Archive | July, 2011

Covergirl Dar(l)ing: Dari Ikon Budaya Pop  Hingga Penjahat Perempuan

Tags: , , , ,

Covergirl Dar(l)ing: Dari Ikon Budaya Pop Hingga Penjahat Perempuan

Posted on 20 July 2011 by jarakpandang

Oleh Ratih Sukma

Lebih dari sekedar kulit cangkang jejalan kata-kata dalam tulisan, sampul majalah merupakah salah satu tonggak kultur visual yang berperan kuat dalam penciptaan makna dan emblem sikap hidup, sebuah pernyataan visual atas kecantikan atau faktor gegar, semacam kartu pos dari sebuah dunia asing yang menggairahkan[1]. Masyarakat membeli majalah karena ingin menjadi bagian dari dunia yang dikonstruksikan, dan diam-diam berharap seni sampul muka dapat menyalurkan mimpi-mimpi tiap-tiap pembacanya.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Berziarah ke “Hujan Bulan Juni”

Tags: , , , , ,

Berziarah ke “Hujan Bulan Juni”

Posted on 17 July 2011 by jarakpandang

Oleh Winda Anggriani

Rintik hujan belum lagi berhenti. Pria berkacamata bening, bertopi, berpayung gelap, berwajah mirip Sapardi muda, berjalan sendiri. Seketika langkahnya terhenti. Sorot matanya nanar, menatap sendu pemandangan di depannya. Di jalanan pekuburan yang basah itu, seorang laki-laki dilihatnya tengah membantu seorang perempuan berkerudung keluar dari mobil untuk menaiki kursi rodanya. Puan dibimbing lelaki tadi untuk menyusuri area pekuburan yang sepi berlatarkan hujan. Sapardi hanya terdiam, raut wajahnya menyiratkan hatinya amat tersentuh. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi

Tags: , , , , ,

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi

Posted on 16 July 2011 by jarakpandang

“sabar ya nak, sebentar lagi kita dapet duit kok..” (Prasetyo Utomo)

Oleh Rizki Ramadan

Seorang ibu dan anak yang masih balita sedang terduduk di trotoar dengan pakaian yang lusuh tanpa alas kaki. Botol susu dan sebuah tas ada di sekitarnya.  Si anak terlihat sedang asik dengan benda yang dipegangnya, sepertinya sebuah plastik. Ia maju ke tepi trotoar menjauh dari jangkauan ibunya. Sementara sang Ibu mencoba meraihnya. Dalam foto yang berlatar waktu malam ini trotoar ditempati di kanan, mengisi setengah komposisi. Di luar trotoar adalah jalan raya. Terlihat beberapa pasang kaki wanita berjalan di jalan. Juga seorang pengendara motor yang sedang menepi. Mereka berpakaian rapih. Kontras dengan keadaan si Ibu dan anak yang menyedihkan. BACA SELENGKAPNYA

Comments (2)

pakyu3

Tags: ,

BMW, Bajaj Mer(i)ah Warnanya

Posted on 09 July 2011 by jarakpandang

 

Oleh Ardea Rhema Sikah

 

Mau pergi naik ape?”

“BMW.”

“Gaya bener lu. BMW dari mane?”

“Entu, Bang, Bajaj Merah Warnanya …”

TAK JEDES!

Karena sudah berulang kali diceritakan, mungkin lelucon ini sudah kehilangan kelucuannya. Tetapi Si Bajaj Mer(i)ah Warnanya yang meriah pula warna ceritanya itu, masih abadi seperti Highlander. Di tengah isu-isu akan dimusnahkan, permasalahan teknis karena mesinnya yang tak lagi diproduksi, dan persaingan ketat dengan transportasi lain, bajaj klasik bertahan hidup secara menakjubkan. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

‘Semuanya Ok’ dengan ‘Membaca’ tanpa ‘Menabrak’

Tags: , , , , , , ,

‘Semuanya Ok’ dengan ‘Membaca’ tanpa ‘Menabrak’

Posted on 07 July 2011 by jarakpandang

Salah satu adegan dari film Iqra - Ari Satria Darma

Oleh Manshur Zikri

 

“Gagasan-gagasan besar Eropa masuk ke Hindia Belanda sebagai ide tanpa landasan materialnya, sementara barang-barang teknologi Eropa masuk sebagai materi tanpa sejarah idenya.” (Ronny Agustinus)

Pernah terjadi diskusi dadakan di sebuah meja tongkrongan tentang perkembangan tradisi intelektual di Indonesia, khususnya di bidang seni rupa. Dalam diskusi itu, banyak pihak yang berpendapat bahwa kultur perkembangan intelektual Indonesia adalah “meloncat-loncat” dan ini menjadi kecenderungan para seniman muda masa kini dalam berkarya. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Review Kuliah Umum PM Laksono: Televisi Sebagai Pengikat Relasi Sosial  Lewat Suara dan Gambar

Tags: , ,

Review Kuliah Umum PM Laksono: Televisi Sebagai Pengikat Relasi Sosial Lewat Suara dan Gambar

Posted on 06 July 2011 by jarakpandang


*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review kuliah umum PM. Laksono tentang Antropologi Visual, disampaikan pada Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Oleh: Winda Anggriani

Di luar, langit begitu cerah. Suasana di ruangrupa pun terasa riuh. Para peserta workshop seni rupa dan budaya visual sedang asyik berbincang, ketika seorang pria paruh baya yang simpatik itu memasuki muka ruang workshop. Beliau menyapa dengan ramah. Tanpa banyak basa-basi, guru besar Universitas Gajah Mada itu mampu mencuri perhatian semua yang hadir di ruangan tersebut dan langsung membahas materi yang telah dirangkumnya dalam bentuk presentasi powerpoint. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Review Sesi Artist Talk: Bincang-bincang dengan Anggun Priambodo

Tags: , ,

Review Sesi Artist Talk: Bincang-bincang dengan Anggun Priambodo

Posted on 06 July 2011 by jarakpandang

anggun priambodo di Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2011 @ruangrupa

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review sesi artis talk Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Oleh Sita Magfira

“Mungkin ada sesuatu di masa kecil lu yang bikin lu kayak gini sekarang.”

Dari semua pernyataan Anggun Priambodo saat mengisi sesi artist talk, pernyataan itulah yang saya rasa paling wow. Pada Kamis di penghujung Juni itu, Anggun yang berkaus hijau dan bercelana abu lengkap dengan topi dan kacamata bingkai besar tak hanya berbincang tentang karyanya. Tapi juga berbagi cerita tentang hal-hal di masa lalunya yang membuatnya menjadi seniman. “Wahyu” untuk menjadi seniman konon mendatangi Anggun setelah ia mendapat kado buku berisi lukisan-lukisan dari ayahnya. Dan sejak SMA, Anggun sudah yakin untuk menjadi seniman. Soalnya, Anggun yakin menjadi seniman merupakan sesuatu yang menyenangkan, sebab bisa memikirkan sekaligus membuat karyanya sendiri. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement