Archive | June, 2010

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Tags: , , , , ,

Toko Keperluan

Posted on 08 June 2010 by jarakpandang

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Oleh : Haris Firdaus*

Dari luar, toko seluas 5 x 4 meter itu tampak sederhana. Dindingnya yang terbuat dari triplek berlapis potongan kayu itu dibiarkan polos, tanpa cat sama sekali. Pintu kaca di depan toko itu terlihat kurang serasi dengan tubuh bangunan. Di samping kanan toko tersebut, tergantung sebuah neon box yang memancarkan cahaya putih.

Berlainan dengan suasana di luar yang kelihatan sederhana, kondisi di dalam toko terasa meriah. Deretan barang aneka macam dipajang dengan warna-warna mencolok. Ada sebuah bola sepak dan lampu badai tergantung di langit-langit, seikat bibit singkong tergeletak di samping pintu masuk, dan sejumlah kaos dan tas tergantung di dinding bagian belakang.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Perjamuan  Kontemporer

Tags: , , , ,

Perjamuan Kontemporer

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Afra Suci Ramadhan

Yang menarik dari ‘reka ulang’ scene penting ini dalam karya Pramuhendra adalah penggambarannya dalam berbagai angle dan  sudut pandang. Selain itu, kehadiran Yesus dan para pengikutnya digantikan oleh Pramuhendra sendiri. Setiap gestur dan ekspresi tokoh dalam peristiwa itu dihadirkan dengan baik oleh penggambaran dirinya.

Setelah menggelar pameran seni persahabatan antara Perancis dan Indonesia, Galeri Nasional kembali menghadirkan sebuah pameran seni kontemporer di bulan Juni ini. Kali ini, seluruh karya berasal dari Indonesia, selain itu pameran ini juga lebih spesifik bertemakan “Indonesia Contemporary Drawing”. Terus terang, selama tahun 2009 saya belum pernah menghadiri pameran seni dengan jumlah karya sebanyak ini kecuali Biennale. Ketika datang pada acara pembukaannya, banyaknya karya dan para tamu sangat mempengaruhi ketekunan dalam mengamati karya-karya di dalamnya. Namun, di hari pertama tersebut, mata saya terpaku pada karya J. A. Pramuhendra yang berjudul “Divided and Fold”. Meskipun saya belum pernah melihat karya-karya Pramuhendra sebelumnya, saya tahu bahwa lukisan ini berangkat dari karya agung Leonardo Da Vinci “The Last Supper”. Hingga akhirnya, rasa penasaran  pada Pramuhendra mengantarkan saya pada karya-karyanya yang lain (thanks to ‘Godgle’). Saya baru tahu kemudian, jika karyanya tersebut hanya salah satu dari rangkaian karya “The Last Supper” versinya .

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Intertekstualitas dalam Seni Rupa: Impresionisme, Voyeurisme…

Tags: , , , , ,

Intertekstualitas dalam Seni Rupa: Impresionisme, Voyeurisme…

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh :  Ibnu Rizal

Kita sepakat bahwa sebuah karya seni rupa dapat ditempatkan atau diposisikan sebagai sebuah dokumen budaya, sebuah teks yang dapat dibaca, ditelaah dan diuraikan unsur-unsur yang dikandungnya. Sebagaimana halnya karya sastra, atau seorang arkeolog yang memposisikan sebuah artefak batu ribuan tahun silam sebagai sebuah teks, begitu pula sebuah karya seni rupa sebagai sebuah produk budaya, kiranya dapat ‘dibaca’ dan dimaknai dalam kerangkanya sendiri.

Jika kita sepakat bahwa seni rupa dapat dibaca dan diperlakukan sebagai teks, maka kita juga harus bisa menerima ciri-ciri yang menandakan sebuah teks, salah satunya adalah intertekstualitas. Intertekstualitas adalah konsep yang menegaskan bahwa sebuah ‘teks’ (ia bisa saja berupa karya sastra, sebuah prasasti batu, sebuah repertoar musik, konstuksi arsitektur atau sebuah lukisan di galeri) tidak lahir dari kekosongan. Sebuah karya (teks) tidak muncul begitu saja, terlepas dari karya-karya yang telah ada sebelumnya (keterkaitan). Ia adalah tanggapan dari apa yang telah dan akan terjadi.

Keterkaitan antara satu karya dengan karya lain dapat dilihat dari banyak aspek, salah satunya adalah genre atau, dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, disebut aliran (meskipun dalam kasus tertentu kedua istilah ini tidak bisa dikacaukan). Salah satu aliran yang terkenal dalam khazanah seni rupa (khususnya seni lukis) Eropa adalah impresionisme. Impresionisme pertama kali muncul di Prancis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia merupakan tanggapan atas aliran realisme dan naturalism (yang merupakan perkembangan dari aliran romantisisme) yang penuh aturan ketat dan norma-norma.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

siswi berjilbab

Tags: , , ,

Seragam Sekolah: Penyeragaman dan Perlawanan

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Haris Fidaus

Bentuk visual pakaian yang sehari-hari kita kenakan tidak hanya berkait dengan aspek fungsional saja. Ada makna-makna kultural dan kadang-kadang politis yang melekat pada busana yang kita pakai. Jenis pakaian apapun, termasuk seragam sekolah, memiliki relasi penting dengan kebudayaan, terutama identitas yang muncul dari tata nilai tertentu.

Pada masa kolonial, murid-murid STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen)—sebuah sekolah pendidikan dokter khusus untuk pribumi—diharuskan memakai pakaian tradisional daerah masing-masing saat bersekolah. Mereka dengan tegas dilarang berpakaian ala orang Eropa, meski pendidikan yang mereka dapatkan sebenarnya sama dengan orang Eropa. Larangan memakai busana yang bergaya Eropa merupakan upaya pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mencegah para murid pribumi itu secara visual “sama”dengan orang Eropa.[1]

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

grid cell topology

Tags: , , , ,

Crash! : Image Factory

Posted on 01 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Ibnu Rizal

Kota dan ruang yang kita tinggali ini, menyuguhkan begitu banyak kegaduhan, kebisingan. Segala gambar dan segala getar terpapar dalam hiruk-pikuk yang begitu cepat.

Setiap hari, imaji-imaji berbenturan di kepala, menari-nari, membelah diri, juga suara dan segala bunyi, meledak, beranak-pinak. Kita saksikan dalam sekotak televisi sebuah acara pidato presiden dapat segera tergantikan dengan jerit-tangis acara reality show, kemudian gelak tawa para penonton menyaksikan acara komedi murahan, kemudian suara ledakan dari sebuah liang kubur yang menganga dan pocong yang bangkit dari dalamnya, kemudian iklan operator selular lokal yang menampilkan band-band yang tengah digandrungi, kemudian pekik khotbah sebuah acara tabligh akbar yang disiarkan secara langsung, kemudian isak tangis para jamaah dalam alunan muhasabah, kemudian iklan kontrasepsi rasa stroberi, kemudian kita mendapati betapa segala imaji, segala bunyi begitu kehilangan kendali.

Crash Project : Image Factory, pameran kolektif 20 seniman muda yang dikuratori oleh Asmudjo Jono Irianto (berlangsung di Galeri SIGIarts, 13-28 Maret 2010), dengan segenap kesadaran para senimannya, memang hendak mereproduksi dan meredefinisi imaji-imaji yang berserakan di ruang-ruang yang kita akrabi.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement