karya-karyanya meliputi video dan obyek temuan. Bagaimana Menjadi Kaya, ialah judul karya Ade Darmawan dalam pameran ini. Dengan teknik cetak dalam (Intaglio), yaitu Etsa dan Aquatint, karya ini menampilkan gambaran tangan-tangan yang saling terhubung satu sama lain, dicetak dengan tinta hitam di atas kertas berwarna putih. Sebagian gambaran tangan dalam karya ini memegang kain yang juga mengeluarkan tangan. Lainnya memegang buku bahkan menjadi pijakan obyek orang pada dua telapak tangan. Ada keterkaitan diantara tangan-tangan tersebut. Bagaimana Menjadi Kaya dengan jelas menggambarkan prosesnya. Proses menjadi kaya, terkadang bisa didapatkan dengan instan, seperti tangan pesulap yang mengeluarkan benda dibalik kain penutup.

Selain itu, hasil cetakan yang gagal, yang dianggap tidak maksimal oleh pencetaknya, juga ditampilkan pada salah satu bagian tembok, tanpa bingkai. Hal ini memperlihatkan proses cetak setiap karya yang ditampilkan, bagaimana sebuah karya seni grafis tidak terhindar dari keterikatan teknik cetak itu sendiri. Hasil cetakan yang gagal biasanya berupa tinta yang tidak tercetak maksimal atau bergesernya bidang pelat yang menjadi matrix, sehingga imaji yang tercetak di kertas juga ikut bergeser.

***

Pada umumnya, karya-karya old master prints dicetak dengan jumlah edisi yang sangat banyak, bisa mencapai ratusan. Hal sedikit berbeda dengan di Indonesia dewasa ini. Dalam ketiadaan pasar seni grafis yang kuat di Indonesia, banyak diantara seniman grafis di Indonesia membuat karya grafis dengan meminimalisir jumlah edisi yang mereka cetak. Bahkan, banyak diataranya dicetak dalam jumlah satu edisi, di atas kain kanvas, dengan ukuran yang relatif besar untuk ukuran sebuah karya cetak seni grafis. Untuk orang-orang yang telah terbiasa mengamati karya-karya old master prints, ini merupakan hal yang samasekali absurd. Karena biasanya mereka melihat sebuah karya grafis dicetak dalam kisaran jumlah ratusan edisi. Bahkan para seniman grafis di Eropa dewasa ini, normalnya mencetak sebuah karya dengan jumlah edisi yang melebihi angka 50. Karena karya seni grafis secara spesifik diciptakan untuk menghasilkan karya dengan jumlah banyak.

Asumsi saya ialah, sedikit banyak hal ini memang berkaitan dengan kondisi pasar seperti yang telah disebutkan sebelumya. Sebuah karya seni grafis, jika semakin banyak memiliki edisi, tentu memiliki harga yang relatif lebih rendah sesuai dengan semakin banyaknya jumlah karya tersebut. Sangat wajar jika seseorang dengan pendapatan kelas menengah seperti Godfrey memiliki uang yang cukup untuk membeli karya-karya dari Francisco Goya dan Tiepolo, tapi tidak untuk karya Agus Suwage.[3]

Memang, hal ini adalah masalah klasik dalam seni grafis di Indonesia –selain kekhawatiran daya tahan kualitas kertas di Indonesia, yang telah menjadi rahasia umum. Untuk masalah terakhir, beberapa seniman mulai mengatasinya dengan menggunakan material kertas impor dengan kualitas tinggi. Seperti Tisna Sanjaya yang kerap menggunakan kertas Hahnemühle untuk setiap karya intaglio-nya. Kertas asal Jerman ini, selain memiliki kualitas sangat baik, dilengkapi dengan sertifikat keotentikannya pada setiap lembar kertas, serta ketahanan yang bisa mencapai lebih dari 100 tahun. [4] Selain itu, seniman asal Yogyakarta Bayu Widodo baru-baru ini menggunakan kertas Fabriano buatan Italia untuk beberapa karya screen printing, dalam pameran tunggalnya di Galeri ber.seni, Jakarta, 22 April hingga 20 Mei 2012. [5]

Masih menyoal kertas, sebenarnya di Indonesia sendiri terdapat beberapa kertas dengan kualitas cukup baik. Tinggal bagaimana kita memastikan perawatan terhadap kualitas kertas itu tetap diperhatikan. Karena, selain karya dengan material kanvas, di Indonesia sendiri terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa restorasi kertas. [6] Dalam perbincangan dengan Bambang Budjono beberapa waktu lalu di Fakultas Seni Rupa Insitiut Kesenian Jakarta, saya mendapatkan informasi jika di Balai Konservasi Jakarta terdapat tempat restorasi karya seni, termasuk kertas. Selain juga terdapat di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).[7] Tempat lain yang menyediakan jasa ini, ialah juga terdapat di Perpustakaan Nasional Indonesia, serta beberapa galeri swasta di Jakarta. Sangat menarik jika para seniman di Indonesia mulai memikirkan bagaimana mencari penyelesaian-penyelesain masalah seperti ini, bukan hanya seniman grafis, tapi seniman pengguna material kertas lainnya. Seperti seniman yang intens dengan teknik drawing di atas kertas.

Jika kita melihat jauh ke belakang, seni grafis sejak awal kemunculannya memang identik dengan jumlah karya yang relatif banyak, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan edisi. Karya-karya dengan menggunakan teknik seni grafis kerap ditemukan dalam ilustrasi buku-buku, dengan teknik cetak Intaglio; serta pada poster-poster dengan dominasi teknik Litografi. Sifatnya yang bisa digandakan seharusnya dapat dilihat sebagai kelebihan, bukan sebaliknya. Sifat reproduktifitas seni grafis ini tidak bisa disamakan dengan reproduksi. Resolusi International Congress of Plactic 1960 yang masih dipakai sampai sekarang, menerangkan bahwa karya seni grafis pada prinsipnya adalah karya orisinal dengan pertimbangan kerja tangan seniman berlaku di atas pelat cetak dan hasil cetakannya disetujui oleh seniman. Dalam seni grafis, setiap edisi memiliki nilai orisinal yang dijamin melalui pembubuhan tanda tangan seniman pada setiap hasil cetakan serta nomor urut cetakan. [8] Dengan ini, semestinya permasalahan mengenai orisinalitas karya sudah selayaknya ditinggalkan. Para pelaku ataupun penikmat karya seni grafis sudah seharusnya memahami bahwa ada prosedur dan standar konvensi dalam seni grafis seperti pencantuman nomor edisi termasuk artist proof dan test print, yang berlaku global dan tidak mengurangi nilai orisinalitasnya. Barangkali, dalam hemat saya, semangat yang harus dikedepankan dalam hal ini ialah, meminjam kalimat Luis Camnitzer –seorang professor dan seniman grafis kelahiran uruguay­: ini adalah bagian dari upaya demokratisasi seni.

Dalam pameran ini, upaya bermain-main dengan konvensi seni grafis, keliru kiranya jika dilihat sebagai sebuah rigiditas dalam berkarya dengan teknik cetak seni grafis. Sebaliknya, adanya penyegaran ketika kita diperlihatkan kepada karya seni grafis yang tidak berusaha mendekati pendekatan seni lukis pada umumnya –seperti kerap kali terlihat dalam karya-karya seni grafis di Indonesia dewasa ini: berukuran besar, dengan media kanvas dan dicetak dalam satu edisi. Dalam Here and There, Now and Then, ada semacam penolakan halus melalui bisikan yang riuh rendah, terhadap komodifikasi seni –utamanya dalam seni grafis– yang perlahan mengikis kedemokratisan pada setiap karyanya.

–Asep Topan, Mei 2012.

 

__________________

Catatan Kaki:

[1]Los Caprichos adalah 80 seri karya cetak aquatint dibuat oleh seniman asal Spanyol Francisco Jose de Goya yang dibuat pada kurun waktu 1797 sampai 1798. Karya-karya ini mengkritisi kondisi sosial masyarakat spanyol waktu itu, meliputi dominasi takhayul, ketidakmampuan penguasa, penurunan rasionalitas, dll.

[2] Intaglio adalah teknik cetak dalam seni grafis yang biasa juga disebut sebagai Cetak Dalam. Biasanya pelat tembaga atau seng digunakan sebagai bahan acuan utama, dan permukaan cetak dibentuk dengan teknik etsa, aquatint, engraving, drypoint, atau mezzotint.

[3] Godfrey, Here and There, Now and Then (2012) hlm. 1

[4] Lebih lengkap, bisa dilihat dalam situs resminya: http://www.hahnemuehle.com/site/en/169/home.html

[5] Lihat: http://www.berseni.com/event/bayu-widodo/

[6] Berasal dari istilah dalam bahasa Inggris: restoration. Untuk proses perbaikan sebuah karya seni. (restoration: the process of repairing or renovating a building, work of art, vehicle, etc., so as to restore it to its original condition, New Oxford American Dictionary, 2009)

[7] Bambang Budjono, pembicaraan pribadi, 2012. (Lebih lengkap mengenai restorasi di ANRI dapat dilihat dalam tautan ini: http://www.anri.go.id/4dm1n/data/artikel_data/0405279a865230ac0d51cc8c62a2d9d4.pdf

[8] Aminudin TH Siregar, Catatan Dewan Juri Trienal Seni Grafis II – 2009,  Menuju Perspektif Baru Seni Grafis Kita (Jakarta: Bentara Budaya Jakarta, 2009) hlm. 8.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement